PENGANTIN REMAJA

PENGANTIN REMAJA
Jelek


__ADS_3

"Aku harap kamu memikirkan kata-kata ku tadi dengan baik Al, coba kamu lihat Syifa." Sultan menoleh kesamping dimana ada Alya yang tengah memangku Syifa yang sudah tertidur disebelahnya.


Saat ini mereka hendak pulang menuju rumah Rahayu, lebih tepatnya Sultan mengantar keduanya karena malam semakin larut.


Tak membutuhkan waktu lama kini mereka telah sampai dirumah Rahayu sekaligus rumah yang menjadi tempat tinggal Alya dan juga Syifa


"Kenapa turun?" ujar Alya saat melihat Sultan yang sudah turun lebih dulu dari dalam mobil.


"Aku hanya ingin membantumu menggendong Syifa, apa tidak boleh?"


Alya menghela napas pasrah, saat Sultan mengambil alih Syifa dari pangkuannya.


"Sampai sini saja, terimakasih sudah mengantar kami berdua, sekarang anda boleh pulang." ujar Alya, setelah berhasil membuka pintu dengan kunci cadangan yang selalu ia bawa saat keluar.


"Baiklah, tapi Syifa_"


"Biar saya saja." Sela Alya seraya memindahkan kembali tubuh Syifa kedalam dekapannya.


"Baiklah, sekarang aku pulang! tapi besok aku akan datang lagi."


"Untuk apa?"


"Melamar kamu." sahut Sultan dan berlalu begitu saja sementara Alya tertegun ditempatnya.


*


"Kok cantik banget sih yang?" gerutu Arjuna saat melihat istrinya yang kini tengah mengenakan dress berukat selutut berwarna navy yang senada dengan kemeja yang saat ini ia kenakan, lebih tepatnya yang dikenakan oleh satu keluarga, Arthur Dara dan juga Sultan."


Ya, hari ini mereka mengenakan pakaian dengan warna yang sama karena mereka akan mendatangi kediaman Alya untuk menemani Sultan melamar wanita tersebut.


"Emangnya kamu mau punya istri yang jelek?"


"Kalau orangnya kamu jadi jelek nggak apa-apa supaya nggak ada cowok lain yang mau deketin kamu."

__ADS_1


Plak! Zeela memukul lengan suaminya, "Tapi aku nggak mau, bisa-bisanya doain aku supaya jadi jelek."


"Aku nggak doain yang."


"Itu barusan."


"Itu_"


"Setiap ucapan adalah doa, gimana kalau aku beneran jadi jelek?"


"Aku bakalan tetap cinta kok." ucapnya sambil memeluk tubuh Zeela dari belakang, lalu menciumi pipinya dari samping.


"Ihs jangan diciumin nanti riasannya luntur." protes Zeela dengan kesal.


"CK, emang kamu dandan buat siapa sih, aku kan suami kamu, oh aku tahu kamu dandan seperti ini biar dilihat Sultan begitu."


"Apaan sih?"


"CK, bilang aja kalau Belum move on dari mantan! ingat dong Zee bentar lagi Sultan udah mau nikah, move on aja kok susah banget sih." gerutunya yang membuat Zeela memicingkan mata dengan tingkah suaminya tersebut.


"Aww!" pekik Zeela saat Arjuna menekannya Kedinding, sembari memegangi kedua pinggangnya.


"Kamu tahu kan cemburu itu tandanya apa?" bisik Arjuna, membuat Zeela mendadak merinding terlebih ketika Arjuna mulai menciumi lehernya dengan jilataan lembut, lalu turun me remas salah satu bulatan dada Zeela yang terasa mengencang.


"Ar?" lirihnya.


"Mau lakuin sebentar." lanjut Arjuna dengan suara yang tak kalah lirih dan terdengar gemetar seperti menahan sesuatu.


"K-kita kan mau berangkat?"


"Masih ada waktu 1 jam lagi."


"T-tapi_"

__ADS_1


"Aku nggak suka ditolak, sayang!" ucapnya yang langsung menggendong tubuh Zeela membawanya keatas kasur, dan hal yang harus terjadi pun, terjadi di sore itu.


*


"Lo gugup?" ujar Arjuna, sembari membantu Sultan merapikan dasinya yang sedikit mengendur, dengan sunggingan senyum dibibirnya yang tampak sangat menyebalkan dikedua mata Sultan.


Ya, setelah menyelesaikan kegiatan panasnya dengan Zeela, Arjuna langsung bergegas menuju rumah orang tuanya untuk berangkat sama-sama dari sana.


"Lo ngejek gue?"


"Nggak! gue kan cuma nanya Lo gugup atau_"


"Lo belum pernah ngerasain yang namanya mau lamaran kan?"


"Ribet-ribet lamaran, mending kayak gue langsung nikahin, malamnya bisa langsung dinikmatin."


Mendengar itu Sultan mendengus, ia tentu mengerti kemana arah cerita adiknya, CK meskipun kini sudah ada Alya, tapi jujur saja perasaannya untuk Zeela masih ada.


Keheningan mengambil alih diantara keduanya, sesekali Sultan melirik sang adik yang kini sudah duduk diatas sofa menikmati teh hangat yang beberapa menit lalu disajikan oleh bibi.


"Lo bahagia sama Zeela Ar?"


"Kenapa Lo nanya gitu?"


"Ya gue pengen tahu aja."


"Jelas bahagialah, punya bini cantik, pinter nyenengin suami_"


"Nggak usah diterusin!" sela Sultan, karena ia sudah dapat menebak jika ujung-ujungnya Arjuna akan membahas tentang ranjang dan sebagainya yang berhubungan dengan Zeela.


Tidakkah itu terdengar menyakitkan untuk dirinya yang berusaha move on dari gadis yang sudah direbutnya.


CK, dasar tukang pamer! gerutunya.

__ADS_1


*


*


__ADS_2