PENGANTIN REMAJA

PENGANTIN REMAJA
Episode 2 Di Balik Seragam Sekolah


__ADS_3

Jam lima sore  SMU Gaya Anak Bangsa mulai bubar. Murid-murid berhamburan dengan langkah tak beraturan  dan berebut pintu gerbang untuk pulang, Sedang Daniel  bertahan sendirian di dalam kelas sambil memperhatikan Cicilia  yang tengah asik berbicara melalui handphone dengan seseorang. Membuat Daniel ragu untuk menghampirinya dan memilih untuk bertahan. Padahal lukisan pensil karyanya siap untuk diserahkan kepada Cicilia sebagi hadiah ulang tahun.


Sambil berjalan mondar-mandir di tengah lapangan basket depan sekolah, Cicilia  nampak asik berbicara dengan pak Bobby. Sesekali Cicilia tertawa terbahak mengundang perhatian banyak orang. Terlebih penampilan Cicilia jauh dari *standar*t sopan, meski tetap seragam putih abu-abu.


Cicilia memang mengikuti peraturan sekolah, di mana semua murid perempuan diharuskan mengenakan rok panjang sebatas mata kaki tapi, Cicilia sengaja membuat belahan kanan kiri hingga terlihat setengah dari pahanya. Jika ada razia seragam sekolah, dia pun segera menutupnya dengan resleting. Begitu juga baju putih yang dikenakan. Cicilia sengaja melepas beberapa kancing bajunya agar terlihat tali bra dan lotion mahal yang mengantung di leher mulusnya.


Tapi, orang-orang di lingkungan sekolahannya sudah tidak kaget lagi dengan tingkah Cicilia yang ingin nampak beda sendiri. Mereka pun seolah maklum  dengan barang-barang mahal yang dikenakan Cicilia, mulai dari lotion, tas, jaket, sepatu, jam tangan, handphone dan lain sebagainya. Bahkan sampai ada barangnya yang seharga beberapa kali lipat dari gaji guru di sekolahnya. Sebab, Cicilia memang dikenal dekat dengan sejumlah om-om berkantong tebal.  Kali ini dia sedang dekat dengan seorang pengusaha sukses bernama pak Bobby. Sudah beberpa kali pak Bobby menjemputnya di depan sekolah saat jam sekolah sudah bubar.


“ Aku tunggu di tempat seperti biasanya, ya..” Ujar Cicilia sebelum menutup handphone-nya.


“ Oke... Sebentar lagi sampai, sayang...” Jawab pak Bobby di belakang kemudi mobil mewah yang tengah meluncur menuju sekolah Cicilia.


Cicilia kemudian bergegas masuk kedalam kelas lagi. Sebab, dia masih kurang percaya diri jika bertemu dengan teman kencannya tampa lapisan make up. Selain buku-buku pelajaran, Cicilia  selalu tak lupa membawa peralatan kecantikan  itu di dalam tas sekolahnya. Padahal Cicilia memiliki paras cantik; bibir tipis, hidung runcing, mata lebar, dagu lancip dan kulit putih mulus karena rutin menggunakan cream pemutih.


“ Aaaaaaa…w ! Tolooooong. Ada.., ad, ada..” Cicilia tiba-tiba berteriak keras dengan wajah pucat setelah melihat ada benda putih bergerak-gerak  di dalam kelas yang mulai gelap.


“ Cici…! Ada apa..?!” Seru Daniel sambil  bergegas menyalakan lampu di dalam kelas yang lupa dinyalakan sore itu.


“ Ya, ampun. Kirain lo…” Ucap Cicilia kaget.


Cicilia memang merasa lebih nyaman menggunakan bahasa gaya anak Jakarta 'gue-lo' kepada orang yang dianggapnya sederajat.


“ Aku kenapa..?” Tanya Daniel yang tetap setia menggunakan bahasa Indonesia baku, ' Aku-kamu'.


“ Daniel, kirain lo itu.. Soalnya gue melihatnya cuma baju putih lo aja..” Kata Cicilia sambil mengusap-usap dadanya.

__ADS_1


“  Aku memang suka menghilang dikegelapan. Tetanggaku juga suka mengolok-olok aku saat mati lampu. Nggak apa-apa, aku sudah terbiasa, ko..” Kata Daniel dengan perasaan dongkol.


“ Lho, lo ko masih di sini..? Ngapain, Daniel..?” Tanya Cicilia kemudian.


“ Hm, iya, nih, aku mau mengucapkan ‘Happy birthday’ buat kamu..” Jawab Daniel sedikit gugup sambil menyodorkan kado lukisan wajah Cicilia yang digulung.


“ Ow, duh. Terima kasih ya, Daniel..Wah, Lukisannya bagus banget. Kamu pesan di mana..? Di Pasar Baru atau Ancol..?” Tanya Cicilia sambil memandang lukisan wajahnya.


“ Aku bikin sendiri, ko, Ci.. “


“ Ooo, masa..?! Wah, diam-diam kamu berbakat juga, ya..” Seru Cicilia sambil memoles wajahnya dengan spon.


Hati Daniel mendadak berbunga-bunga seperti taman mendengar pujian Cicilia yang sebenarnya basa-basi belaka.


