PENGANTIN REMAJA

PENGANTIN REMAJA
Suami-istri


__ADS_3

"Sultan sudah Tan, kita bicarakan ini baik-baik." cegah Arthur saat melihat Sultan yang hendak melayangkan kepalan tangannya kearah wajah Arjuna.


"Ini nggak bisa dibiarin pa, aku nggak bisa setenang papa nggak bisa."


"Kontrol emosi kamu Tan, sabar!"


Arggghh...


"Duduk! kalian berdua duduk." Arthur menyuruh keduanya untuk kembali ketempat duduknya masing-masing.


Ia menarik napas dalam, lalu menatap kedua putra dan calon menantunya secara bergantian.


"Arjuna jelaskan!"


"Apalagi yang harus diperjelas sih, tadi kan_"


"Jelaskan! dan jangan membantah." sentak Arthur, membuat Arjuna melengos dengan helaan napas kasar.


"Aku_ aku udah meniduri Zeela saat mabuk."


Deg!


Bukan hanya Arthur, Sultan dan Dara yang kaget, tetapi Zeela sendiri tentu lebih kaget lagi, bagaimana bisa Arjuna mengakui langsung aib yang seharusnya ditutup dengan serapat-rapatnya itu.


''Arjuna!" Dara berdiri seraya mendelik tajam menatap putra keduanya dengan raut wajah yang sulit terbaca.


Plakkk...


Sebuah tamparan yang cukup keras, menghantam mengenai pipi putih Arjuna, hingga membuat pemuda itu terdiam beberapa saat, dan berakhir dengan tawa getir dari bibirnya.


"Kamu itu sudah keterlaluan sekali Ar, kamu tahu kan kalau Zeela itu sebentar lagi mau menikah dengan kakak kamu, tapi kenapa kamu malah merusaknya."


''Aku tekankan sekali lagi sama Mama bahwa kita berdua saling mencintai, jadi nggak ada kata merusak disini."


Plakkk...


Melihat Arjuna yang mendapatkan tamparan untuk kedua kalinya hingga sudut bibirnya kembali berdarah membuat hati Zeela berdenyut, padahal beberapa menit yang lalu luka itu baru saja ia obati.


"Sudah ma, dalam hal ini bukan hanya Arjuna yang bersalah, tapi aku juga." bela Zeela saat melihat tangan Dara yang kembali terayun dihadapan wajah pemuda tersebut.


"Mama kecewa sama kamu Ar." sentak Dara, sementara Sultan memilih diam dengan kedua tangan terkepal, pikirannya benar-benar kacau saat ini, dan secepat kilat ia pergi meninggalkan ruang keluarga berlari menuju kamarnya.


Setelah kepergian Sultan, semua orang tampak terdiam, begitupun dengan Zeela yang mulai berhenti menangis dengan Isakan kecil yang tersisa.


"Pa, kita harus bicarakan ini dengan mas Akmal." ucap Dara setelah emosinya mulai sedikit mereda.


"Lebih baik jangan! kondisi mbak Arin sangat lemah ma, soal mereka yasudah kita nikahkan saja, toh mas Akmal tetap menjadi besan kita kan?"

__ADS_1


Dara mengangguk setuju.


"Yasudahlah mau diapakan lagi, yang sudah terjadi biarlah terjadi, dan kamu Ar kamu harus bertanggung jawab dengan perbuatan yang sudah kamu lakukan, berhenti menjadi berandal, mulai sekarang kamu harus mulai belajar bekerja untuk memenuhi kebutuhan Zeela." ujar Arthur yang masih dilanda emosi.


"Nggak masalah."


*


"Ma, aku berubah pikiran soal Arjuna sama Zeela apa sebaiknya kita bicarakan saja sama mas Akmal, biar bagaimanapun dia ayahnya." ujar Arthur.


Obrolan tadi kini berlanjut setelah mereka masuk kamar.


"Terserah papa sajalah baiknya, tapi bagaimana dengan Sultan pa?"


"Papa tahu ini berat, tapi ya mau bagaimana lagi, masalahnya Arjuna sudah meniduri Zeela, bagaimana kalau dia hamil, dan kalau sampai itu terjadi papa benar-benar nggak tahu harus bilang apa sama mereka, mereka pasti menganggap kita tidak becus menjaga anak gadisnya ma."


"Iya sih kasihan Zeela juga sebenarnya." Dara tampak berpikir.


"Yasudah, papa rasa pilihan menikahkan mereka secepatnya adalah solusi terbaik."


