
Pagi ini Langit masih terlihat begitu gelap, membuat udara terasa lebih dingin, terlebih saat angin mulai berhembus yang dinginnya terasa menusuk hingga ketulang.
Zeela merapatkan tubuhnya, dengan kedua tangan yang melingkar memeluk tubuh Arjuna dari belakang.
Entah urusan seperti apa yang akan suaminya lakukan sehingga membuat mereka harus berangkat sekolah sepagi ini.
Beberapa menit kemudian, Arjuna menepikan motornya didepan sebuah Restoran Minang yang memang selalu buka dua puluh empat jam seperti biasanya.
Keadaan didalam sana masih cukup sepi hanya ada empat orang karyawan yang tampak bersantai sembari merapikan jejeran bangku dan meja yang masih kosong.
"Ar mau ngapain?" tanya Zeela saat melihat suaminya hendak memasuki Restoran Minang tersebut dengan langkah lebarnya.
Arjuna menghentikan langkahnya, lalu menoleh kearah Zeela, "Mau berenang! ya makanlah emang mau ngapain lagi." menjawab ketus, kemudian melanjutkan langkahnya, sementara dibelakangnya Zeela menggerutu dengan bibir mengerucut.
"Gue tahu Lo kedinginan, makanya gue ajak kesini." Arjuna menarik tangan Zeela menuju salah satu meja yang berada dideretan paling depan.
Tak lama seorang pelayan resto menghampiri dengan membawa selembar menu ditangannya, "Mau pesan apa dek?" tanyanya ramah, yang dijawab oleh Arjuna dengan wajah datarnya menyebutkan beberapa menu makanan untuk dirinya dan juga Zeela.
Setelah makanan tersaji, pemuda itu tampak tenang menyantap makanan miliknya tanpa bersuara.
Zeela akui disaat pemuda itu sedang makan pun bahkan ketampanannya sama sekali tidak berkurang, namun sayangnya Zeela tak tertarik, karena sampai kini hatinya masih terisi dengan satu nama yaitu Sultan.
Entah sampai kapan perasaan itu ada, namun Zeela berharap secepatnya perasaan itu akan menghilang.
"Ar?"
"Hmmm." Arjuna mengangkat kepalanya, kemudian menatap Zeela yang ia sadari bahwa sedari tadi gadis itu hanya mengaduk-aduk makanannya seperti tak berniat untuk memakannya sama sekali.
"Sebenarnya Lo mau kemana sih, kenapa kita harus berangkat pagi-pagi buta begini?" ucap Zeela sembari menatap keluar resto yang masih cukup gelap, bagaimana tidak! saat ini jarum jam baru saja mengarah ke angka empat lewat tiga belas.
"Gue ada urusan." jawabnya singkat, dan kembali menikmati makanannya.
"Urusan apa?"
"Harus ya gue kasih tahu."
Zeela men desah, "Nggak harus kok." jawabnya sesantai mungkin, Zeela sadar posisinya saat ini hanya sebagai istri yang terpaksa dinikahi.
"Nggak usah manyun, tambah jelek tuh muka."
"Biarin Ihs."
"Hari ini gue nggak masuk sekolah, tapi gue usahain gue jemput Lo tepat waktu."
"Kalau mama tahu mama pasti bakalan marah lho Ar."
"Nggak akan, mana peduli dia soal gue yang mau bagaimana dan melakukan apa, Lo tenang aja."
"Kenapa Lo mikirnya gitu."
"Ya karena emang kenyataan nya begitu."
"Ar_"
__ADS_1
"Gue udah selesai, Lo cepetan habisin makanannya." Arjuna mendorong piringnya yang telah kosong, sementara Zeela terpaksa memakan makanannya walaupun hanya bisa ia makan setengahnya saja.
*
Setelah mengantar Zeela dan memastikan gadis itu selamat sampai sekolahnya, Arjuna memutar arah menuju sebuah perumahan yang baru sekali ia datangi.
Arjuna turun dari motornya tepat didepan rumah bercat pink kombinasi putih dengan ukuran yang paling besar diantara rumah yang lainnya.
Sesaat ia mematung menatap bangunan dihadapannya yang tidak ada bedanya dari sejak lima tahun yang lalu.
Belum sempat kakinya melangkah menuju teras, didepan sana pintu sudah terlebih dulu terbuka, bersamaan dengan menyembulnya seorang wanita paruh baya yang ia ketahui bernama Rahayu dan seorang anak kecil dalam gendongannya.
