
Arjuna merebahkan tubuhnya diatas sofa yang berada diruang tamu hingga tertidur, kelelahan setelah seharian berlatih basket, lalu sorenya ia harus mengecek jumlah pemasukan di 5 kedainya yang akhir-akhir ini penjualannya semakin meningkat, lalu mencari sesuatu untuk ia berikan kepada istrinya nanti malam membuat ia kini semakin terkantuk-kantuk.
Keadaan rumah pun cukup sepi, karena Zeela sendiri sedang menengok Amora yang kabarnya tengah sakit dan dirawat diklinik terdekat.
Sementara Dara, maupun Arthur tak terlihat keberadaannya, begitupun dengan Sultan yang beberapa hari ini sudah tak pulang kerumah, dengan alasan banyak pekerjaan dan memilih menginap di Apartemennya.
Entah berapa lama Arjuna tertidur hingga tak sadar jika sang mama maupun papanya sore ini sudah pulang terlebih dulu, dan melihatnya dalam keadaan yang masih tertidur pulas.
"Tumben banget anak itu tidur disini." ujar Arthur sembari menukar sepatunya dengan sandal rumahan, lalu bergegas menuju kamarnya, yang diikuti oleh Dara.
Namun langkah Dara terhenti saat ia berada didepan Arjuna, wanita itu menoleh melirik wajah putranya yang tampak sangat kelelahan, wajah yang masih terlihat imut, putih, dan sangat tampan membuat Dara mengingat kembali masa-masa ketika Arjuna masih bayi dulu.
Betapa menggemaskannya putra keduanya itu, tak sedikit dari tetangga maupun orang-orang yang berpapasan dengan mereka selalu memuji betapa beruntungnya Dara memiliki putra setampan dan semenggemaskan seperti Arjuna.
Tanpa sadar ia duduk disisi sofa yang dipakai Arjuna tidur, lalu tersenyum sembari mengusap ujung rambut bagian depan Arjuna yang sedikit panjang.
Ada rasa rindu yang tiba-tiba menggetarkan hati ingin memeluknya seperti dirinya yang selalu memeluk Sultan Selama ini.
Namun rasa takut akan penolakan Arjuna jauh lebih mendominasi dalam diri Dara, mengingat kenyataan bahwa selama ini ia sudah mengabaikan Arjuna.
Dara tahu Arjuna sangat membencinya karena selama ini dia seperti tak menganggap dirinya ada, dan selalu lebih mengutamakan Sultan dalam hal apapun.
Arjuna sudah terlanjur mandiri tanpanya, dan kini ia benar-benar sudah kehilangan moment berharga dimana putra keduanya itu akan berlaku manja seperti anak-anak pada umumnya.
Bahkan saat Arjuna bangun ia tidak pernah bisa menatapnya sedekat ini karena Arjuna selalu menjaga jarak, dan menjauh.
Dara buru-buru mengusapnya saat setetes air jatuh mengenai pipi, lalu bergegas pergi kekamar menyusul suaminya.
Sementara Arjuna yang sudah bangun sejak kedatangan mereka, menghela napas lelah, lalu merogoh ponselnya untuk mengirimi Zeela pesan, menanyakan kapan gadisnya akan pulang.
__ADS_1
Beranjak dari sofa saat balasan dari Zeela memintanya untuk segera dijemput.
*
"Ar, kenapa?" tanya Zeela yang kini merangkak menaiki ranjang mendekati suaminya yang tengah menyandarkan kepalanya di headboard kasur dengan kedua mata yang terpejam, tetapi Zeela tahu Arjuna tidak tidur, karena ia sudah hafal jam berapa suaminya itu akan tidur.
Perlahan kedua mata itu terbuka melirik Zeela mengusap kepalanya dengan gelengan kecil.
"Mau gue bantu pijit?" tawar Zeela.
"Boleh emang?"
"Boleh." jawabnya, lalu semakin mendekati Arjuna menyentuh salah satu lengannya dan mulai memijatnya dengan lembut.
"Tahu aja kalau suami lagi cape." lirihnya, yang membuat wajah Zeela mendadak panas, berbeda dengan Arjuna yang memejamkan kembali kedua matanya, menikmati sentuhan lembut tangan Zeela yang menyentuh kulitnya.
"Zee?"
"Hmmm."
"Gue ganteng nggak?" tanyanya tiba-tiba, bersamaan dengan kedua matanya yang juga ikut terbuka.
Yang ditanya tergagap, bingung harus jawab apa, kalau menjawab jujur, sudah pasti Arjuna akan merasa besar kepala, akhirnya jawaban yang keluar dari bibirnya.
"Biasa aja."
Arjuna mendengus, "Tinggal jawab iya padahal, susah banget Keknya! emang dimata Lo gue kurang ganteng ya Zee?"
"Hmmm."
__ADS_1
"Tapi dimata gue Lo paling tercantik lho Zee,"
Deg!
"Ngaco,!"
"Lah emang bener kok, gue kan ngomong sesuai faktanya.''
Tak menyahut lagi, Zeela memilih untuk meneruskan memijat kaki Arjuna dan tak lagi menatapnya.
"Zee?"
"Hmmm."
"Udah, gue mau ngambil sesuatu." ucapnya lalu turun dari ranjang mengambil sesuatu yang tadi sempat ia simpan didalam lemari bajunya.
Arjuna menyodorkan sebuah kotak kecil berwarna merah beludru didepan wajah Zeela lalu membuka kotak tersebut yang memperlihatkan sebuah kalung indah yang diberi bandul dengan huruf inisial 'AZ'
"Ar ini_"
"Gue pakein ya." ucapnya sembari menarik tubuh Zeela agar membelakanginya untuk memudahkan ia memasangkan kalung tersebut.
Setelah kalung terpasang, Zeela dapat merasakan sentuhan bibir Arjuna yang mengecup lehernya terasa hangat menjalar hingga kebagian wajah, terlebih saat Arjuna membisikkan sesuatu ditelinga kirinya.
"Gue sayang sama elo Zee."
*
*
__ADS_1