"Yaudah mama sih ikut saja, tapi pa Sultan_"


"Sudahlah, kita lanjut bicarakan besok saja."


*


Senyum penuh kemenangan tampak jelas diwajah Arjuna, berbeda dengan Zeela yang justru lebih banyak diam dan menunduk, sementara didalam kamar sana, Sultan melemparkan apapun yang ada didekatnya, frustasi tentu saja.


Bagaimana tidak, gadis idamannya hari ini menikah dengan pria lain, dan lebih parahnya adiknya sendiri, sementara ia sengaja dikurung didalam kamar agar tidak melakukan kekacauan saat ijab kabul berlangsung.


"Ingat Zee, sekarang Lo bini gue, milik gue, itu artinya lo harus nurut apa kata gue." ujar Arjuna begitu keduanya berada didalam kamar.


"Mulai malam ini Lo tidur dikamar gue, satu ranjang sama gue.''


"Lo gila ya Ar, perjanjiannya kan kita cuma nikah doang."


"Siapa yang bilang begitu?"


"Ar, tapi_"


"Sebelum kita menikah nggak ada perjanjian apa-apa Zee, Lo harus ingat itu."


Deg!


Zeela melongo, dalam hati merutuki kebodohannya sendiri, seharusnya sejak awal ia sudah paham dengan sikap licik Arjuna.


"Ar, tapi_"

__ADS_1


"Mau nggak mau Lo harus mau, sekarang gue suami elo, nurut apa kata suami."


"CK."


"Kenapa? nyesel? terlambat Zee."


Zeela men desah, dengan terpaksa akhirnya ia mengalah, lalu mulai memindahkan barang-barang miliknya kekamar Arjuna, begitupun dengan pemuda tersebut yang lebih dulu mengangkut barang-barang Zeela kekamarnya, dan tentu dia yang paling bersemangat.


*


"Gue keluar dulu, Lo kalau mau tidur ya tidur aja nggak usah nungguin gue." ujar Arjuna, pemuda itu memutuskan keluar dari kamar untuk memberi Zeela rasa nyaman didalam kamarnya, serta menghindari rasa canggung karena untuk pertama kalinya mereka tidur dikamar yang sama.


Arjuna keluar dari kamarnya dan melangkah menuju ruang TV, lebih tepatnya hanya diam disana untuk menikmati sebatang rokok yang ia bawa.


Namun tanpa ia duga, rupanya disana sudah ada Sultan yang tengah diam dengan tatapan lurus kedepan.


"Ngapain lo kesini, mau menertawakan gue? udah ngerasa menang Lo sekarang, karena udah berhasil ngambil Zeela dari gue?" ucap sarkas Sultan begitu melihat sang adik yang hendak mendaratkan bokongnya disana.


Arjuna melirik Sultan sebentar, sebelum kemudian menyalakan rokoknya lalu menghisapnya pelan dan mengeluarkan kepulan asap putih itu dari mulut dan juga hidungnya.


"Gimana rasanya? nyesek sakit, atau kurang terasa, mau yang lebih?" Arjuna menyunggingkan senyum, "Lo tenang aja, besok gue bikinin Vidio bercinta gue sama kekasih Lo itu."


"Brengsek!"


Maki Sultan, dengan kedua mata memerah.


"Santai bro, segitu cintanya rupanya Lo sama dia, tapi sayang dia udah jadi milik gue sekarang." santai Arjuna menyesap rokoknya kembali, namun tak lama ia menggerus rokok tersebut dan melemparnya keatas asbak.


"Keadaan tante Amanda cukup memperhatikan sampai sekarang, kalau Lo masih punya hati nurani Lo bisa datang dan meminta maaf langsung kedia, tapi soal Zeela! sorry gue nggak bisa lepasin dia, karena gue rasa gue seribu persen jauh lebih baik dari elo."


"Anjiing!" umpat Sultan seraya berdiri dan dengan sekali hentakan mampu membuat tubuh Arjuna terpentok diujung sofa.


"Kenapa, Lo mau bunuh gue, bunuh aja!" tantang Arjuna.


"Bangsad."


Emosi yang sudah menumpuk dari sejak kemarin itu kini meledak tak terkendali.


Bugh..bugh..bugh..


Sementara diambang pintu sana, Zeela memekik melihat keadaan Arjuna yang sudah tergeletak jatuh dari sofa.


"Arrr...!!"


*


*

__ADS_1


__ADS_2