
"Ar, Lo kenapa Ar?"
Zeela yang merasa panik mengguncang-guncangkan tubuh lemah itu, dan meletakkan kepala Arjuna diatas pangkuannya.
"Biarkan Zee, dia memang pantas mendapatkan itu semua, karena dia udah merusak hubungan kita."
Mendengar Sultan bicara Zeela mendongak menatap pria tinggi itu dengan tatapan kecewa.
"Kenapa cuma Arjuna yang dipukul, aku juga salah kak, karena aku sudah mengkhianati kak Sultan."
"Zee, kenapa kamu jadi belaian dia sih, bajingan ini benar-benar sudah meracuni pikiran kamu sepenuhnya."
Zeela menggeleng, "Maaf kak, tapi walau bagaimanapun Arjuna sekarang suami aku."
Deg!
'Suami' mendengar sebutan itu ditujukan untuk orang lain, lebih tepatnya untuk Arjuna, membuat Sultan sangat muak, seharusnya sebutan itu untuk dirinya kan?
Sultan melengos, ada yang terasa menancap didalam dadanya sana, sesakit inikah rasanya dikhianati terlebih oleh adiknya sendiri, tanpa mengatakan apapun lagi pria tersebut melangkahkan kaki meninggalkan ruangan itu.
"Ar, bangun Ar, jangan kayak gini dong!" ujar Zeela sembari mengguncangkan bahu pemuda itu cukup kencang hingga membuat sang pemiliknya meringis dengan kekehan kecil.
Plaakkk...
Tangan kanan Zeela mendarat di dada Arjuna.
"Sakit Anjir, KDRT ini namanya."
"Abisnya Lo nggak lucu banget malah pura-pura pingsan segala."
"Kan biar dapet perhatian dari Lo Zee."
"Ckkk.. nggak lucu."
"Lucu kok, kata orang-orang gue ganteng lho Zee, lucu juga."
"Itukan kata orang, kata gue jelek!"
Arjuna men desah, "Susah banget Keknya ngakuin kalau gue itu emang ganteng."
"Berisik, pindah kekamar yuk!" ajaknya yang sudah berdiri lebih dulu.
"Wih ngajakin ngamar aja nih."
"Nggak usah mikir aneh-aneh, gue cuma mau ngobatin luka Lo."
Arjuna ikut berdiri seraya mengacak ujung rambutnya dengan de sahan kasar, "Kirain_"
"Buruan."
"Ckkk iya bawel!" dengan terpaksa ia mengikuti langkah istrinya, dan memilih duduk disisi ranjang sembari memperhatikan punggung Zeela yang perlahan menjauh dari hadapannya.
Gadis itu keluar dari kamarnya, namun tak lama ia kembali dengan memangku baskom kecil yang berisi es batu yang sudah dibalut dengan kain bersih.
"Kapok gue diobatin sama elo Zee, yang ada bukannya sembuh malah tambah sakit." gerutu Arjuna saat Zeela mulai menempelkan kain berisi es batu tersebut disudut bibirnya.
"Gue janji kali ini bakalan pelan-pelan, tapi Lo harus janji jangan nyebelin."
__ADS_1
"Iya."
Pelan, sangat pelan dan hati-hati Zeela mengompres wajah Arjuna yang babak belur, sementara Arjuna sendiri anteng memperhatikan wajah cantik Zeela dari jarak yang sedekat itu.
"Zee."
"Hmmm, apa?"
"Waktu nyokap Lo hamil Lo, dia ngidam apa sih?"
Zeela mendengus, saat mendengar ucapan Arjuna yang seolah sedang mengatai dirinya.
"Kenapa emang?" tanyanya galak.
"Nggak apa-apa sih, cuma nanya aja."
"Arjuna ihs, sekali lagi Lo nanya-nanya yang nggak penting, gue tambahin satu tonjokan."
Arjuna terkekeh, "Bisa gitu Zee, tangan Lo halus gitu mana kerasa mukul gue."
"Dih, malah nyepelein lagi, mau nyoba?"
"Lo cantik Zee." sahutnya dengan kedua mata menatap lekat kearah Zeela, membuat wajahnya terasa menghangat.
"Serius Zee, Lo cantik banget." lanjutnya dengan suara berbisik.
Zeela beranjak, sembari membawa baskom itu keluar dari kamar, "Basi, yang bilang gue begitu udah banyak."
*
''Mau kemana?" tanya Zeela saat melihat suaminya beranjak dari tempat tidur dan mengambil kunci motornya yang tergeletak diatas nakas.
"Keluar bentar."
"Tapi Lo kan masih sakit Ar?"
