
Akhir-akhir ini pikiran Daniel menjadi kurang fokus, seperti melayang-layang tak jelas arahnya. Itu tak lain dari dampak suasana hatinya yang sedang keruh, pahit dan menyempit akibat kekecewaan yang mendalam.
GLEGEK..! Daniel menelan ludahnya sendiri.
Prilaku Daniel kemudian menjadi tidak control, sradak-sruduk, seperti ketiak ia sedang bersepeda motor di jalan raya suatu siang ketika akan hendak berangkat kesekolah. Gas sepeda motor yang dikendarainya dikebut hingga knalpotnya meraung merobek gendang telinga banyak orang. Tingkah yang membuat pengguna jalan lainnya terpancing emosinya menjadi dan bersumpah serapah. Tapi, Daniel tidak perduli.
Ketika asik meluncur dengan kecepatan tinggi, tiba-tiba pandangan matanya kabur pada jarak beberapa puluh meter dari seorang penyapu jalanan yang tengah bekerja. Motor Daniel kemudian menghantam ujung sapu orang itu. Ibu kuli penyapu jalan itu kemudian terpelanting dan jatuh terkapar di trotoar. Begitu juga Daniel, karena panik, sepeda motornya menjadi sulit dikendalikan. Walhasil dia terjerembab kedalam parit yang penuh kotoran.
Untunglah tidak ada korban jiwa ketika insiden itu terjadi. Penyapu jalanan hanya mengalami luka ringan pada bagian lengan dan kakinya. Daniel juga demikian, dia hanya mengalami memar-memar. Yang berat justru menanggung beban mental, di mana Daniel menjadi bahan cemooh banyak orang. Bahkan ada yang mengabadikan kejadian itu dengan video dan kamera handphone-nya masing-masing, kemudian di upload untuk dijadikan bulan-bulanan warga net.
“ Mohon maaf, bu, ini semua salahku. Mari aku antar kedokter.” Ucap Daniel sambil berusaha membantu perempuan itu mengangkat badan dengan tampang pucat.
“ Tidak apa-apa, dik.. Namanya juga musibah. Tidak, tidak usah dibawa kedokter. Cuma lecet-lecet saja, ko..” Jawab ibu itu.
Ibu itu mencoba berdiri sambil merintih sakit pada bagian pinggangnya. Membuat Daniel hewatir dan sedikit memaksa untuk mengantarkannya pulang.
“ Ayo, bu, biar aku antar pulang..” Kata Daniel sambil memapah ibu itu.
“ Iya, bolehlah..Kebetulan pekerjaan ibu sudah hampir selesai.”
Ibu petugas kebersersihan jalan umum itu kemudian diantar Daniel pulang, yang jaraknya tidak seberapa jauh dari tempat kejadian.
“ Silahkan masuk, dik..Maaf, rumah ibu berantakan.” Kata ibu itu mempersilahkan Daniel masuk keruang tamu.
“ Aku tidak lama-lama, bu..Ini uang, barang kali bisa ibu gunakan jika ingin berobat.” Kata Daniel sambil menyodorkan beberapa lembar uang pecahan seratus ribuan.
“ Tidak usah, dik..Ibu tidak apa-apa, ko..”
Tapi, Daniel memaksa perempuan itu untuk membuka tangan.
“ Kalau begitu aku pamit dulu, ya, bu..” Ucap Daniel.
“ Iya. Terima kasih atas bantuannya. Hati-hati di jalan, jangan ngebut lagi, ya.”
Baru beberapa langkah hendak keluar dari ruang tamu, sekilas Daniel melihat ada sebuah poto Cicilia yang terpajang di ruang tamu rumah sederhana yang temboknya nampak kusam dan berjamur itu. Hati Daniel tersentak melihat poto itu.
“ Maaf, itu poto siapa ya, bu..?” Tanya Daniel sambil menunjuk poto.
“ Oo, itu anak ibu yang pertama.”
‘ Anak ?’
“ Hmm.., wajahnya sepertinya tidak asing lagi. Kalau boleh tahu, siapa nama anak ibu itu ?” Tanya Daniel memastikan dugaannya.
“ Namanya Cicilia Putri.”
“ Cicilia..?!” Seru Daniel sambil menahan napas.
“ Iya. Adik memangnya kenal..?”
