
Zeela bernapas lega, saat gadis yang sempat ditunjukkan mbak Iren tadi datang menghampiri, mencairkan suasana canggung yang sempat tercipta diantara dirinya dan juga Arjuna.
"Ar,?" ucap si gadis berpakaian mini dengan bibir yang dipoles dengan warna merah cerah, dan tanpa disangka ia bergelayut bertumpu diatas pundak Arjuna, membuat Zeela yang semula senang dengan kedatangannya menjadi risih bercampur kesal.
"Anjir, Lo apaan dah pegang-pegang gue." ucap Arjuna mendorong tubuh gadis tersebut hingga berjarak beberapa jengkal darinya.
"Kenapa? biasanya mau kok gue rangkul begitu, apa karena udah punya cewek baru lagi, makanya Lo begini." Alina melirik gadis disebelah Arjuna dengan tatapan tak suka.
Brakkk..
Arjuna beranjak memukul meja, dengan sangat emosi. "Eh jaga mulut Lo ya, kapan gue rangkul-rangkulan sama Lo, saraf Lo udah kena kali ya, ngarang aja."
Gadis yang biasa disapa Alina itu mematung, dengan kedua mata yang berkedip cepat, selama berpacaran dengan Arjuna ia memang sangat hafal sifat Arjuna yang pemarah dan suka mencari gara-gara dengan orang lain, termasuk pada beberapa murid yang berbeda sekolah dengannya.
Namun yang Alina tahu selama ini Arjuna tak sekalipun membentak atau memarahinya seperti saat ini, karena dirinya adalah satu-satunya gadis yang paling bertahan lama dibandingkan dengan gadis yang lainnya saat menjadi pacar Arjuna.
"Tunggu disini bentar, gue bayar minum dulu." ucap Arjuna yang kini menatap Zeela, dan bergegas mencari Iren, yang kemudian diikuti Alina dibelakangnya.
"Dia itu Alina, mantan yang paling disayang si Arjuna dulu, tapi dulu banget, sebelum dia milih si Gevan.'' ujar Sean yang kini mendekat kearah Zeela.
"Kenapa, emang dia lebih ganteng?"
"Ya, dibilang ganteng sih masih menang si air terjun, cuman dulu si air terjun belum sekeren sekarang, tahu lah punya duit cuma modal dikasih orang tua mana cukup buat biayain hidup si Alina yang serba mau, ya jadinya gitu dia ninggalin temen gue dan milih si Gevan itu."
"Terus kenapa sekarang dia kayak mau deketin Arjuna lagi?"
__ADS_1
Sean mengulum bibir, dengan punggung yang ia senderkan dipinggiran meja.
"Cemburu?"
"Eh lupa, pake nanya lagi! Lo kan ceweknya ya? udah pasti cemburu dong ya, eh tapi ngomong-ngomong nggak Lo ikutin aja mereka, siapa tahu diem-diem mereka malah pelukan, soalnya yang gue tahu dulu tuh ya si air terjun agak susah gitu move on nya."
"Ehh..ehh, bocah! malah jadi kompor, kalau si Ar tahu bisa bonyok Lo." seru Ardan yang kini berada disamping Sean, merangkul pundaknya dan membawa pemuda itu untuk kembali duduk ditempat semula.
"Yang dibilang si Sean barusan nggak usah dengerin ya Zee, anggap aja sabut kelapa yang terbang kebawa angin." bisik Ardan sebelum kemudian benar-benar duduk di kursinya sendiri.
Zeela menghela napas kasar, bukannya dia cemburu, tapi mendengar cerita dari Sean membuatnya jadi sedikit kesal, terlebih Arjuna kini sudah cukup lama menghilang.
*
"Zee, hei! kenapa nggak nungguin gue aja sih?" ujar Arjuna dengan sedikit menggerutu, dan kini mencekal salah satu pergelangan tangan Zeela yang sudah berada dipinggir jalan.
"Ngomong apa sih Zee, nggak ngerti deh gue!"
Sesaat ia terdiam mengamati wajah Zeela yang tampak putih, cantik, walau tanpa polesan make up sekalipun.
CK, dirasa sejak awal ketemu Zeela mungkin ia memang sudah tertarik untuk memiliki gadis dihadapannya itu, walaupun dengan cara yang sedikit curang sekalipun.
Mengulum senyum, saat menyadari jika gadisnya kini tengah ngambek, terlihat dari wajahnya yang jutek dan juga memalingkan wajahnya.
"Apa sih malah ngelihatin? mau pulang nggak?" ujarnya galak, sedangkan Arjuna kini tak bisa untuk tak tersenyum, ia membuka hoodienya dan memakaikan nya ditubuh Zeela.
__ADS_1
"Gue_"
"Nggak usah protes, gue nggak mau Lo sakit, yuk balik."
"Elah, lama deh! ayok buruan!" sentak Arjuna saat Zeela hanya diam dan menatap kesekitar para pengunjung angkringan pak Lukman yang ternyata beberapa dari mereka tengah melihat kearahnya, terutama Alina yang terlihat kesal dengan wajah membrengut.
*
Sekitar dua puluh menit keduanya sampai dirumah, Zeela tersenyum saat mendapati Dara sang mama mertua yang menyambutnya diambang pintu.
"Baru pulang?" sapanya.
"Ia ma, Arjuna abis ngajakin jalan-jalan tadi."
"Oh yasudah, sekarang kamu istirahat ya."
"Iya ma, Zeela kekamar dulu ya."
Dara mengangguk, dan tak lama Arjuna menyusul! melengos, saat tatapannya tak sengaja bertemu dengan sang mama.
Gegas ia melebarkan langkahnya mengejar Zeela yang sudah berada diundakan tangga, sedikit menyeret langkah istrinya agar segera sampai kedalam kamar mereka, lalu mengunci pintu dari dalam.
"Ar?" pekik Zeela, saat Arjuna menggendong Zeela dan membawanya keatas tempat tidur, lalu menciumnya sambil bergulingan.
*
__ADS_1
*