"Bu, apa kabar?" Arjuna menunduk sopan, sembari mengatupkan tangan didepan dada.
"Kamu_" wanita itu tampak kebingungan, dan terlihat sedang berpikir keras mengingat wajah Arjuna yang menurutnya tak lagi asing.
"Saya_ Arjuna Bu! yang dulu pernah datang kesini menemani kak Alya melahirkan." jelasnya, meluruskan kebingungan wanita tersebut.
"Oh iya saya ingat, ayo masuk-masuk." Rahayu tersenyum dan menyuruhnya untuk duduk diruang depan.
"Kebetulan sekali nak Arjuna datang kesini, ibu malah sedang tidak memiliki cemilan apa-apa." ujar Rahayu merasa tak enak, sembari meletakkan secangkir teh dihadapan Arjuna.
"Tidak masalah Bu, saya kesini hanya ingin bertemu kak Alya dan juga Syifa, bagaimana kabar mereka?"
"Ini Syifa, dia sudah besar." merangkul Syifa yang sempat kabur keruang TV, saat melihat kedatangan Arjuna tadi.
"Syifa Salim sama om gih."
Gadis kecil bermata bulat itu menurut, mendekati Arjuna sembari mengulurkan tangan mungilnya.
"Syifa om."
Arjuna membungkuk mensejajarkan tubuhnya agar seimbang dengan tubuh mungil Syifa.
"Mau tahu nggak nama om siapa.?"
"Siapa emangnya?"
"Kenalin, om namanya om Arjuna."
"Ibu juga punya teman namanya om Arjuna juga."
"Oh iya."
"Iya, kata ibu om Arjuna itu orangnya baik banget, soalnya sering ngirimin uang buat jajan Syifa."
Arjuna tampak terkekeh, seraya mencubit pelan pipi gadis kecil dihadapannya yang menurutnya benar-benar sangat lucu dan menggemaskan.
"Syifa udah ketemu belum sama om Arjuna teman ibu."
"Belum sih."
"Kalau misalnya Syifa ketemu, mau bilang apa sama om Arjuna nya?"
__ADS_1
"Euumm.. mau bilang makasih."
"Buat?"
"Buat uangnya dong om, kan tadi Syifa udah bilang om Arjuna teman ibu suka ngirimin Syifa uang."
Jawaban polos Syifa membuatnya benar-benar gemas sendiri, pemuda itu tersenyum sembari mengacak rambut Syifa beberapa kali.
"Ibu nya ada nggak,?"
"Ada, ibu lagi melukis dibelakang, om mau ketemu sama ibu Syifa? ibu Syifa cantik lho om."
"Yasudah om nya diajak kebelakang dek, tunjukkan tempatnya om kan nggak tahu." Rahayu menimpali.
"Baik Oma."
"Ayok om." ajaknya yang berlari kecil terlebih dulu.
"Let's go."
"Itu dia ibunya om." Syifa menunjuk kesudut taman yang berada dibelakang rumah.
Disana seorang wanita tampak fokus mewarnai gambar yang hampir delapan puluh persen jadi.
"Ibuuu!" teriak syifa sembari berhambur memeluk ibunya.
"Eh anak cantik, ada apa nih?"
"Itu lho Bu, ada om Arjuna mau ketemu sama ibu katanya."
"Om Arjuna siapa sih dek?"
"Itu." telunjuk kecilnya mengarah kearah Arjuna yang berdiri tak jauh dari mereka, membuat Alya mengikuti arah telunjuk mungil tersebut.
Disana Arjuna tersenyum canggung, namun didetik berikutnya pemuda itu melangkah semakin dekat.
"Kak Alya, apa kabar?"
"Eh kamu Ar, beneran datang kesini, aku kira cuma bercanda doang lho kemarin." ujar Alya karena beberapa hari sebelumnya Arjuna sempat menelpon dan memberi tahu bahwa hari ini ia akan berkunjung kerumahnya.
"CK, dari kemarin Syifa udah penasaran banget pengen ketemu kamu tahu."
"Iya tadi dia udah cerita."
"Jadi om Arjuna temen mama itu?" Syifa menatap Alya.
"Iya sayang, ini om Arjuna yang sering ibu ceritakan kekamu."
"Yang suka ngasih Syifa uang itu Bu."
Alya tersenyum, ''Betul nak."
*
__ADS_1
*