
"Gimana keadaan kamu?" ujar Sultan yang kini duduk disamping ranjang pasien yang ditempati Alya.
"Kenapa datang lagi?" Alya balik bertanya tanpa mengalihkan tatapannya dari kedua tangannya yang bertaut diatas paha.
"Aku ingin memastikan keadaan kamu dan Syifa baik-baik saja."
"Kami baik-baik saja."
"Alya, aku tahu kamu lebih dari kata marah terhadapku, aku sudah melakukan kesalahan fatal selama ini dengan meninggalkan kamu yang dalam keadaan mengandung anakku saat itu."
Mendengar itu Alya melengos, menekan kedua matanya yang terasa memanas, mengapa Sultan tiba-tiba kembali dihadapannya membahas masalalu yang sudah ia kubur dalam-dalam dengan susah payah.
"Alya_"
"Yang sudah berlalu biarlah berlalu, lupakan dan jangan ungkit lagi."
Sultan tersenyum getir, "Ayo kita menikah Al."
Deg!
Tubuh Alya seketika membeku, ia mendongak menatap wajah tampan Sultan yang dipenuhi rasa bersalah.
"Al_"
"Kita tidak memiliki urusan apapun, jadi saya harap anda keluar sekarang juga."
"Aku kasih kamu dua pilihan Al, menikah denganku lalu kita merawat Syifa bersama, atau kamu menolakku dan kehilangan Syifa."
__ADS_1
Deg!
Kedua tangan Alya terkepal, bisa-bisanya laki-laki itu muncul dan mengancam dirinya dengan tiba-tiba.
"Atas dasar apa anda mengambil anak saya, saya ini ibunya, anda sama sekali tidak berhak apapun atas putri saya."
"Jangan lupakan, Syifa Putriku juga Alya."
Alya berdecih, "Sejak kapan Syifa menjadi Putri anda tuan, asal anda tahu sejak dia berada dalam perut saya dia tidak memiliki siapapun lagi selain saya ibunya." teriak Alya dengan napas naik turun menahan emosi yang meledak-ledak.
"Alya, aku tahu kamu membenciku, aku juga sadar selama ini aku tak pernah menafkahi Syifa, maka dari itu mulai detik ini aku akan merawat dia menghidupi dia semampu yang aku bisa."
"Nggak akan ada yang mengambil Syifa dari saya, siapapun itu termasuk anda."
Crakkkk..
Beruntung tak lama Dokter dengan ditemani dua perawat masuk kedalam ruangan tersebut membantu menghentikan aksi Alya dengan cara menyuntikya dengan obat penenang.
Tepat saat Alya tenang dan mulai tertidur, Rahayu datang meraih tangan Sultan menariknya keluar lalu menampar pipi pria tersebut dengan keras.
Disaat yang sama, Dara dan Arthur tiba disana, wanita itu menutup mulutnya tak percaya saat melihat adegan yang begitu nyata terjadi didepan matanya.
Begitupun dengan Zeela yang hampir memekik, memegangi sisi jaket Arjuna yang berada disampingnya.
Ya, saat mengetahui jika Alya dan Syifa kecelakaan karena ulah kakaknya, sore ini Arjuna memutuskan untuk menjenguk Alya dan Syifa dengan ditemani Zeela.
"Untuk apa kamu kembali mendekati anak saya, belum puas kamu membuatnya menderita, Belum puas kamu menghancurkan kehidupannya hah?" sentak Rahayu dengan linangan air mata.
__ADS_1
Sudah sejak lama ia menahan semuanya, menahan amarah dan rasa sakit melihat penderitaan putri semata wayangnya yang sudah ia hancurkan tanpa sebuah pertanggungjawaban.
Sementara itu Dara yang juga tak tahan melihat anaknya tertunduk pasrah sedikit berlari menghampiri.
"Sultan, nak kamu tidak apa-apa?" ucapnya penuh kekhawatiran.
"Aku pantas mendapatkan ini semua ma, aku yang salah! Tante Rahayu benar, aku sudah membuat Alya menderita."
"Sultan?"
"Syifa Putriku ma, dia anak kandungku."
Dara ikut menunduk wanita itu menangis, "Kenapa kamu nggak jujur sejak awal sama mama, kalau Syifa itu memang anak kandung kamu, cucu mama."
"Maaf ma, Saat itu aku nggak berpikir banyak! aku terlalu sibuk mengobati hatiku tanpa mempedulikan ada banyak hati yang lebih terluka karena aku."
"Tante, ampuni saya! saya siap menerima hukuman apapun yang akan tante kasih kesaya, asalkan tante jangan melarang saya untuk bertemu dengan Syifa tante." mohonnya, sembari berjongkok dihadapan Rahayu dengan kedua tangan terkatup didepan dada.
Rahayu memalingkan wajah, ia benar-benar sangat membenci pria dihadapannya, karena dialah masa depan putrinya menjadi suram, karena dia juga putrinya trauma menjalin hubungan dengan laki-laki lain dan sulit untuk didekati.
"Tante."
"Saya sangat kecewa terhadap kamu, tapi saya juga tidak bisa memberikan keputusan apapun, karena semua keputusan ada pada Alya sendiri."
*
*
__ADS_1