
Sekitar pukul 11 malam, motor milik Arjuna berhenti tepat didepan gerbang pintu rumah kedua orang tuanya, pemuda itu mendongak menatap rumah besar berlantai dua tersebut yang sebagian ruangannya sudah terlihat gelap menandakan jika penghuni rumah sudah pada tidur.
Sementara di Gazebo sana, mang Dahlan yang malam ini sedang mendapatkan giliran berjaga beranjak turun saat mengetahui jika ada seseorang didepan sana.
"Mas Arjuna, baru pulang.?" tanyanya, sembari membuka pintu gerbang.
Tak menjawab, namun pemuda itu mengangguk, lalu mendorong motornya menuju garasi.
Setelahnya ia masuk kedalam rumah yang ternyata belum dikunci.
"Ar?" sapa sebuah suara yang tentu ia kenali.
Pemuda itu menoleh, "Pa." ia balik menyapa.
"Sini duduk, temani papa ngopi." pria paruh baya yang masih terlihat tampan diusianya yang akan memasuki kepala lima itu menepuk-nepuk sofa disebelahnya.
"Darimana Ar, jam segini baru pulang?" tanyanya dengan nada santai seperti biasanya.
"Biasa, ketemu temen."
"Teman yang mana, teman kamu banyak lho."
"Harus ya, aku sebutin satu-satu."
Arthur tertawa pelan, dengan sikap jutek putra keduanya itu.
Entah mengapa setiap kali ia melihat Arjuna, ia seperti diingatkan kembali ke masa-masa disaat ia muda dulu.
"Kamu udah punya pacar?"
Arjuna menggeleng.
"Masa sih, dulu waktu papa seusia kamu, mantan pacar papa sudah tak terhitung lho Ar." ungkapnya, membuat mata Arjuna mengerjap beberapa kali.
Hubungan dirinya dan sang papa memang tidak sedekat seorang ayah dan anak pada umumnya, untuk itu fakta yang satu ini pun ia baru mengetahuinya hari ini.
"Papa sama mama kamu dulu menikah muda, karena papa pikir sudah tidak ada lagi yang papa cari selain pendamping hidup, ya papa rasa tujuan hidup papa adalah memiliki mama kamu."
"Kenapa papa memilih menikah muda?" entah mengapa Arjuna tiba-tiba ingin bertanya yang lebih jelas tentang alasan pernikahan dini kedua orang tuanya.
Sementara Arthur tersenyum, seraya menyesap kopinya yang tinggal setengah.
__ADS_1
"Seperti yang papa bilang tadi, tujuan papa ingin memiliki mama kamu, karena selain papa jatuh cinta, cuma mama kamu satu-satunya gadis yang papa inginkan saat itu."
"Oh iya Ar, bagaimana dengan Zee."
"Maksudnya?"
"Zeela, calon istrinya Sultan, kakak kamu! bagaimana apakah mereka serasi?"
Deg!
Arjuna tampak men desah, sangat jelas sekali jika ia tidak suka melibatkan Sultan dalam obrolannya.
"Pa, apakah dia tahu tentang masalalu Sultan, lalu apakah papa tega membiarkan gadis kecil yang umurnya bahkan dua tahun dibawah aku harus menikah dengan Sultan dia itu kan bajingan pa, papa nggak lupa kan kalau dulu dia_"
"Sudahlah Ar, mengenai masalalu Sultan tidak perlu kamu bahas sampai sejauh itu, masalalu biarkan tetap jadi masalalu, papa yakin Sultan yang sekarang sudah jauh lebih baik, dia sudah berubah."
"Nggak akan semudah itu pa."
"Jangan terlalu khawatir soal Sultan lagi, dia sudah dewasa sekarang, mengenai hal yang pernah dilakukan Sultan sembilan tahun yang lalu, anggap saja tidak pernah terjadi Ar."
Arjuna tersenyum getir, "Kenapa sih pa, gampang banget ngomong kayak gitu, bahkan kalian benar-benar tidak pernah memikirkan Tante Amanda yang paling menderita karena ulah dia."
"Ar, dengarkan papa dulu, kamu tahu sendiri Ar, usia kakak kamu itu sudah nggak lagi muda sekarang, sudah waktunya dia menikah."
Pemuda itu membuka jaketnya, lalu melemparnya kesembarang arah, diam dan memilih duduk disisi ranjang.
