PENGANTIN REMAJA

PENGANTIN REMAJA
Episode 5 Putus Asa


__ADS_3

Entahlah, apa sesungguhnya yang menjadi alasan Daniel tiba-tiba begitu perhatian kepada keluarga Cicilia. Karena alasan prihatin terhadap penderitaan ibu Sutinah yang berprofesi sebagai penyapu jalanankah ? Ingin menjadi kawan dekat dengan Adrian, adik Cicilia yang kebetulan memiliki hobby  sama, menggambar ? Atau karena alasan ingin mengetahui kehidupan pribadi Cicilia.? Aah, pintu mana pun masuknya, semua akan bermuara pada Cicilia sendiri, yang sampai saat ini tetap membuatnya jatuh cinta.


Minggu pagi, Daniel langsung meluncur kerumah rumah orang tua Cicilia. Di sebuah perkampungan padat


penduduk, Jakarta pinggir. Daniel ingin menepati janjinya untuk mengajarkan Adrian menggambar. Dan ini adalah perjuampaan kesekian kalinya dengan Adrian, tanpa sepengetahuan Cicilia sendiri. Dan memang Cicilia tidak perlu tahu kedekatan mereka sekarang ini. Tapi, Daniel berharap Cicilia akan tahu, betapa Daniel telah menanamkan perhatian kepada keluarganya. Bukankah cinta itu satu paket..? Mencintai Cicilia juga harus sayang dan perhatian kepada keluarganya. Ini adalah siasat halus untuk merebut hati Cicilia yang masih saja beku, masih saja memandang Daniel hanya sedalam  warna kulitnya, hitam.


Belum saja Daniel memasuki gang menuju rumah ibu Sutinah  yang sederhana, Cicilia sendiri sudah berada di dalam rumah orang tuanya  itu beberapa jam sebelum kedatangan Daniel. Jika dilihat dari kacamata skenario Tuhan, ini tentu bukan suatu kebetulan. Semua kejadian di muka bumi ini dalam genggaman dan aturanNya. Tidak ada istilah kebetulan. Soal cinta Daniel bergayung sambut atau tidak dengan Cicilia, itu bisa saja menjadi soal lain.


Cicilia masih menutupi keadaan dirinya yang telah hamil terhadap ibunya. Tapi, sang ibu yang peka tentu melihat ada sesuatu kejanggalan yang terjadi pada darah dagingnya itu. Meski telah menyimpan curiga, ibu Sutinah berusaha menahan mulutnya untuk tidak lekas bertanya.  Ibu Sutinah seperti tengah menunggu kesempatan dan memelihara kenyamanan kepada Cicilia yang telah sekian lama tidak berjumpa.


UWEEE…K ! Tiba-tiba Cicilia ingin muntah ketika hidungnya mencium aroma  masakan ibunya yang datang dari arah dapur.


“ Kenapa kamu, Ci..?” Tanya ibunya.


“ Nggak tau, nih. Mungkin bau masakan. Ibu masak apa sih ko baunya kayak gini. Bikin eneg.". Tanya Cicilia.


“ Masak sayur lodeh kesukaan kamu.” Jawab ibunya dengan perasaan heran. Padahal sebelum datang Cicilia sudah memesan kepeda ibunya untuk dibuatkan sayur lodeh kesukaannya itu.


“ Ko, baunya busuk gini..?" Lanjut Cicilia.


UWEEEE…K ! Lagi-lagi Cicilia ingin muntah. Dia kemudian lari kekamar mandi, karena seperti ada sesuatu yang ingin membludak dari dalam lambungnya tapi, nihil.


“ Kamu masuk angin ?” Tanya ibunya hati-hati.” Ayo, ibu balurkan bawang.” Lanjutnya.


Cicilia kemudian membuka baju dan bra-nya kemudian menyodorkan punggung di hadapan ibunya yang sudah siap membalurkan belakang badan Cicilia dengan bawang bercampur minyak tolak angin.


