
At DARMAWANGSA
Hari ini adalah hari kembalinya kami anak SMA DARMAWANGSA ke sekolah. Pagi ini aku sangat semangat berangkat ke sekolah, setelah beres sarapan kami berempat bergegas ke sekolah.
Sesampainua di sekolah aku dan Lesya berjalan di koridor sekolah sambil berbincang santai.
Saat mencapai belokan menuju le kelasku di lantai atas. Aku pun berbelok tapi
Buggg
Sialan, siap sih pagi pagi ngajakin ngereoog aja. Hadeh
" Woi jalan pake mata dong, sakit nih pantat gue anj**g " umpatnya kasar.
Sesaat aku perhatikan betnya, sialan banget anak baru udah bertingkah.
" Coba loe ulangin ucapan loe tadi, yang terakhir, mulut loe busuk banget sih bangsat. Loe baru 5 hari gabung di DARMAWANGSA udah bertingkah loe sialan. Gue nggak sengaja nabral loe, lagian loe itu lari. Ngapain coba lari. Kayak di uber guguk aja loe " balasku emosi.
mendengar keributanku dan anak baru tersebut. Teman temanku dan anak DARMAWANGSA lainnya langsung menghampiri kami.
" Woi Bry! Elah pagi pagi dah ngereog aja loe sat, ada apa sih, ada apa dengan anak baru ini Bry " celetuk Aura.
" Tau gue! Dia lari dari arah sana dan gue pas mau belok jadi enggak sengaja nabrak. Cuman gue nggak terima elah, lambenya itu loe busuk banget " ujarku sewot.
" Mang dia ngomong apa sih Bry sampe loe ngereog kayak gini. Biasanya loe tenang bae kagak pernah dalam kondisi senggol bacok kayak gini " ujar Yasmin.
" Kalo gue pulangin kata katanya ke loe pada, kira kira marah nggak. Dia bilangin gue anj**g ,anj**g guys. Marah nggak loe " ujar Bryanda emosi.
" Wah! Lambe loe kasar banget bangsat, enggak sopan loe sama senior. Cari mati loe " emosi Aura.
" Emosin kan loe,emosilah. Anak baru banyak tingkah, merasa kaya loe. Sampe berani ngomong kasar sama gue. Seberapa kaya sih loe, penasaran gue loe anak keluarga mana hah! Kenalin gue anak Allinsky, loe anak keluarga mana " ujar Bryanda kesal.
Lama aku mendengar jawabannya, tampaknya gadis itu syok karena banyak yang mengomelinya. Dasar bocil urakan.
__ADS_1
" Diam kan loe! Lain kali jangan ngomong kasar, apalagi gue senior loe, tolong hargai penghuni lama di DARMAWANGSA ini, kalo mau sekolah dengam tenang. Ngerti loe " ujarku datar.
" nger..ti kak! Maaf kak, aku refleks ngomong kayak gitu " ujar gadis itu yang sudah mulai terisak.
" Dah lah! Lain kali hati hati sama mulut loe. Karena bisa aja loe jadi buruan yang lainnya karena mulut loe pedas kayak mi pedes level 10 tau nggal " ujarku malas.
" Iya kak! Maaf " ujarnya pelan.
" Dah bubar, dramanya dah kelar " ujar Bryanda sambil mengajak yanglainnya ke kelas.
" Yah kok udaham sih Bry, gue baru mau natar nih junior. Main udahan aja loe, elah nggak seru loe Bry " sewot Audry kesal.
" Sengaja gue bubarin, biar loe nggak kesenangan karena pagi pagi dah ada anakn bocil yang bertingkah " ledek Bryanda.
" Nggak lucu tau nggak, gara gara gue buru buru ke sini. Gue ninggalin mie ayam bakso gue yang lezat biar bisa bantuin loe natar anak baru. Malah di bubarin, rugi banyak gue " protes Audry.