Kemudian tangannya terulur menarik laci nakas, mengambil sesuatu yang sudah lama tidak pernah ia lihat, sebuah foto lamanya dengan Sultan sekaligus foto terakhir kebersamaan mereka ketika ia berumur 10 tahun, sementara saat itu umur Sultan sudah 17 tahun, tepat sebelum sesuatu yang membuat hubungan keduanya menjadi rumit seperti sekarang ini.
*
Pagi hari dalam keadaan yang masih gelap, Arjuna keluar berdiri di balkon kamar sembari menyesap sesuatu yang terselip dijari tangannya.
Pandangannya lurus kedepan, memikirkan banyak hal lalu menengadah seiring keluarnya kepulan asap yang menggumpal, berasal dari mulutnya.
Hah! sebatang rokok membuatnya cukup relax pagi ini, ia menggerus sisa rokok yang masih menyala lalu meletakkannya disebuah asbak yang terletak diatas meja yang berada dipojokkan.
Melompat kesamping tepat didepan kamar zeela, lalu mengetuk kamar gadis itu beberapa kali, merasa jika Zeela belum bangun, Arjuna pun memilih untuk langsung masuk kedalam kamar yang ternyata tidak terkunci.
"Dasar cewek ceroboh." gerutunya, yang disertai dengan sunggingan senyum.
"Zee,?" panggilnya, saat tidak menemukan siapapun didalam sana, namun samar-samar ia mendengar suara gemericik air yang berasal dari kamar mandi.
__ADS_1
Lima menit berlalu, Zeela keluar dari kamar mandi, hanya mengenakan handuk yang menutupi bagian dada hingga setengah pahanya, gadis itu hampir berteriak kaget, saat melihat ada seseorang berada didalam kamarnya sepagi ini.
"Jangan teriak bego! Lo mau semua orang denger, gila Lo ya." gerutu Arjuna seraya membekap mulut Zeela yang hendak berteriak.
"Salah Lo sendiri ngapain pagi-pagi udah masuk kekamar gue." maki Zeela namun dengan nada suara rendah, seraya menyilangkan tangannya didepan dada.
"Pake baju dulu gih, nggak tahan gue lihatnya." ucap Arjuna yang kemudian berbalik memunggungi Zeela.
"Mendingan Lo keluar dulu deh, nggak mungkin kan gue pake baju didepan Lo."
"Dibelakang gue."
"Sama aja, buruan deh Lo keluar dulu, atau gue teriak biar semua orang denger!"
"Terserah sih, dengan Lo teriak justru itu jadi keuntungan buat gue."
"Maksud Lo?"
"Cantik sih, tapi otak Lo keknya nggak full!"
"Kok Lo jadi ngata-ngatain gue?" pekik Zeela tak suka.
"Lo pikir aja, kalau seandainya semua orang datang kesini terus ngelihat posisi Lo yang lagi nggak pake baju begini, apa nggak langsung suruh Married nanti, karena sebelum pintu kebuka gue bisa aja langsung buka baju gue sendiri, seolah kita lagi_" Arjuna menjeda ucapannya dengan senyum menggoda.
"Mesumm Lo, Ckkk!" Zeela berjalan menuju lemari lalu kembali memasuki kamar mandi dengan kaki yang dihentak-hentakan, sementara mulutnya tak berhenti mengoceh menyumpahi pemuda yang saat ini berada didalam kamarnya.
"Lama banget sih?" sergah Arjuna begitu melihat Zeela keluar dari kamar mandi yang kini sudah lengkap memakai seragam sekolahnya.
"Terserah gue lah." jawabnya jutek, lalu mendudukkan dirinya didepan meja rias, mengambil sisir dan mulai menyisir rambutnya.
Setelahnya ia memoles wajahnya menggunakan make up tipis ala anak sekolah, dan terakhir memoleskan lip balm dibibir ranumnya.
"Zee." Arjuna memutar kursi yang diduduki Zeela hingga wajah keduanya bisa berhadapan langsung.
"Apa sih?"
Sesaat Arjuna terdiam, menikmati wajah cantik Zeela yang pagi ini terlihat lebih segar, dalam hati ada rasa tak rela melihat Zeela yang berdandan seperti ini akan dilihat banyak orang nantinya.
"Lo mau apa?" pekik Zeela, saat menyadari jika wajah Arjuna dengan wajahnya semakin tak berjarak.
"Cium." jawabnya santai, yang langsung mendapatkan pelototan dari Zeela.
__ADS_1
*
*