PENGANTIN REMAJA

PENGANTIN REMAJA
Lembaran baru


__ADS_3

"Silahkan masuk!" ujar Rahayu yang kini membuka lebar-lebar pintu utama rumahnya, ketika Sultan dan sekeluarga tiba dikediaman nya.


"Bagaimana kabarnya mbak, sehat?" Dara menyalami dan memeluk Rahayu seolah mereka adalah teman akrab.


"Baik mbak, oh iya sebelum memulai ke inti pembahasan sore ini, mari kita nikmati hidangan yang ada." ujar Rahayu mempersilahkan semua tamunya untuk duduk.


Dara mengangguk dengan senyum penuh kelegaan, kini ia yakin jika Rahayu sudah menerima putranya untuk menjadi menantunya.


Bukan tanpa alasan Dara berpikir begitu, mengingat saat pertama kali ia bertemu Rahayu yang tampak ketus dan juga angkuh ketika ia membahas persoalan kedua anak mereka yang terjerat hubungan terlarang hingga menghasilkan seorang anak.


Saat itu Rahayu sempat menolak kedatangan nya kerumah dan memberi tahukan jika ia tak mengijinkan putrinya untuk menikah dengan Sultan yang notabenenya adalah laki-laki brengsek yang lari dari tanggung jawab dan membiarkan putrinya menanggung beban seorang diri selama bertahun-tahun.


Namun berkat usaha kerasnya untuk meyakinkan Rahayu, akhirnya wanita itu luluh dan membuang egonya jauh-jauh.


"Benar, Syifa memang ingin sekali memiliki sosok seorang Ayah." ujar Rahayu kala itu.


Makan malam mereka lalui dengan sangat tenang, dan diakhiri dengan tawa semua orang dengan tingkah Syifa yang lucu serta banyak bicara, sebelum kemudian membahas tentang maksud dan kedatangan Arthur yang ingin melamar Alya untuk Sultan putra pertamanya.


"Bagaimana nak Alya?" ujar Dara, saat melihat Alya hanya diam saja.


"Ibu tahu ini sulit, tapi pikirkan masa depan Syifa nak." bisik, Rahayu sembari menggenggam tangan Alya untuk membantu meyakinkan putrinya.


Alya tampak menunduk, namun sedetik kemudian ia mengangguk, "Baik, saya terima." ucapnya membuat semua orang mendesah lega, terutama Arjuna dan juga Zeela.


*


"Untuk apa kemari?" ketus Alya, ketika sore ini Sultan menjemputnya kerumah.


Sultan mendesaah, "Bisa nggak sih Al nggak jutekin aku terus, beberapa hari lagi kita mau nikah lho, kamu nggak berpikir mau belajar untuk jadi istri yang baik gitu?"


"Belum waktunya."

__ADS_1


Laki-laki itu mengulas senyum samar, bahkan tanpa Alya sadari, dalam hati ia berjanji akan mengembalikan sikap Alya yang dulu, Alya yang hangat, ceria, dan banyak bicara.


"Ayok?" ajaknya mencekal lengan Alya menyeret pelan wanita itu kedalam mobilnya.


"Kemana sih?"


"Aku mau ajakin kamu kesuatu tempat."


"Kemana?"


"Nanti juga kamu akan tahu."


"CK,!"


"Nah, sudah sampai ayok!" ucap Sultan yang kini menghentikan mobilnya di tengah hutan dengan sebuah rumah kosong yang tampak usang dan hanya satu-satunya berada di tengah hutan tersebut.


Deg!


"Kamu masih ingat kan Al, saat itu kamu mabuk karena kalah taruhan dengan Sovia, lalu aku mengajak kamu untuk pulang bersama, dan tepatnya disamping hutan ini mobilku mogok, lalu aku memutuskan untuk mengajak kamu bermalam dirumah itu, tak kusangka malam itu hujan lebat, dan saat melihat tubuhmu yang tak berdaya membuatku tak mampu menahan hasrat sialan itu."


"Maaf, karena aku sudah merusakmu! maafkan aku yang bodoh ini, seharusnya saat itu aku sadar dan menjaga kamu, bukan malah merusaknya." lanjut Sultan sembari menatap Alya dari samping.


"Kenapa kamu bawa aku kesini?"


"Aku sengaja membawa kamu kesini, karena dulu aku tidak sempat meminta maaf secara langsung bahkan setelah apa yang aku lakukan."


"Al, maafkan aku! mari kita memulai lembaran baru dengan baik, bantu aku menjadi pria yang lebih baik dan bertanggung jawab, kita besarkan anak kita sama-sama."


"Aku bukan wanita yang baik, jadi mana mungkin aku bisa menuntunmu menjadi lebih baik."


"Nggak Al, kamu wanita baik-baik."

__ADS_1


"Kalau aku seorang wanita yang baik-baik tidak mungkin aku memiliki anak tanpa suami."


Sultan menggeleng, merasakan nyeri yang tiba-tiba terasa menghantam ulu hatinya.


"Ini salahku, bukan salahmu! aku yang sudah memaksamu menjadi wanita seperti ini, semuanya salahku Al, jadi kumohon ijinkan aku menebus kesalahanku disisa umurku."


"Apa kamu terpaksa?" tanya Alya, sebuah pertanyaan yang sudah beberapa hari ini dipendamnya.


"Tentu saja tidak."


"Aku tahu kamu tak pernah mencintaiku, jadi tidak mungkin jika tidak terpaksa."


"Al, apakah itu penting sekarang?"


"Tentu saja."


"Jika aku mengatakan tidak, lalu apa yang akan kamu lakukan?"


"Aku akan tetap menerima pernikahan ini."


"Al_ apa kamu tidak marah, jika saat ini aku belum mencintaimu?"


Alya menggigit bibir bawahnya, mendongak menatap tepat dikedua manik hitam milik Sultan, "Kenapa harus marah, bukankah kita menikah karena demi kebahagiaan Syifa?"


"Al_"


"Ayok pulang, sebentar lagi aku harus jemput Syifa disekolah."


*


*

__ADS_1


__ADS_2