PENGANTIN REMAJA

PENGANTIN REMAJA
Sedikit memaksa


__ADS_3

"Ma, sampai kapan kamu akan bersikap seperti itu terus didepan Arjuna, kasihan lho dia!" ujar Arthur setelah beberapa menit saling diam melihat kepergian putra kedua mereka malam ini.


Terdengar helaan napas pelan dari mulut Dara, wanita itu menoleh kearah suaminya dengan tatapan sendu.


"Apa yang bisa aku lakukan pa, nggak ada."


"Setidaknya kamu berbicara lembutlah padanya ma, bisa kan?"


Dara menggeleng.


"Terlambat pa! sepertinya Arjuna terlanjur membenciku, aku sudah tidak memiliki kesempatan lagi, terlebih sekarang dia sudah menikah, dan aku rasa kehadiran Zeela jauh lebih dibutuhkan Arjuna ketimbang aku."


Arthur ikut menghela, ia merubah posisi duduknya menjadi miring menghadap istrinya, lalu memegangi kedua bahu Dara dengan lembut.


"Ma, mungkin Zeela sebagai istrinya sangat dibutuhkan oleh Arjuna sekarang, tapi kamu harus tahu sedewasa apapun seorang anak, dia tetap seorang anak yang juga membutuhkan kasih sayang ibunya."


"Arjuna butuh keduanya ma." lanjut Arthur, sembari mengusap air bening yang tiba-tiba keluar dari sudut mata Dara.


"Tapi dia sudah terlanjur membenciku pa."


"Berusahalah! berusaha untuk memperbaiki yang sudah rusak, meskipun hasilnya tidak sesempurna yang diharapkan, tapi setidaknya kamu sudah berusaha kan?"


"Besok kita hubungi Zeela, kita tanyakan dimana alamat tempat tinggal mereka yang sekarang."


Dara mengangguk pelan.


"Iya pa."


"Sudah, jangan menangis! lebih baik sekarang kita istirahat, ayok!"


Dara kembali mengangguk, lalu melangkah lebih dulu menuju kamar.


Sementara itu ditempat yang berbeda, Zeela beberapa kali beringsut untuk menghindari suaminya yang semakin mendekat membuatnya tersudut dan tak bisa bergerak kemanapun, gadis itu semakin merinding saat Arjuna mencondongkan wajahnya, lalu membisikan sesuatu ditelinganya.


"Masih mau nolak? udah sebulan lebih lho ini."


"Ar_"


"Apa yang Lo takutin dari gue Zee, gue suami elo kan?"


"G-gue_"


"Emangnya gue kelihatan nyeremin di mata lo?" sela Arjuna tak memberikan kesempatan istrinya untuk bicara.

__ADS_1


Zeela men desah, gadis itu beringsut dan berhasil lolos dari kungkungan suaminya.


"Kita masih sekolah Ar."


"Itu bukan alasan yang cukup buat gue Zee, kita udah pernah ngelakuin ini kalau Lo lupa."


"Ar_"


"Lo masih cinta kan sama Sultan?"


"Gue_"


"Oke gue ngerti, yaudah sekarang kita tidur! istirahat."


Setelah mengatakan itu Arjuna pun bergegas menaiki ranjang merebahkan tubuhnya dengan posisi membelakangi Zeela.


Ada setumpuk kekecewaan yang memenuhi hatinya kini, namun ia tak bisa berbuat apa-apa, selain hanya sabar menunggu hati Zeela terisi penuh oleh namanya.


Suasana berubah menjadi sunyi senyap, Arjuna tak lagi terdengar berbicara, sementara Zeela bergerak gelisah merasakan keadaan asing disekitarnya.


"Ar?"


"Arjuna." ulangnya karena sama sekali tak ada sahutan dari laki-laki dihadapannya.


"Ar-" tangan mungil Zeela bergerak merayap menyentuh pinggang Arjuna, terlonjak kaget saat sebelah tangan Arjuna menggenggamnya dengan sangat kuat.


"Sorry Ar, gue_"


"Lo benar-benar udah menyia-nyiakan kesempatan baik ini Zee, tapi oke kalau ini pilihan Lo jangan salahin gue." ucap pemuda itu seraya membalikkan badannya dan mencium bibir Zeela dengan sedikit ganas.


"Ar_" lirihnya.


