PENGANTIN REMAJA

PENGANTIN REMAJA
Amanda


__ADS_3

Setelah mendapatkan izin dari petugas rumah sakit, Arjuna pun diperbolehkan untuk menemui Amanda, selain itu ia juga dibantu seorang suster untuk menemui Amanda ditempatnya saat ini.


"Itu Bu Amanda mas." ujar suster yang berdiri disampingnya.


"Itu_ beneran Tante Amanda?" tanyanya tak percaya, saat melihat wanita yang ia temui dua bulan yang lalu kini tengah berbicara sendiri dan sesekali tertawa menatap kedua boneka yang ia pegang.


"Betul mas, setiap saat Bu Amanda memang akan terus berbicara dengan kedua boneka itu." lanjut sang suster, sembari menunjuk dua buah boneka beruang yang tampak kumal ditangan Amanda.


"Apa penyakit seperti ini bisa disembuhkan sus?" tanyanya tanpa mengalihkan tatapannya dari Amanda.


"Bisa mas, tapi kemungkinan membutuhkan waktu yang cukup lama, dan tergantung separah apa kondisi pasien, selain itu untuk membantu kesembuhannya sangat dibutuhkan dukungan kuat dari keluarga pasien." jelas sang suster.


"Lakukan yang terbaik untuk dia sus, berapapun biayanya akan saya bayar."


"Ini bukan soal biaya, saya tidak bisa berjanji mas, tapi saya dan semua perawat juga Dokter yang ada disini akan berusaha semampu yang kami bisa, oh iya mas, saya masih harus mengurusi pasien lainnya saya tinggal dulu nggak apa-apa kan mas."


"Iya sus, terimakasih sudah mengantar saya sampai sini."


"Sama-sama."


Setelah kepergian sang suster, Arjuna mendekati Amanda yang saat ini tengah duduk sendirian dibangku taman, namun dengan jarak yang sedikit jauh, melihat bagaimana cara Amanda berinteraksi dengan kedua bonekanya.


"Clara, Naya haus!"


"Iya, ma."


"Cucu Oma, haus? iya."


Amanda menjawab sendiri ucapannya sembari menggerakkan boneka tersebut.


Sementara dibelakangnya Arjuna mundur satu langkah, lalu berbalik dengan kedua tangan terkepal, hatinya merasakan sakit yang teramat saat mengetahui kenyataan bahwa Amanda wanita yang memiliki tutur kata yang sangat lembut serta sudah ia anggap sebagai ibu kandungnya sendiri itu kini mengalami gangguan jiwa.


Yang entah kapan bisa sembuhnya.


Bukan tanpa alasan Arjuna menganggapnya sebagai ibu kandungnya sendiri, karena sejak kecil hingga memasuki sekolah menengah pertama Arjuna memang dirawat oleh Amanda, karena kedua orang tuanya sibuk mengurusi Sultan yang saat itu mengalami kecelakaan hingga membuat kedua kakinya lumpuh selama beberapa tahun.


*


Cklek..


Zeela mendongak, saat mengetahui jika ada seseorang yang membuka pintu kamarnya dari luar.


Diambang pintu yang sudah setengah terbuka itu, Sultan berdiri seraya menatap Zeela dengan tatapan penuh luka, lalu menutup pintu itu kembali dan menghampiri Zeela, membuat gadis itu refleks berdiri, menatapnya dengan sedikit takut.


"Kak_"

__ADS_1


Tanpa peringatan dan meminta izin terlebih dulu, pria itu menarik tubuh mungil Zeela kedalam dekapannya.


"Aku sangat merindukanmu Zee, seharusnya aku yang menjadi suamimu sekarang ini, bukan Arjuna." ungkapnya dengan kedua mata terpejam, tanpa melepaskan Zeela yang masih menempel ditubuhnya.


Sultan seolah sedang menumpahkan seluruh perasaannya, perasaan rindu, hancur, kecewa yang menumpuk menjadi satu.


"Kak, tapi ini salah kak, aku sudah menikah dengan Arjuna, dan status kita itu sekarang hanya sebatas kakak dan adik ipar, nggak lebih." jawab Zeela, yang tengah berusaha menahan laju air matanya, karena sejujurnya melupakan Sultan memang tidaklah mudah, terlebih mereka sering bertemu dalam satu atap yang sama.


