
Sebulan sejak kejadian yang menimpanya, kehidupan yang dialami Clara tiba-tiba berubah seratus delapan puluh derajat.
Setiap malam ia dihantui dengan perasaan gelisah, takut jika Amanda sang ibu akan sangat membenci dan bahkan mengusirnya dari rumah saat tahu jika saat ini dirinya tengah mengandung anak dari seorang lelaki yang tidak mau bertanggung jawab atas bayi yang dikandungnya.
Namun, tak ada seorang ibu yang tidak peka dengan keadaan anaknya terutama Amanda yang merasakan jika akhir-akhir ini putri semata wayangnya lebih banyak diam dan mengurung diri didalam kamar.
"Cla, buka pintunya! ibu mau bicara?" panggilnya dari luar.
"Iya Bu." Clara menyahut dari dalam, dan tak lama pintu pun terbuka, "Ada apa Bu?"
"Ibu mau bicara, ayok kita ngobrol disofa saja."
Clara menurut saja dan memilih duduk disamping ibunya.
"Kamu ada masalah apa nak, ibu perhatikan akhir-akhir ini kamu lebih banyak melamun lho, nggak seperti biasanya yang ceria dan banyak bicara."
Clara menunduk.
"Clara, lihat ibu? apa yang terjadi katakan sama ibu nak, nggak baik memendam sesuatu sendirian karena itu hanya akan menyiksa diri kamu sendiri, coba lihat badan kamu sampai sekurus ini, ibu tidak tega melihatnya nak."
"Bu?" Clara jatuh bersimpuh dibawah kaki ibunya.
"Maafkan Clara Bu, Clara udah jadi anak durhaka, Clara tidak mendengarkan nasehat ibu, ampuni Clara Bu." ucapnya dengan sungguh-sungguh.
"Cla_"
"Aku hamil Bu."
"Kamu bilang apa."
"Maafkan Clara Bu, Clara hamil." ulangnya tanpa berani menatap kedua mata ibunya.
__ADS_1
Deg!
Tubuh Amanda menegang seketika dengan tatapan lurus kedepan, antara syok dan benar-benar tidak percaya.
Bagaimana bisa ini terjadi dab menimpa putri satu-satunya yang ia miliki.
"Ibu boleh memaki aku Bu, memukuliku atau_"
"Bangun Cla," Amanda menarik tangan Clara, agar ia kembali duduk disampingnya.
Berulang kali Amanda menguatkan hati agar suaranya tak tercekat saat bicara.
"Siapa yang melakukannya Cla,?"
Clara menunduk, ia menangis terisak-isak, apa yang harus dia katakan? dan akhirnya Clara memilih untuk diam saja, membuat emosi Amanda kian meledak.
"Katakan siapa pelakunya, siapa laki-laki yang sudah mengahmili kamu Cla, jawab!" teriak Amanda sembari mengguncangkan bahu putrinya dengan kuat.
"Ibu tidak pernah mengajarimu berbuat seperti ini Clara, tidak pernah!"
"Bu?"
Satu tamparan keras Clara terima, membuat gadis tersebut semakin menunduk dengan tubuh yang bergetar hebat.
"Kamu tahu Cla, seberapa hancurnya perasaan ibu saat ini, padahal kamu tahu persis seperti apa perjuangan ibu membesarkan kamu seorang diri tanpa bantuan ayah kamu, bagaimana ibu memilih hidup sendiri tanpa pasangan karena ibu takut jika ayah barumu tak menyayangimu."
"Semuanya ibu lakukan hanya untuk kamu Cla, tapi inikah balasan dari kamu untuk ibu? sekarang katakan siapa laki-laki yang sudah menghamili kamu, katakan Clara!" Amanda kembali mengguncangkan bahu putrinya dengan kuat.
"K-kak Sultan Bu." jawabnya dengan jemari yang saling bertaut.
"Bilang sekali lagi Cla, siapa?''
__ADS_1
"Kak S-sultan Bu."
"S-sultan Haryaka Al-tezza? apa dia pria yang kamu maksud Cla?" sentak Amanda seraya berdiri dari duduknya.
"Jawab ibu Clara?"
"I-iya Bu."
"Yaampun Cla, kamu tahu kan keluarga mereka itu siapa? kamu juga tahu kan kalau pak Arthur adalah bos ibu Clara?"
"Maafkan Clara Bu." jawabnya yang belum juga berhenti menangis.
Sementara Amanda duduk terjatuh, dengan semua pikiran kacaunya.
"Ibu malu Cla, apa yang harus ibu katakan sama mereka, lalu bagaimana dengan Sultan sendiri, apakah dia mau mengakui kehamilan kamu?"
Cepat Clara menggeleng.
"Sudah ibu duga, Sultan itu berbeda, lagian kamu kok bisa-bisanya sampai hamil sama dia sih Cla, ibu kan sudah beberapa kali bilang jangan dekat-dekat dengan Sultan, kamu ngerti nggak sih?" teriak Amanda frustasi.
"Maaf Bu."
"Tidak ada yang bisa kita lakukan selain membiarkan bayi itu lahir tanpa seorang ayah."
"Tapi Bu, aku nggak mau membiarkan dia sampai lahir?"
"Maksud kamu?"
"Kak Sultan menyuruhku untuk menggurkannya."
"Clara?!"
__ADS_1
*
*