"Udah nggak apa-apa, gue pergi dulu ya." pamitnya, dan langsung keluar dari kamar berlari kecil menuju garasi dan mulai menyalakan motornya.
Setelah dua puluh menit menempuh perjalanan, akhirnya ia sampai ditempat yang ditujunya, sebuah rumah sederhana yang terletak disamping deretan kontrakan yang menjadi pembatas antara sawah dan perumahan.
Arjuna turun dari motornya kemudian mengetuk pintu rumah bercat pink pudar dihadapannya beberapa kali, tak lama seorang wanita paruh baya keluar membukakan pintu untuknya.
"Nak Arjuna?" ujar si wanita paruh baya tersebut menyapanya dengan senyum yang mengembang dari bibirnya.
"Tante, apa kabar?" tangannya terulur untuk menyalaminya.
"Baik, sangat baik! duduk dulu gih, tante buatkan minum dulu." menunjuk kursi yang berada diteras rumah.
"Eh, nggak usah Tan, saya nggak lama kok." cegahnya menghentikan langkah wanita itu.
"Nggak apa-apa Tante buatin."
"Jangan Tan, saya beneran nggak lama, soalnya udah ditungguin istri saya dirumah, Tante duduk disini aja temani saya ngobrol.''
Wanita itu menurut saja, lalu duduk berhadapan dengan Arjuna yang terhalang oleh meja.
"Barusan kamu bilang ditungguin istri, maksudnya?"
__ADS_1
Arjuna menunduk mengulum senyum, ia sendiri baru sadar bahwa ternyata ia sudah keceplosan bicara.
"Iya Tan saya udah nikah, baru dua hari sih."
"Kok nggak ada bilang sama tante sih, dan lagi bukannya kamu masih sekolah ya?"
Arjuna tampak gelagapan, ia menggaruk ujung alisnya bingung harus dari mana dulu menjelaskan nya.
"Panjang sih Tan ceritanya, tapi sumpah Tan aku nggak hamilin anak orang kok." akunya dengan kedua tangan terangkat, membuat wanita dihadapannya terkekeh.
"Tante percaya, tapi kok bisa sih?"
"Ngikutin jejak orang tuanya kali." jawabnya asal dengan tawa kecil.
"Bisa aja kamu."
"Oh iya Tante Amanda gimana keadaannya Tan, masih suka teriak-teriak nggak kalau malem? soalnya saya nggak tahu keadaannya yang sekarang, terakhir saya menemuinya dua bulan yang lalu, maaf saya baru datang lagi."
Wanita yang biasa disapa tante Miranda oleh Arjuna itu terlihat menunduk seolah berat untuk bercerita.
"Tan_"
"Sebenarnya dua hari setelah kamu datang kesini, keadaan Tante Amanda semakin memburuk Ar, dan dengan terpaksa akhirnya dia Tante bawa ke rumah sakit."
"Sakit apa kata Dokter, terus sekarang keadaannya gimana Tan?"
"Dia sakit_" Miranda memejamkan matanya, sebelum kemudian melanjutkan ceritanya, "Dia_ dia dinyatakan gila Ar."
Deg!
Arjuna tampak melengos, ada rasa tak percaya dan juga kaget memenuhi hati tentunya.
"Tan_"
"Itu benar Ar." memotong kalimat yang akan Arjuna ucapkan, karena ia yakin Arjuna pun sama tak percayanya seperti dirinya yang saat pertama kali mendengarnya.
"Boleh aku tahu alamat rumah sakitnya?"
"Harapan Baru."
"Oke, kalau begitu saya kesana dulu ya tan." Arjuna beranjak lalu menyalami Miranda dan berpamitan.
"Hati-hati Ar."
"Iya Tan."
Sebelum sampai dirumah sakit, Arjuna memutuskan untuk mampir terlebih dulu di sebuah tempat pemakaman umum yang setiap tahunnya selalu ia kunjungi, tak lupa ia membeli dua buket bunga untuk ia bawa kesana.
Arjuna berjongkok ditengah-tengah antara dua makam yang berdampingan, kemudian meletakkan masing-masing satu buket bunga diatas nisan tersebut.
Tersenyum saat melihat nisan bertuliskan Kanaya Michela Al-tezza, sebuah nama yang ia berikan ketika bayi cantik itu lahir, walau hanya bertahan beberapa hari saja.
Lalu ia menoleh melihat kearah makam disampingnya dengan nisan yang bertuliskan nama Clara Pamungkas, pemilik nama dari ibu Kanaya yang meninggal saat melahirkan bayi tersebut.
Setelah beberapa menit berada disana, Arjuna pun memutuskan melanjutkan perjalanan menuju rumah sakit untuk melihat secara langsung keadaan Amanda yang sebenarnya.
*
__ADS_1
*