PENGANTIN REMAJA

PENGANTIN REMAJA
Arjuna-Sultan


__ADS_3

"Lo, hmmmpp_" Bibir yang hendak protes itu tenggelam, saat Arjuna dengan cepat melahapnya, tak mempedulikan Zeela yang beberapa kali memberontak mendorong tubuhnya dengan susah payah.


Cukup lama mereka berciuman, lebih tepatnya Arjuna yang mencium Zeela, sedangkan gadis itu hanya diam setelah kelelahan memberontak, sampai akhirnya Arjuna menarik diri dengan kening yang tetap menyatu.


"Sorry." bisiknya, seraya mengusap salivanya yang tertinggal di bibir Zeela yang sedikit membengkak akibat ulahnya.


"Gue kesini mau nagih jawaban yang kemarin, gimana Lo udah siap bilang sama bokap nyokap gue kalau Lo mau married sama gue?"


"Ar, jangan gila deh,!" Zeela mendorong tubuh Arjuna lalu sedikit beringsut menjauh dari tubuh Arjuna yang menempel padanya, "gue nggak mungkin ngelakuin itu, gue nggak mau nyakitin kak Sultan."


Arjuna mendengus, dengan wajah melengos kesal "nggak mau nyakitin, apa nggak mau pisah?"


Zeela menunduk, meremas' salah satu tangannya."Ya_ ya mungkin itu salah satunya."


"CK, tapi kita berdua udah pernah ngelakuin itu Zee, Lo nggak takut hamil anak gue emangnya."


Deg!


Zeela yang masih menunduk seketika langsung mendongak, menatap wajah Arjuna yang tampak santai menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan.


"Ar, jadi malam itu beneran udah terjadi sesuatu diantara kita berdua." ucap Zeela dengan bibir bergetar, perasaannya mendadak gelisah dengan ketakutan yang berkecamuk memenuhi hatinya.


"Ya, iya."


Zeela kembali menunduk, saat merasakan kedua matanya yang mulai memanas, harapan menikah dan hidup berdua dengan Sultan akhirnya pupus sudah.


"G-gue takut Ar, gimana kalau ternyata gue beneran_"


"Ya makanya cepetan Lo buat keputusan."


"Tapi Ar, cuma sekali doang nggak mungkin bikin gue h-hamil kan?"


"CK, Lo nggak pernah nonton sinetron ya?"


"Apa hubungannya sama sinetron?"


"Bodoh!"

__ADS_1


"Lo kalau ngomong ya ngomong aja nggak usah ngatain gue juga."


"Emang Lo bodoh kan?"


"Nyebelin begini, mana bisa gue nerima Lo jadi suami, yang ada tiap hari gue jadi emosi terus."


Arjuna mengacak rambutnya, "Jadi mau Lo gimana sekarang, mau ngotot tetap Married sama si Sultan, terus nggak peduli kalau tiba-tiba Lo hamil anak gue."


"CK, Ar! bisa nggak sih nggak bahas soal itu terus, Lo nggak tahu apa kalau gue lagi ketakutan."


"Terserah, keputusan ada ditangan Lo sih." santai pemuda itu melangkah mendekati jendela, lalu berdiri dengan posisi membelakanginya.


"Gue sih nggak maksa, cuma ngasih Lo penawaran aja, soalnya Lo tahu sendiri Zee, gue ini cowok! keren, ganteng, dan masih muda, cewek yang ngantri pengen jadi pacar gue itu banyak, apalagi yang mau jadi bini gue, udah pasti lebih banyak lagi."


"Dan dalam hal ini, justru Lo yang paling dirugikan, kesucian Lo udah hilang, dan gue yakin saat suami Lo nanti tahu kalau ternyata istrinya udah nggak suci lagi, apa nggak jadi masalah tuh." Arjuna menyunggingkan senyum.


"Tapi Ar, gue_"


"Oke kalau Lo nggak bisa, gue bisa ngerti! tapi Zee, Lo Jangan salahin gue kalau tiba-tiba besok pagi foto bugil Lo sama gue udah tersebar luas disekolah."


Deg!


Arjuna yang hendak melompat kearah balkon kembali terhenti, pemuda itu diam, namun sama sekali tidak menoleh, menunggu apa yang akan Zeela ucapkan selanjutnya.


"Gue_ gue bakal coba ngomong! tapi Lo harus bantuin gue, karena gue nggak sanggup kalau harus ngomong sendirian."