"Katakan padaku, kalau semua yang diucapkan Arjuna itu bohong! kamu tidak mencintainya kan, tapi kamu mencintaiku."


"Kak_"


''Kamu dan Arjuna masih bisa bercerai Zee, dan setelah itu aku akan segera menikahi kamu, kita keluar dari rumah ini, untuk memulai hidup baru yang bahagia."


"Nggak bisa kak."


"Kenapa nggak bisa Zee?"


"Kak, aku mohon lepasin kak, aku nggak mau kalau sampai ada orang yang lihat kita yang begini, terutama Arjuna."


"Biarkan saja, justru aku ingin dia melihat kita yang begini, biar dia tahu kalau kita saling mencintai."


"Kak, aku mohon_"


Disaat yang sama, pintu kamar terbuka lebar, Arjuna mendekat dengan tatapan datarnya.


Santai Sultan mengurai pelukan, lalu menoleh kearah Arjuna yang tampak murka.


"Belum puas Lo gangguin bini gue, kenapa? Lo masih belum terima juga kalau Zee sekarang milik gue."


Sultan melengos, tanpa kata dia berlalu pergi dari kamar tersebut.


"Baru gue tinggal bentar aja Lo udah berani kek gitu dibelakang gue, segitu cintanya Lo sama mantan, CK!"


"Ar, tadi_"


"Buat kali ini aja bakalan gue biarin, tapi nggak ada lain kali."


"Ar, gue_"


"Gue capek, dan lagi males ngomong, gue mau istirahat." ucap Arjuna memotong kalimat yang hendak Zeela ucapkan.


Zeela mengangguk, mungkin benar yang dikatakan Arjuna jika pemuda itu tengah capek, terlihat dari wajahnya yang tampak kelelahan dan tak bersemangat.


Akhirnya ia hanya bisa menghela napas, dan memilih untuk menunggu waktu yang pas untuk berbicara baik-baik dengan suaminya.

__ADS_1


*


"Apa nih?" ujar Arjuna dengan kening berlipat saat melihat semangkuk bubur sum-sum yang diberi Fla gula merah serta biji salak diatasnya, diletakkan Zeela dikedua telapak tangannya.


"Coba aja, kalau Lo nggak suka nggak usah dimakan." jawabnya, lalu ikut duduk disamping Arjuna yang duduk berselonjor diatas ranjang.


Sesaat Arjuna diam menatap makanan diatas pangkuannya, bukan ia tak pernah memakan makanan seperti ini, tetapi makanan itu justru mengingatkan nya pada sosok Amanda, yang dulu sering membuatkan untuknya.


"Dari mana Lo beli ginian?" tanyanya, karena seingatnya ditempat tinggal maupun di pasar-pasar terdekat sudah jarang yang menjualnya.


"Beli dimana, emang ada yang jualan?" Zeela balik bertanya.


Arjuna tampak mendengus, "Terus ini dari mana?"


"Ya_ ya gue bikinlah." balasnya, membuat Arjuna langsung menoleh kearahnya.


"Bisa emang?"


"Ya bisa, kan dirumah gue sering bikin, diajarin mama Arin sih dulu sebelum dia sakit kek sekarang, dia bilang sih rasanya lumayan enak, nggak kalah sama bikinannya, malah dia bilang rasanya lebih enak bikinan gue." ucap Zeela seraya menyengir.


Arjuna mengangguk kecil, ada perasaan hangat dalam dada saat mengetahui jika istrinya bisa membuat makanan yang dia sukai.


Namun meski begitu ia tidak memperlihatkan perasaan senangnya, dan justru kini memasang wajah judes seperti sebelumnya.


"Bisa masak juga ternyata, kirain Lo cuma pinter tebar pesona doang."


"Siapa yang suka tebar pesona sih,?" gerutu Zeela tak suka.


"Elo."


"Kapan gue kek gitu."


"Sering."


"Tapi gue kan nggak_"


"Bawel Lo, mandi sana." usirnya, mengibaskan tangan, membuat Zeela membrengut, beranjak dengan kaki yang dihentak-hentakan menuju kamar mandi.


Melihat itu, Arjuna terkekeh dan mulai memakan makannya.


Satu suapan pertama, membuatnya menggerenyit dengan rasa yang luar biasa dilidahnya.


"Enak juga.'' gumamnya, dan kembali memakannya lagi hingga tak tersisa sedikitpun.


*

__ADS_1


*


__ADS_2