__ADS_1
“ Cicilia itu teman sekelasku, bu..” Seru Daniel dengan perasaan bercampur aduk.
“ Teman sekelas..?! Ooo,alaa…”
“ Kemana dia sekarang, bu ?"
“ Ibu tidak tahu. Dia kan tidak tinggal di sini lagi. Oya, nama adik siapa, ya..?”
“ Daniel, bu. Ooh. Dia sekarang tinggal di mana memangnya, bu ?”
“ Entahlah, ibu sendiri tidak tahu persis. Ada yang bilang dia tinggal di tempat kost, ada yang bilang tinggal di apartement. Karena dia sekarang jarang pulang.” Jawab ibu Sutinah.
“ Jarang pulang..?”
“ Iya, sudah beberapa bulan tidak pulang. Semenjak bapaknya pergi meninggalkan rumah, mungkin dia mau belajar hidup mandiri. Padahal ibu kepinginya dia tinggal bersama ibu sambil menemani adiknya.”
“ Memangnya selain sekolah Cici juga bekerja, bu..?” Tanya Daniel menyelidiki.
Ibu itu mengangguk pelan. Kemudian menarik napas dalam-dalamseperti hendak melepas beban di hatinya. Perempuan kurus itu tengah memendam kekecewaan kepada dirinya sendiri yang tak mampu menghidupi anaknya dengan layak dan akhirnya menempuh jalan hidup masing-masing.
Ibu Sutinah tiba-tiba teringat saat Cicilia mulai menunjukkan sikap protes terhadap kenyataan keluarga yang pahit.
“ Sampai kapan hidup kita seperti ini, bu..? Serba kekurangan..?” Kata Cicilia suatu hari kepada ibunya.
“ Cici, jangan ngomong seperti itu. Sudah bisa makan setiap hari saja sudah bagus.” Kata ibu Sutinah.
“ Sabar, Cici..Segalanya butuh perjuangan. Sekarang ini ibu sedang berjuang bagaimana caranya bisa memenuhi kebutuhan makan dan pendidikan kamu sama adikmu, Adrian.” Ucap ibu Sutinah lemah lembut.
“ Seandainya bapak tidak meninggalkan kita, tidak kepelet perempuan lain, keadaan kita tentu tidak sesulit ini. Ibu tidak perlu bersusah payah mencari nafkah. Kenapa sih bu, bapak bisa sebegitu tega terhadap kita..?” Tanya Cicilia sambil menangis.
“ Sudahlah.., relakan saja. Jangan hewatir, ibu juga masih kuat bekerja, ko..” Kata ibu Sutinah mencoba menguatkan anaknya dan dirinya sendiri.
Sebuah perceraian dalam rumah tangga memang bisa menjadi dilema. Dihalalkan oleh agama namun, sekaligus dibenci Tuhan, Karena dampak buruk yang akan ditinggalkan. Anaklah yang jelas akan menjadi korban perpisahan kedua orang tua.
Cicilia masih saja tidak tenang melihat ibunya yang sering sakit-sakitan tapi tak urung tetap harus menanggung beban ekonomi keluarga. Dari menjelang subuh hingga siang setiap hari ibu Sutinah memeras keringat dan menghirup debu jalanan demi kedua anaknya.
Terlintaslah dibenak Cicilia untuk ikut meringankan beban ibunya. Ketika itu dia sendiri tidak tahu apa yang harus dilakukannya. Kepada kawan sekelasnya yang bernama Eva itulah Cicilia kemudian belajar memperoleh penghasilan tanpa meninggalkan bangku sekolah.
“ Lo itu jualan apaan, sih sebenarnya..? Produk online, ya..? Yang dropship, gitu..?” Tanya Cicilia kepada Eva yang masih merahasiakan profesinya.
“ Promosi secara online juga bisa. Kalau dibilang produk, mungkin masuk dalam kategori jasa kali, yee... Tapi, nggak bisa dropship.”
“ Jasa..? Jasa perawatan rumah..? Jasa apaan, sih..?” Desak Cicilia penasaran.
“ Jasa kesehatan lahir batin..Hahaha..!”
“ Jasa kesehatan..?”
“ Iya. Pijit panggilan…Hihihihi..” Jawab Eva sambil cekikikan.
__ADS_1
“ Haah ? Pijit..? Lo jadi tukang pijit ? Iiih..Sekalian aja buka plang dipinggir jalan.” Kata Cicilia menyeringai.