"Nggak ada kesempatan lagi Zee, Sorry malam ini gue nggak bakalan kasih Lo ampun, dan mulai malam ini Lo benar-benar harus jadi milik gue "


"Ar_"


Tak mengindahkan panggilan dari istrinya pemuda itu langsung meraup bibir Zeela menyesap dan mengulum bibirnya secara bergantian, merayap keleher dan berakhir menggigit dua bulatan sensitif Zeela dengan rakus, tak lupa meninggalkan banyak jejak keunguan dibagian sana sebagai tanda cinta miliknya yang berharga.


Lalu menyunggingkan senyum, saat dirasa telah berhasil membuat gadisnya tak berdaya dibawah kuasanya, gegas ia menanggalkan seluruh pakaian miliknya dan juga Zeela, dan kembali mengungkung tubuh gadis itu untuk memposisikan diri.


"Tunggu Ar." lirih Zeela seraya menahan dada Arjuna.


"Kenapa hm?" tanyanya, dengan suara parau dan berat seperti tengah menahan sesuatu.

__ADS_1


Sementara itu Zeela tampak gelagapan, "gue nggak tahu rasanya, tapi_ please! pelan-pelan ya."


Arjuna tersenyum dengan anggukan kecil, "Oke, gue janji bakalan pelan-pelan." jawabnya, dan kembali menjelajahi seluruh tubuh Zeela kemudian mengarahkan aset berharganya yang sudah menegang dibawah sana.


"Zee, lihat gue?" ucap Arjuna dengan suara berbisik menarik dagu Zeela agar menatapnya, karena sejak tadi Zeela melihat kearah lain seolah enggan bersitatap langsung dengan dirinya.


"Lihat gue." ulangnya, yang seketika membuat Zeela hampir menjerit saat matanya tak sengaja menatap sesuatu yang asing dibawah perut Arjuna.


Melihat reaksi terkejut Zeela, Arjuna justru malah terkekeh, "Mau nyoba pegang?" ucapnya menawarkan.


Refleks Zeela menggeleng.


"Kenapa, mulai sekarang dia milik Lo kan?"


Zeela men desah. "Ar, bisa nggak sih jangan sekarang?" pertanyaan konyol itu lolos begitu saja dari bibir Zeela.


"Nggak bisa sayang, Lo terlambat buat nolak! CK lagian yang bener aja sih, udah kayak gini Zee."


"Tapi Ar."


"Sekarang udah nggak ada tapi." gegas ia merengkuh kembali tubuh Zeela dan memposisikan bagian bawah tubuh mereka, lalu dengan satu kali hentakan keras Arjuna berhasil membuat miliknya menerobos milik Zeela sekaligus membuat gadis tersebut menjerit merasakan rasa sakit yang luar biasa.


"Ar_" lirihnya bersamaan dengan air mata yang berderai mengalir dikedua pipinya.


"Sorry sayang, gue janji setelah ini bakalan pelan-pelan." bisiknya sembari menciumi satu persatu mata Zeela secara bergantian.


Dirasa Zeela sudah mulai tenang, Arjuna pun mulai bergerak, dan melakukan sesuai janjinya sangat pelan dan hati-hati.


Setelah satu jam melewati kegiatan panas itu, Arjuna menarik selimut untuk menutupi tubuh polos mereka berdua, lalu menciumi dahi istrinya beberapa kali sambil mengucapkan terimakasih karena telah menyerahkan diri walau sebenarnya ia sendiri yang memaksa untuk melakukannya.


"Ar,?" panggil Zeela.


"Hmm, kenapa? mau lagi?"


"Ihs." Zeela melengos dengan tangan yang memukul bahu suaminya.


"Apa dong sayang,?"


Zeela mendelik, lalu menarik napas dalam menatap suaminya yang kini tengah senyum-senyum sendiri.


''ehmm, Lo bilang kita udah pernah ngelakuin kan sebelumnya, tapi_tapi kok sakit banget." ungkapnya jujur membuat Arjuna menjadi gelagapan.


"Ya, ya mungkin karena belum terbiasa jadinya sakit."

__ADS_1


"Atau mungkin karena punya gue kegedean kali ya." lanjutnya dengan kekehan kecil, yang sontak membuat wajah Zeela merona seketika, mengingat kejadian beberapa menit yang lalu saat Arjuna memaksa dirinya untuk memegang aset berharganya.


*


__ADS_2