Setelah wajahnya nampak mengkilat dengan lapisan make up Cicilia kemudian bergegas meninggalkan  kelas. Lukisan wajahnya sengaja dibiarkan tergeletak di atas meja.


Tapi, Cicilia  tidak menghiraukan terikan Daniel karena bertepatan dengan panggilan pak Bobby di pesawat handphone-nya


“ Cici, sayang…Om, sudah di depan gerbang, ya..” Ucap pak Bobby.


“ Iya..Cici segera keluar, om..” Jawab Cicilia sambil berlari-lari.


“ Cici.., Cici..!” Teriak Daniel.


Tapi Cicilia langsung masuk kedalam mobil BMW biru metalik milik pak Bobby. Daniel terus berusaha mengejar Cicilia.

__ADS_1


“ Cici…! Cici, tunggu…!” Teriak Daniel  sambil mengendor-gedor jendela mobil.


“ Ada apa, Daniel..?” Tanya Cicilia.


“ Ini lukisan kamu ketinggalan..”


“  Tolong simpan saja dulu, ya...Bye-bye..” Seru Cicilia.


Cicilia dan pak Bobby langsung meninggalkan Daniel dengan hati yang terluka. Daniel kecewa dan juga panas hati. Lukisan yang telah digoreskannya segenap rasa seolah tidak dihargai. Karya seni itu ingin rasanya dia remas seperti bola kemudian lempar ke tong sampah. Tapi, Daniel beranggapan, bahwa yang pertama kali harus menghargai karya kita adalah diri kita sendiri, baru sisanya orang lain. Lukisan na'as itu kemudian Daniel bawa pulang lagi.


Tapi, ada yang membuat hati Daniel lebih panas dari bara api, yaitu ketika melihat Cicilia mencium pak Bobby di depan mata kepalanya sendiri. Sialnya, laki-laki yang dicium Cicilia tersebut berkulit hitam, bahkan lebih hitam dari kulit Daniel.


‘ Munafik, katanya tidak suka cowok hitam, buktinya dia mencium cowok hitam. Sudah gitu, orangnya tua.”  Daniel membantin sepanjang perjalanan pulang dari sekolah.' Uang sepertinya yang lebih berbicara..' Lanjutnya.


Sesampainya di rumah, Daniel membuka aplikasi e-commerce di handphone-nya. Dia iseng-iseng mencari produk pemutih khusus kaum pria. Entah mengapa, Daniel tiba-tiba seperti mau menempuh jalan pintas. Kalau perlu operasi plastik sekalian seperti si raja pop Michael Jackson. Tapi, Daniel kembali berpikir, berapa biaya yang harus dia keluarkan untuk membuat putih seluruh badan..? Karena tidak mungkin  dia menggunakannya pada  bagian-bangian terterntu saja. Hasilnya pasti belang belontang seperti buah kesemek.


‘ Sudahlah Daniel, jangan mengingkari takdir.  Terima saja karunia Tuhan apa adanya. Jika Cicilia tidak tertarik kepadamu gara-gara soal warna kulit, itu karena dia belum menemukan sesuatu yang menarik dari sesuatu yang tersebunyi dikegelapan. Karena, sebelum dia mengenal apa itu putih pasti sudah mengenal lebih dulu yang namanya hitam.’ Kata Daniel kepada dirinya sendiri.


Sesampainya Cicilia di sebuah villa, dia langsung memberi pelayanan yang terbaik untuk klien-nya, pak Bobby yang kini menjadi asset-nya. Setelah sebelumnya ada sejumlah nama, seperti Mr. Atanabe, pengusaha boneka dari Jepang, pak Abdul Madjid, seorang pengusaha berasal dari Malaysia, Mr. George, seorang tenaga ahli dari Amerika, Mr. Papoye, seorang pengusaha dari Negeria, dan sederet klien-nya dari berbagai warna kulit dan kebangsaan yang pernah singgah di Jakarta. Bagi Cicilia, soal warna kulit kline-nya yang beraneka rupa tidak masalah baginya. Yang penting mampu membayar setiap kali kencan sesuai kesepakatan.


“ Ayo, kita berenang, sayang…” Ujar pak Bobby  sambil membuka mantel dan menunjukkan body-nya yang hitam pekat dan merata, ditambah  bulu yang tumbuh di mana-mana.


Cicilia sejenak terpana melihat body pak Bobby yang bersiap-siap melompat kedalam kolam renang. Bukan karena pak Bobby nampak sexy di mata Cicilia tapi, justru nampak begitu menakutkan. Tapi, demi klien hal tersebut Cicilia abaikan. Terlebih sebelumnya pak Bobby telah mentransfer sejumlah uang sebagai DP.


‘ Jangan sampai jodoh gue nanti  hitam kelam seperti itu..’ Bisik Cicilia di dalam hati sambil bersiap-siap ikut turun kekolam renang.

__ADS_1


Sungguh, jika hati telah menghitam apa pun bisa lakukan demi uang, demi barang-barang mewah. Konon, jika harga tas seorang perempuan lebih mahal daripada harga diri yang mengenakannya pertanda kehidupan ini  telah berada di akhir jaman.


__ADS_2