
"Lo yakin Ar sama keputusan Lo ini?" ujar Zeela yang kini baru saja selesai memasukan pakaiannya kedalam koper miliknya dan juga Arjuna.
"Gue udah pikirin ini dari jauh-jauh hari Zee, jadi apa perlu gue pikir-pikir lagi."
"Iya tapi kan_"
"Zee, gue udah married itu tandanya sekarang gue udah punya tanggung jawab sendiri, gue nggak mungkin terus-terusan tinggal disini kan?"
"Tapi Ar, kita belum minta izin sama mama papa kan, gimana kalau mereka nggak ngizinin?"
"Soal itu Lo nggak usah khawatir, mereka nggak akan peduli."
"Gimana kalau mereka ngelarang?"
"Itu nggak mungkin Zee, karena mereka nggak pernah peduli sama gue."
"Ar, nggak ada orang tua yang nggak peduli sama anaknya."
"Tapi buktinya ada Zee." Arjuna menyahut dengan nada tinggi.
"Ikut gue, atau tetap disini dan jadi istri durhaka."
Zeela men desah, dengan terpaksa ia mengangguk dan mengikuti langkah suaminya menuruni tangga.
Tepat saat keduanya turun, Dara dan Arthur keluar dari kamar mereka!
Sesaat Arthur tertegun saat melihat dua buah koper besar yang tengah diseret oleh putranya Arjuna.
"Ar, ada apa ini, kamu mau kemana?" Arthur mendekati putranya dengan raut wajah panik.
"Kita mau pindah pa." Zeela yang menyahut, karena Arjuna hanya diam dan seperti enggan untuk berbicara.
"Pindah bagaimana maksudnya? kalian mau tinggal dimana?"
"Aku udah beli rumah, jadi mulai malam ini kita akan menempati rumah itu." kali ini Arjuna yang berbicara.
__ADS_1
"Tapi Ar, kamu punya uang darimana? belum lagi kebutuhan kamu dan istri kamu kedepannya bagaimana, kamu masih sekolah lho kalau kamu lupa, Zeela apa lagi dia baru kelas XI kan Ar?"
"Nggak masalah, aku bakalan kerja."
"Papa nggak setuju Ar, nggak bisa pokoknya kamu dan Zeela akan tetap tinggal disini sampai kalian benar-benar_"
"Maaf pa, tapi keputusan aku udah bulat! aku akan tetap keluar dari rumah ini."
"Tapi Ar_"
"Silahkan kalau kamu memang ngotot ingin pindah rumah Ar, kamu pikir kehidupan diluar itu enak, coba saja! mama yakin nggak lama lagi kamu pasti kembali kesini.''
Mendengar sang mama bicara, kedua tangan Arjuna terkepal kuat, ckk.. dia pikir mamanya akan menentang keras Kepergiannya karena kini sudah ada Zeela, tetapi nyatanya Dara tetap tak peduli dan justru malah terlihat senang dengan Kepergiannya.
"Aku pamit pa." meraih tangan Arthur dan juga Dara secara bergantian.
"Zeela jaga diri baik-baik ya, kalau ada apa-apa Zeela langsung pulang ya." ujar Dara sembari memeluk menantu kesayangannya.
*
Lima belas menit menempuh perjalanan dari rumah kedua orang tuanya kini Arjuna dan Zeela sampai disebuah rumah yang terbilang cukup sederhana, tidak terlalu bagus namun tidak terlalu jelek juga, suasananya cukup nyaman dan asri.
Arjuna mengangguk, "Sorry ya, gue belum bisa beli rumah yang bagus, tapi gue bakalan tetap usahain kok Zee, suatu saat gue pasti bisa ngasih Lo rumah yang lebih bagus dari ini."
Zeela tersenyum, "gue nggak masalah kok Ar, yaudah masuk yuk."
"Ayok!"
Arjuna mengeluarkan kunci yang sudah beberapa hari ini ia simpan dari pemilik rumah sebelumnya, membuka pintu tersebut lalu menyalakan lampu yang memang belum menyala.
"Kamar kita ada disana." menunjuk sebuah kamar yang berada di paling depan tepatnya disebelah kiri ruang tamu.
"Rumahnya bersih banget ya, gue kira kotor lho Ar, karena masih baru."
"Setiap hari ada orang yang bersihin rumah ini Zee."
__ADS_1
"Siapa?"
"Ya, asisten rumah tangga yang bakalan kerja disini, tapi hari ini dia pulang dulu ada keperluan katanya, mungkin besok dia udah balik lagi."
''Padahal nggak pake ART pun gue bisa kali Ar ngerjain semua tugas rumah, nggak terlalu gede ini kan? gue rasa gue sanggup ngerjain semuanya."
"Tugas Lo cuma jadi istri gue Zee, buat tugas lainnya biarin bibi yang ngerjain, Lo juga masih harus ngurus tugas-tugas dari sekolah kan? makanya gue udah siapin ini sejak awal."
Zeela men desah, dalam hal ini Arjuna memang cukup pengertian, tapi apakah ia bisa untuk bertahan hidup berdua saja tanpa bantuan dari orang tuanya, karena sejak kemarin Arjuna melarang dirinya untuk menggunakan uang pemberian dari orang tuanya, dengan alasan bahwa mulai sekarang dialah yang bertanggung jawab penuh atas semua kebutuhannya.
"Ar, padahal kalau nggak! gue ajak bi Imah aja."
Arjuna menggerenyit dengan kedua alis bertaut, "Kok bi Imah? kan udah ada bi Arum."
"Masalahnya gue udah nyaman sama dia."
"Zee, dengerin gue! mungkin sekarang Lo belum nyaman sama bi Arum, ART baru kita! tapi gue yakin lama kelamaan Lo juga bakalan nyaman kok, lagian emangnya Lo nggak kasihan lihat bi Imah yang harus bolak-balik kesini sama kerumah orang tua Lo!"
"Iya sih."
"Yaudah, sekarang Lo istirahat! soal baju-bajunya biar besok bibi yang rapihin."
"Yaudah."
"Keadaan rumah sepi banget ya Ar, kalau cuma ada kita berdua." ujar Zeela, yang sudah lebih dulu duduk dipinggiran kasur sembari menatap sekeliling kamar yang memang terasa asing baginya.
Sementara Arjuna sibuk mengeluarkan beberapa perlengkapan sekolah untuk ia pakai besok pagi.
"Lo mau rumah ini jadi rame Zee?" sahut Arjuna yang kini beranjak menghampiri Zeela mengungkung tubuh gadisnya dengan kedua tangan yang bertumpu disisi ranjang.
Cup..
Satu kecupan lembut mendarat dibibir mungil Zeela, gadis itu terdiam dengan kedua mata mengerjap kaget.
"Gimana kalau malam ini kita buat suasana jadi sedikit bising.?" ucapnya dengan suara berbisik, sembari menciumi lehernya beberapa kali.
__ADS_1
*
*