Arjuna tersenyum miring, "Oke." jawabnya lalu pemuda itu melangkah melewati balkon kemudian memasuki kamarnya sendiri.


Zeela men desah, gadis itu menjatuhkan tubuhnya diatas lantai dengan bahu yang bersender disisi ranjang, banyak hal yang ia sesali salah satunya ketika ia tidak mengingat apapun, namun sebuah foto tanpa busananya bersama Arjuna membuatnya sangat muak, malu, dan minder menjadi satu.


Namun kata andai saja tidak akan membuat keadaan kembali seperti semula, bodoh! benar yang dikatakan Arjuna kalau dia memang benar-benar gadis bodoh, dan ceroboh tentunya.


Lalu sekarang, ia dihadapkan dengan pilihan yang sulit, karena harus meninggalkan Sultan pria dewasa yang sangat ia cintai, entah benar cinta atau tidak yang pasti rasa sukanya terhadap kepribadian Sultan ia namai dengan sebutan cinta.


*


"Makan yang banyak Tan, hari ini kamu ada meeting dari klien luar kan, harus punya tenaga extra." ucap Dara, sembari menyodorkan piring yang sudah diisi dengan nasi serta lauk pauk yang sengaja ia pilihkan untuk putra pertamanya tersebut.

__ADS_1


"Makasih ma."


Seperti biasa, Sultan bersikap hangat, dengan wajah yang dihiasi dengan senyum khasnya.


"Arjuna nggak diambilin sekalian ma." Arthur berbicara tanpa melihat kearah Dara, karena kedua tangannya sibuk menyendok makanan yang akan ia masukkan kedalam mulutnya.


"Kamu bisa ambil sendiri kan Ar?" ucap Dara datar, membuat Zeela yang hampir menyendok nasi untuknya menjadi urung.


Gadis itu berdeham pelan, saat menyadari jika suasana di meja makan pagi ini terasa sangat berbeda setelah Sultan kembali, ia sempat melirik wajah Arjuna yang sama datarnya tidak beda jauh dengan wajah calon ibu mertuanya saat ini.


"Biar aku yang ambilkan ya." tanpa menunggu persetujuan Arjuna, dan dirasa tidak perlu mendapat persetujuan dari siapapun yang ada disana, Zeela mulai menyendok nasi, serta lauk pauknya yang kemudian ia berikan kepada Arjuna.


Membuat pemuda itu menatapnya dengan kedua alis terangkat, sementara Arthur tersenyum senang, berbeda dengan Sultan yang kini justru mencengkram sendoknya dengan sangat kencang.


"Zeela juga makan ya, sebentar lagi udah mau berangkat kan?" Arthur kembali membuka suara, membuat Zeela mengerjap dan langsung menyendokan nasi untuk dirinya sendiri.


"I-iya om." Zeela menunduk, dan segera melahap makanannya yang terasa seret ditenggorokan, terlebih saat menyadari Arjuna dan Sultan saling tatap dengan tatapan permusuhan.


"Ayok Zee." ajak Sultan, begitu mereka selesai sarapan pagi ini.


"K-kemana kak?"


Sultan tertawa lirih, "Kok kemana sih, sekolah lah! masa ke tempat fitting baju, sabar sebentar lagi kita kesana juga." ucapnya membuat Zeela tersipu dengan wajah memerah.


"Dia berangkat bareng gue!" Arjuna menyela seraya menarik tangan Zeela membawanya menuju garasi.


Tak terima dengan tingkah sang adik, Sultan pun berjalan cepat untuk mengejar langkah keduanya dan kembali menarik tangan Zeela dari genggaman Arjuna.


"Zee calon istri gue, kemanapun dia pergi gue yang antar."


Arjuna mendengus, "Lo pikir selama tiga hari kemarin, dia berangkat sekolah sama siapa,?"


"Iya kak, aku berangkat bareng Arjuna aja, soalnya aku rasa naik motor lebih cepat sampai." Zeela menjawab sejujurnya, membuat sebuah senyum kemenangan terbit dari bibir Arjuna, sementara Sultan mengepalkan kedua tangannya yang hanya disadari oleh Arjuna.


"Aku duluan ya kak."


Arjuna ikut tersenyum, seraya menepuk bahu Sultan, "Kita duluan." sengaja menekankan kata kita agar membuat sang kakak merasa semakin muak.

__ADS_1


*


*


__ADS_2