PENGANTIN REMAJA

PENGANTIN REMAJA
Masalalu Sultan 2


__ADS_3

"Bukan cuma itu, besoknya Citra juga langsung minta cerai."


"Yaampun!" lirih Zeela sembari menutup mulut dengan kedua tangannya.


"T-terus kak Clara gimana?"


#Flashback on....


Sultan terjaga dari lamunannya, pria itu memijat keningnya yang terasa berdenyut, ngantuk bercampur pusing menjadi satu, karena semalam ia hanya tidur beberapa jam saja, terlebih ia sangat kelelahan setelah mencari Citra yang ternyata tidak pulang kerumah orang tuanya.


Entah kemana istrinya itu pergi.


Ia menyibak selimut, turun dengan langkah sempoyongan meraba dinding memasuki kamar mandi, lima belas menit kemudian ia keluar dan bergegas mengenakan pakaian santainya.


Hari ini ia akan mencari Citra kembali dan membawanya pulang walau harus dengan cara memaksa sekalipun.


Sultan bukan tipe pria yang peduli pada apapun, tetapi ia paling peduli dengan peasaannya sendiri.


Ia melangkah tergesa dari kamar menuju teras, namun sebelum kakinya menggapai teras ia menghentikan langkah saat mengetahui jika gadis yang ia cari kini berada dihadapannya.


"Citra?"


"Aku ingin kita bercerai." ucap Citra tanpa basa-basi terlebih dulu, gsdis itu bergerak satu langkah menyodorkan sebuah map coklat ketangan Sultan, membuat dahi pria tersebut berkerut bingung.


"A-apa ini?"


"Tanda tangani aja, setelah itu urusan kita selesai."


"Nggak, jangan mimpi kamu Cit, aku udah berkorban banyak buat kamu, jadi kamu nggak bisa pergi begitu aja dari aku."


Citra berdecak, lalu tawa sinis terukir dari bibirnya, "Berkorban untuk apa, dan untuk siapa? untuk diri kamu Ckkk, benar! tapi disini posisinya aku yang dikorbankan, kamu menyakiti perasaan aku disaat aku baru aja sah jadi istri kamu."


"Soal itu aku minta maaf Cit, aku khilaf!"

__ADS_1


"Khilaf, kamu bilang? dengan membuat wanita itu hamil Ckkk, sangat tidak bisa dimengerti."


"Cit, please!" Sultan berusaha meraih tangan Citra namun ditepis gadis itu dengan gerakan cukup kasar.


"Aku bisa memaafkan semua kesalahan Tan, tapi tidak dengan pengkhianatan."


"Tapi_"


"Aku mau kamu menikahi wanita itu."


"Kamu udah gila ya? mana mungkin aku nikahin cewek yang bahkan nggak aku cintai Cit."


"Aku nggak peduli kamu cinta atau nggak, yang jelas kamu harus bertanggung jawab, karena saat ini dia sedang mengandung anak kamu."


''Sorry, aku harus pergi!"


"Cit, Citra?"


"Arggghhh...." Sultan menyugar kasar rambutnya, dan menendang apapun yang ada disekitarnya.


"Citra ma."


"Citra kenapa, dimana dia? udah ketemu?"


"Dia pergi, dia mau cerai dari aku ma." ucapnya sambil menangis.


"Shhtt... kamu yang sabar ya Tan, mama tahu ini berat."


"Papa rasa keputusan Citra itu adalah yang terbaik, ya meskipun papa tahu kalau sebenarnya dia juga berat mengambil keputusan ini, tapi Tan walau bagaimanapun kesalahan kamu itu terlalu fatal, selain itu kamu benar-benar membuat malu keluarga, kamu tahu? Oma bahkan sampai syok mendengar ini."


"Jujur papa sendiri benar-benar malu Tan, mau di taro dimana muka papa?" sambung Arthur dengan emosi yang meluap-luap.


"Nggak bisa begitu dong pa, kamu nggak bisa sepenuhnya menyalahkan Sultan, kemarin kan dia juga udah minta maaf dan mengakui kesalahannya." bela Dara.

__ADS_1


"Nah ini dia nih, kamu ini terlalu memanjakan dia makanya dia tumbuh menjadi lelaki berengsek, dan nggak berguna seperti ini."


"Pa??" sentak Dara, "Jangan sembarangan mengatai Sultan, aku ini ibunya dan aku nggak terima kamu mengatai dia seperti itu."


Tak lagi mengatakan apapun, Arthur pun meninggalkan keduanya untuk meredakan emosinya yang masih menggebu.


*


"Cewek sialan!" maki Sultan, saat Clara terus-menerus menelponnya sore ini.


Tidak kah wanita itu tahu jika saat ini ia tengah pusing memikirkan bagaimana caranya supaya Citra mau kembali dan memaafkannya.


"****!" umpatnya, lalu mengirimi gadis itu pesan bahwa hari ini ia ingin bertemu dengannya ditempat biasa.


Dan disinilah keduanya kini disebuah taman sepi yang biasa mereka datangi ketika Sultan mengajaknya untuk kencan.


"Ini apa kak?" tanya wanita polos yang saat ini tengah berbadan dua itu dengan wajah menengadah menatap Sultan yang tentu jauh lebih tinggi darinya.


Tangannya bergetar memegangi selembar kertas yang tentu ia sendiri tahu apa maksud kertas tersebut.


"Kamu bisa lihat kan kalau disitu tertulis angka yang cukup fantastis! dengar cewek miskin, aku nggak sudi menikahi kamu, karena cintaku hanya untuk Citra seorang!"


Deg!


"Apapun caranya, jangan buat dia hadir dihadapanku." lanjutnya, sembari memegangi kedua sisi bahu wanita itu dan menekannya dengan cukup kencang, hingga membuat ia meringis dan dipenuhi perasaan takut.


"W-waktu itu kakak bilang, kakak mencintaiku kan?"


Sultan menyunggingkan senyum, "Bodoh!"


"Gadis bodoh seperti dirimu memang sangat mudah untuk ditipu, hei dengar! aku hanya menginginkan tubuhmu tidak lebih dari itu, jadi jangan harap kamu bisa menyeretku untuk menjadi ayah dari anak kamu."


"Lenyapkan dia, dan jangan pernah coba-coba untuk menemui ku lagi, mengerti? atau aku akan menghancurkan keluargamu."

__ADS_1


*


*


__ADS_2