PENGANTIN REMAJA

PENGANTIN REMAJA
Kedua kalinya


__ADS_3

Zeela menoleh saat mendengar suara pintu yang dibuka dari luar, diambang pintu sana Arjuna mengulas senyum sembari melepaskan tas ranselnya melangkah mendekati Zeela.


"Hei, baru bangun hm?" ucapnya lembut, mengusap pipi Zeela dengan punggung tangannya.


Hal sederhana yang membuat wajah Zeela menghangat, dengan hati yang berdebar.


"Udah makan siang?"


"Belum, nungguin kamu."


Arjuna mengerjap pelan, dan di detik berikutnya ia mengulas senyum.


"Bilang apa tadi?"


"Bilang apa?" Zeela balik bertanya dengan kening berkerut, sementara Arjuna masih senyum-senyum sendiri menatap wajah cantik istrinya dengan binar bahagia.


"Apa sih?"


"Jangan diganti lagi ya panggilannya."


Sesaat Zeela mematung, mengingat hal apa yang sudah ia ucapkan beberapa menit yang lalu.


"Aku_"


''Iya sekarang aku-kamu aja ngomongnya ya?"


Zeela mengangguk, "Iya."


"Aku ganti baju dulu, abis itu kita makan sama-sama, bibi udah masak katanya."


"Yaudah."


Gegas Arjuna mengambil pakaian dari dalam lemari lalu menggantinya didepan Zeela.


"Ar_" pekik gadis itu dan refleks menutup matanya dengan kedua tangan.


"Kenapa?" tanya Arjuna dengan wajah tanpa dosa.


"Ihs, bisa nggak sih ganti bajunya dikamar mandi aja."


"Emangnya kalau disini kenapa, kan cuma ada kamu doang."

__ADS_1


"Iya, udah tahu ada aku kenapa malah ganti disini sih?"


"Kan kamu istri aku, udah lihat juga semuanya kan jadi nggak ada masalah seharusnya."


"Ihs, Arjuna!"


"Apa sayang, bawel banget sih, minta cium keknya nih." Arjuna menyunggingkan senyum, merangkak menaiki kasur lalu mengungkung tubuh Zeela, dan menyambar bibirnya, lalu menyesapnya dengan kuat, tak memberi kesempatan Zeela untuk sekedar melawan dan menolaknya.


"Masih sakit nggak?" tanyanya, dengan nada rendah yang justru membuat Zeela merinding mendengarnya.


"A-apanya?"


"Itu." wajahnya menunduk menatap kearah bagian bawah tubuh Zeela, yang membuat wajah gadis itu merona seketika.


"Sekali lagi ya."


"Tap_ hmmmp."


Belum sempat protes bibirnya sudah lebih dulu dibungkam, dan siang itu keduanya kembali melakukannya, dan bukan hanya sekali tetapi berkali-kali.


"Kalau aku hamil gimana Ar?" ujar Zeela dengan bibir mengerucut kesal memegangi selimut yang menutupi tubuh polosnya.


"Kok gimana sih, kan ada suaminya."


"Aku tahu, tapi kalau seandainya kamu hamil anak aku kamu nggak keberatan kan?"


Zeela tergagap, kalau ditanya siap atau tidak, tentu jawabannya ia tidak siap.


Tetapi jika ia mengatakan tidak, bisa dipastikan suaminya akan kecewa dan selalu mengira jika ia masih berharap dengan Sultan.


"Aku_"


"Aku ngerti kok Zee." pemuda itu tersenyum getir dan hendak turun dari ranjang, namun tangan Zeela berhasil menahannya.


"Kalau udah waktunya dikasih kenapa harus nggak siap."


Deg!


Seketika Arjuna membalikkan wajahnya menatap wajah Zeela dengan raut tak percaya.


"Jadi_"

__ADS_1


"Nggak ada alasan aku buat menolak keinginan kamu kan?"


"Zee?"


Zeela mengangguk, mungkin saat ini ia belum mencintai Arjuna, tapi hatinya meyakini jika cepat atau lambat ia akan kalah juga.


"Makasih Zee." ucapnya yang langsung memeluk tubuh istrinya dengan erat, bahkan ia meneteskan air mata tanpa ia sadari.


"Mandi yuk, abis itu kita kebawah."


Setelah hari itu, semua seakan berubah dengan begitu drastis, Arjuna lebih sering dirumah dan menghabiskan waktu berdua bersama Zeela.


Tak lagi keluyuran, tak lagi pulang malam, dan tak lagi bermain-main dengan teman-temannya, seolah tak ada yang lebih penting selain istrinya.


*


"Ar, ada mama sama papa diluar?" ujar Zeela yang kini mendekat kearah suaminya yang sedang mengerjakan tugas sekolah diatas meja belajar.


"Kok dia bisa tahu kita tinggal disini?" ada nada kesal yang terdengar dari bicaranya.


"Aku yang ngasih tahu, maaf!"


"Zee, kamu tahu kan kalau aku_"


"Aku tahu, tapi aku mohon kamu jangan begini terus! mereka orang tua kamu, mama sama papa kamu, kamu harus menghormati dia Ar."


"Tapi aku_"


"Kamu sayang kan sama aku, kamu juga pernah bilang kan nggak mau ngecewain aku?"


"Zee_"


"Please! aku nggak mau punya suami yang durhaka sama orang tuanya."


Arjuna men desah malas, Namun melihat istrinya memohon membuatnya terpaksa mengiyakan.


"Oke aku akan temuin mereka."


"Tapi jangan galak-galak kayak biasa, sama orang tua itu harus ramah."


Arjuna beranjak, mengacak rambut istrinya dengan gemas, "Oke sayang."

__ADS_1


*


*


__ADS_2