" Lah mangnya gue ada nyuruh loe ke sini dsn ninggalin mie ayam bakso loe yamg lezat itu nyet . Elah gemes gue sama loe Dry " ujar Bryanda sebel
" Hehehee! Enggak ada yang nyuruh sih tapi jiwa kepahlawanan gue memanggil buat bantuin loe ngadepin nih nocah " ujar Audry cengengesan.
Tarlihat mereka diam diam menahan tawa merela supaya tak meledak. Membuatku memutar bola mata malas.
" Dih! Kalo mau ketawa, ketawa aja. Enggak usah di tahan " ujarku sewot.
Tak lama kemudian terdengarlah tawa yang sangat tak berprikprihatinan sama sahabat dan nini sendiri, ditambah lagi sepupu enggak ngotak.
" Hahahahaha! Gila Bry, loe pagi dah mode senggol bacok aja, bikin rusuh aja " ujar Sam geli
" Hahahan iya, bisa kena mental tuh bocil " Kesya ikutan komentar.
" Hahhhaan! Dah lama nggak liat loe ngamuk bab. Sekali ngamuk. DARMAWANGSA langsung gempar " ujar vamao heli.
" Abisnya nyebelin sih, yuk lah ke kelas. Nyari nama dan kelas kita " ajak Brryanda pada ketiganya.
__ADS_1
Saat melewati mading, kami pun bertemu dengan teman teman yang sedang melihat nama mereka dan kelas yang akan mereka tempati.
Aku pun begabung dengan mereka untuk melihat namaku dan yang lainnya.
Saat sedang melihat nama nama kami, tiba tina ada pengumuman dari ruang kesiswaan kalo aku di suruh menghadap.
Cih! Bocil sialan, gue yakin pasti ada sangkut pautnya denganasalah barusan. Baru kali ini aku di panggil bagian kesiswaan.
Aku pun dengan santai pergi ke ruang kesiswaan. Sesampainya di sana aku melihat kedua orang tua anak junior yang sampai sekarang belum aku ketahui namanya siapa. Aku melihatnya karena pintu terbuka.
Toookkk
Toookkk
Aku mengetuk pintu terlebih dahulu untul kesopanan.
masuk
Aku mendengar suara Ibu Siska menyuruh masuk.
Aku pun masuk ke dalam.
" permisi bu! Ibu manggil saya " tanyaku basa basi.
" Eh iya Bry! Ini ada anak junior yang.mengadu katanya baru saja dibuly sama kamu sampe nangis. Apa betul " tanya bul Siska.
" Oh! Sebenarnya bukan membuly sih buk tapi lebih tepatnya mengajari supaya dia bisa pake mulutnya dengan sopan,apalagi sama senior. Saya nggak suka buk dia ngomong lassr sama saya ya saya marahin lah. Ya kali saya diam aja di katain. Sekarang ibu saya tanya, ibu marah nggak di katain anjing sama orang yang di bawah ibu " tanya ku tenang.
" Hah! Kamu dikataim sekasar itu Bry, ya ampun. Ya jelas lah senior mu marah Dea,ini Bryamda ini enggak pernah ribut kalo enggak ada sebabnya. Kamu itu baru beberapa hari di sekolah ini sudah berani mengumpat kasar seniormu. Sudah jelaskan pak buk, siapa yanh salah. Jadi masalah ini saya anggap sudah selesai " ujar bul Siska.
" Tidak Bisa buk,tetap saya tak terima anak saya di maki maki. Saya saja tidak pernah. Memakinya, ini bukan siapa siapa seenalnya memaki putri kesayangan saya " protes orang tua murid pada bul Siska.
" Kalau bapak masih protes silahkan tapi bapak yakin siap bertemu keluarga Allinsky. Karena anak bapak berurusan dengan keturunan Allinsky " ujar Buk Siska tenang.
__ADS_1
" App..a! Allinsky, duh kok enggak bilang dari tadi. Maaf non, non namanya siapa ya. Saya tidak tau siapa non, sekali lagi maaf non sudah tidak sopan " ujar orang tua murid tersebut yang aku tau bernama bapak Anton.
Ah dasar penjilat