“ Pijit itu sebenarnya cuma printilan, untuk sekedar pemanis supaya menarik pelanggan. Tapi bukan itu intinya yang diberikan kepada klien.”
“ Terus apa, dong..?!” Seru Cicilia makin penasaran.
“ Kehangatan untuk klien. Hahaha…!”
“ What..?! Serius, lo..? Kenapa nggak sekalian aja jualan kompor, Va..?"
Setelah Eva membeberkan profesinya yang sebenarnya, Cicilia berpikir keras dan berulang kali sebelum memutuskan sebab, menyangkut harga diri dan masa depannya kelak.
“ Bagaimana ? Lo mau ikutan nggak ? Kalau mau, ada nih klien tajir. Emang sih udah tua banget. Umurnya kira-kira enam puluh sampai enam puluh limaan gitu, deh. Dia itu lagi butuh teman kencan yang cantik dan fres.” Kata Eva.
“ Ya, ampun. Ko, udah kakek-kakek masih doyan jajan. Dia ko nggak takut gagal jantung di atas tempat tidur, ya.? Edan !"
“ Horang kayah mah bebas, taoo.., Mungkin dia bingung mau buang duit kemana. Tapi, justru enak ko melayani kakek-kakek. Cepat kelar dan kita bisa langsung pulang bawa duit. Hahaha…!”
“ Gila..!”
“ Kalau lo nggak mau ya, nggak apa-apa. Gue juga nggak maksa. Tapi, kalau mau, mungkin bisa untuk membantu ekonomi orang tua lo.” Kata Eva.
“ Hasilnya sepadan nggak.?”
“ Soal itu pinter-pinter lo morotin klien aja, sih..Tapi, yang namanya bos, duit puluhan bahkan ratusan juta sih kecil untuk sekali kencan.”
“ Masa, sih..?”
“ Ya, ampun nggak percaya. Gue nih, awal kencan langsung kebeli sepeda motor baru,cash ! Gue juga berasal dari keluarga nggak punya. Itu belum lagi, tas, kalung, gelang. Pokoknya banyak, deh..” Kata Eva sedikit bangga.
Setelah menimbang-nimbang, akhirnya Cicilia memberi keputusan yang berpengaruh besar terhadap nasib kehidupannya dia selanjutnya.
“ Oke, gue coba..” Kata Cicilia pelan.
“ Serius, lo ?” Eva memastika, Cicilia mengangguk.
Karena Cicilia terlihat serius ingin mengikuti jejaknya, ditambah penampilannya yang mendukung, Kemudian Eva membantu Cicilia untuk mendapatkan pelanggan pertamanya, yaitu seorang kakek-kakek yang jalan saja harus dituntun. Bisa dibayangkan keadaan Cicilia ketika itu, yang sulit dibedakan antara sebagai perempuan panggilan dengan perawat panti jompo.
Setelah berjalan sekian hari, Cicilia membuktikan bahwa apa yang dia peroleh dengan apa yang dikorbankan ternyata sepadan. Profesi tersebut membuat Cicilia semakin keranjingan. Sebab, semua keinginannya dapat dipenuhi dengan mudah. Dari yang awalnya berniat sekedar ingin membantu ibunya mencari nafkah, sampai akhirnya bertujuan untuk mendukung kebutuhan konsumtifnya. Cicilia kebablasan !
Tapi, ibunya hingga kini tidak mau ikut menikmati hasil jerih payah anaknya tersebut.
“ Lebih baik ibu tetap menjadi penyapu jalanan daripada ikut menikmati hasil keringatmu yang tidak halal. Silahkan cari dan nikmati sendiri usaha kamu. Ibu tidak akan mau memakan, walau itu sebutir nasi.” Kata ibu Sutinah suatu hari ketika Cicilia mulai berani membeberkan kerja sampingan yang dia lakukan.
Karena malu, Ibu Sutinah seperti sengaja menutup-nutupi profesi anaknya kepada Daniel, meskipun sebenarnya Daniel sudah lama mendengar desas-desus profesi Cicilia di sekolahnya itu.
“ Pamit dulu, bu..” Ucap Daniel kepad ibu Sutinah sambil bersalaman.
Kemudian Daniel melanjutkan perjalanan menuju sekolahannya dengan pikiran yang semakin semraut tidak karu-karuan.
__ADS_1