PENGANTIN REMAJA

PENGANTIN REMAJA
PENGANTIN REMAJA


__ADS_3

Hidup itu bukan hanya untuk sekedar hura hura tapi bagainama kita berbagi dengan yang ada sekitar kita,


Aku tersenyum melihat peserta didik rumah belajar. Mereka terlihat semangat dalam menyerap ilmu yang diberikan oleh para pendidik.


Senyum dan tawa mereka membuat hati ini damai dan sejuk.


" kak Bry! Apa kita akan sama dengan murid sekolah lainnya yang belajar di sekolah elit " tanya salah satu peserta didik,namanya Gilang.


" Ya! Kami akan mengusahakan kalau ijazah dari sini sama dengan di sekolah elite. Tanang saja usaha kalian dan kerja keras kalian dalam mendapatkan nilai disini tak akan sia sia. Rumah belajar ini bekerja sama dengan pemerintah jadi kalian hanya perlu fokus belajar,yang lainnya serahkan ke kami " ujarku pada Gilang.


" Wah! Makasih kak, akhirnya aku bisa menunjukkan dengan bangga ijazahku pada orang yang meremehkan anak jalanan seperti kami " ujar Gilang sendu.


" Kamu hanya perlu memperlihtkan dengan bangsa hasil prestasi kamu pada orang tuamu,buat mereka bangga padamu "ujarku pada Gilang.

__ADS_1


" Bagaimana kalo kita tak lagi mempunyai orang tua kak " sahut Satria pelan.


" Tentu kamu juga harus memperlihatkan dengan bangga pada mereka dengan mengirkan do'a pada mereka. Ingat do' a kalian sangat dinantikan oleh kedua orang tua kalian. Dan untuk yang masih punya orang tua,berjuanglah dan raihlah prestasi setinggi mungkin buat mereka bangga pada kalian semua " ujar Bryanda memberi semangat pada semuanya.


" Iya kak,aku pasti membuat mereka bangga padaku. Pasti " ujar Gilang semanagat.


" Sama! Kami juga, kami juga ingin seperti kalian semua yang berbagi dengan keluarga tak mampu " ujar Satria bangga.


" Good! Karena itu rajinlah belajar,kelak kalian bisa berbagi ilmu juga dengan anak yang sama kondisinya dengan kalian. Itu juga perbuatan mulia dan membanggakan keluarga " ujar Bryanda.


Aku pun hanya tersenyum melihat mereka semua,diketebatasan mereka. Mereka memiliki semangat yang menggebu soal pendidikan.


Terkadang mereka membuatku malu karena aku hidup berlimpah kemewahan tapi tak menghargai jerih payah orang tua yang membayar biaya sekolah yang nominalnya mencekik leher.

__ADS_1


Lama aku termenung memandang mereka semua yang dengan tekun belajar dan semangat bertanya pada guru mereka.


"Semoga saja, kalian kelak jadi orang yanag sukses. Kakak janji mendampingi kalian sampai kalian bisa mandiri dan punya kemampuan buat menyongsong masa depan kalian dengan ilmu yang kalian dapatkan dari sini " biaikku dalam hati sambil tersenyum.


Semakin hari semakin bertambah murid yanag belajar di rumah belajar. Gurunya pun semakin banyak, tak hanya profesional tapi juga anak kiliah yang sedang menunggu kelulusan. Karena tak ada kegiatan mereka


Menghabiskan hari mereka dengan mengasah kemampuan mereka di bidang uang mereka kuasai agar tal canggung jika terjun ke dunia kerja yang sesungguhnya.


Pukk


Aku terbangun dari lamunanku saat ada yang menepuk pundakku dan aku melihat Vano yang menatapku cemas.


" Kenapa bab! Ok kan,atau mau aku panggilkan Dokter kalo ada yang sakit " tanya Vano cemas.

__ADS_1


" Nggak kok Van! Gue baik kok,,cuma lagi memikirkan masa depan aja dan melihat mereka yang belajar dengan semanagat di kondisi mereka yang serba kekurangan. Ironis kan dibandingkan kita yanag berkelebihan tapi ketika sekolah,kita bolos dan acuh sama pelajaran. Sungguh menyesihkan sekali " ijar Bryanda sendu.


" Lo bener bab! Kayaknya kita musti banyak belajar bersyukur dan menghargai jerih payah mama dan papa " jawab Vano juga ikut sendu.


__ADS_2