
Hari ini adalah syukuran rumah baru Marcel, Marcel mengundang anak panti asuhan dan semua murid rumah belajar.
Selain pengajian kami yang muda temtu saja mengadakan pesta barbeque. Aku hari ini merasa sangat malas sekali melakukan kegiatan,bawaannya pengen tidur aja.
Ada sih dengan tubuhku, rasanya kok nggak enak.
Karena tak ingin membuat khawatir aku memutuskan pulang dan tidur di rumah. Sesampainya di rumah aku langsung menenggelamkan tubuhku pada ranjangku yang nyaman.
Entah berapa jam aku tertidur, rasanya lama sekali. Aku memutuskan berendam biar tubuhku kembali segar. Saat sedang berendam,aku terpikir tentang priodik bulananku yang sudah terlambat 3 minggu,
Deggg
Hamil,hal yang tak terpikirkan tapi juga tak aku tolak.
Sepertinya aku harus membeli tespeck untuk meyakinkan dugaanku. Hah kalau pun iya sepertinya siap tak siap aku harus jadi mom.
Tapi bagaimana ya tanggapan Vano,apa Vano siap jadi daddy. Apalagi kami sekarang masih kelas XII. Apa tak mengganggu sekolah kami.
Banyak yang menjadi pertanyaanku, sungguh aku tak siap jika seandainya Vano menolak kehamilanku kalau seandainya memang terjadi. Tak sadar aku mengelus perut rataku,seandainya memang ada baby. Aku akan perjuangin meskipun harus putus sekolah. Kalo Vano terserah,syukur kalo dia menerima tapi kalo dia belum siap maka aku yang harus berjuang sendiri because my mom.
Aku memejamkan mata untuk melegakan hatiku dari kemungkinan yang menyesakkan.
__ADS_1
Tak terasa aku jatuh terlelap. Saat terbangun sudah jam 2 dini hari,ku lihat Vano sudsh terlelap di sampingku.
Lama aku terpaku menatap Vano, banyak yang berkecamul dipikiranku. Tentang aku yang penasaran dengan kondisiku lalu reaksi Vano.
Apa Vano bisa tenang dan menerima kehamilanku atau dia menolak kehadirannya. Itu terus yang aku pikirkan.
Vano apa kamu siap jadi daddy, apa kamu mau bersama menghadapi kenyataan kalo kita akan berkemungkinan,bukan lebih tepatnya aku tak lagi sekolah. Bisakah kamu menghiburku. Aku takut justru aku berjuang sendiri dan kamu pergi.
Vano please,jangan pernah pergi. Krena aku butuh kamu. Aku tak yakin reaksimu akan baik baik saja setelah tau aku hamil.
Apa aku akan jadi beban buatmu, aku belum siap menghadapi kenyataan kehamilanku sendiri.
" Kenapa tak tidur mmmh " tanya Vano tiba tiba.
heheheheh " ujarku sambil cengengesan.
" Dah sini aku peluk! Pejamin mata,usahain tidur ya bab " ujar Vano sambil mengusap punggungku.
Tak lama suasana hening, aku menyeletuk
" Van! Kalo punya baby gimana menurut kamu , apa kamu siap " celetukku spontan.
__ADS_1
"Hah! Kenapa,kenapa? Kamu hamil,serius tanya Vano semangat.
" Eh! Aku cuma tany kok Van, kamu siap nggak kalo kita punya baby " tanyaku salah tingkah.
"Nggak! Serius,kamu hamil atau gimana nih. Aneh banget tiba tiba nanyain soal hamil dan baby. Jujur bab, kamu hamil " desak Vano.
Gluupp
Aku susah payah menelan ludahku,tak aku sangka kalo reaksi Vano seantusias itu.
Lega rasanya,karena Vano bisa menerima jila benar aku hamil.
" Belum sih Van, tapi aku telat priodikku 3 minggu. Aku belum cek sih soalnya nggak ada tespeck. Cuma nebak nebak aja sih tapi kalo iya gimana dengan sekolahku Van " tanyaku setengah merengek.
" Hai bab! Tenang kan bisa home scholing, jadi kamu tetap lanjut sekolah dan tetap bisa kuliah lho " ujar Vano menenangkanku
" Tapi kan sepi Van, enggak rame " ujarku cemberut.
" Sabar bab, demi baby. Ayolah bab " ujar Vano menyemangatiku.
" ok deh tapi jangan biarin aku sendiri ya " ujarku tadanya
__ADS_1
" Siip,l love you mommy " ujar Vano sambil mencium keningku.