“ Badanmu agak kurus, Ci..” Komentar ibunya mengamati badan anaknya. Cicilia diam tak berkomentar.


Ibunya menarik napas dalam-dalam, ketika mengamati dengan seksama bagian pinggul dan dada anaknya


yang nampak mengembang.

__ADS_1


‘ Aneh, seperti orang yang sedang hamil..’ Ucap ibu Sutinah dalam hati.


Ibu Sutinah yang telah dikaruniai dua orang anak tentu paham betul tanda-tanda kehamilan. Tapi, tidak mau lansung memvonis anaknya itu. Perasaannya tetap dalam kontrolnya.


Merasa tengah diamati oleh ibunya, serta-merta Cicilia mengenakan pakaiannya kembali. Padahal belum selesai ibunya mengolekan bawang merah di badannya. Cicilia kemudian mengambil sebatang rokok, dibakar dan dihisapnya di samping jendela kamar yang terbuka. Air matanya tiba-tiba menggenang dengan bibir yang bergertar. Ibu Sutinah menangkap suasana batin anaknya yang dia yakin tengah menghadapi masalah.   Air mata Cicilia kemudian tumpah, mengalir di pipinya. Memancing ibu Sutinah dilanda gelisah.


“ Ada apa, Ci..?” Akhirnya ibu Sutinah melontarkan pertanyaan dengan nada lembut.


Aliran mata Cicilia semakin deras dan terdengar isak tangisnya.


“ Ada apa ?”


“ Ibu..!” Seru Cicilia kemudian sambil memeluk ibunya dan mencium kaki ibunya. “ Maafkan Cici, bu..” Lanjutnya dengan tangis yang melesak.


“ Ada apa, nak..? Ayo, ngomong saja..”


“ Cici..” Ucap Cicilia terhenti.” Cici hamil, bu..” Lanjutnya sambil memeluk erat ibunya.


“ Duh, gusti..Siapa yang menodaimu..? Siapa..?” Tanya ibu Sutinah yang tidak bisa menahan tangis.”


“ Entahlah, bu..” Bisik Cicilia.


“ Entah bagaimana..?!” Seru ibu Sutinah dengan nada suara sedikit meninggi.


“ Ini resiko pekerjaan  Cici, bu..” Jawab Cicilia.


Ibu Sutinah kemudian melepas dekapan anaknya, kemudian mendorongnya cukup keras.


“ Seharusnya kamu jangan pulang. Tanggung sendiri apa yang kamu kerjakan..!”


“ Ibu..”

__ADS_1


“ Tidak puas kamu mencoreng nama baik keluarga..? Hm..?! Tidak puas..? Bunuh sekalian orang tuamu ini. Anak kurang ngajar..!”


“ Ibu..!” Seru Cicilia sambil berusaha merangkul kaki ibunya.


“ Hadapi sendiri ! Berani berbuat harus berani bertanggungjawab. Ibu tidak sudi kamu bawa-bawa.”


Cicilia bangkit dari bawah kaki ibunya. Wajahnya berubah dingin dengan pandangan matanya yang kosong. Bola matanya kemudian melirik sebilah gunting yang tergeletak di atas meja. Cicilia kemudian mengambil gunting itu.


“ Memang Cicilia kotor dan tidak berguna. Tapi, sejujurnya Cicilia tidak kuat menanggung baban ini seorang diri, bu. Lebih baik Cici mengakhiri hidup saja..” Ucapnya sambil bersiap menusukkan ujung guntung keulu hatinya.


“ Cici..!” Teriak ibunya sambil berusaha merampas gunting itu dari genggaman tangan Cicilia. “ Cici..!”


Cicilia makin seperti orang kesurupan. Ibunya di dorong agar menjauh dari gunting di tangannya.


“ Toloooo….ng ! Toloooo….ng !” Teriak ibu Sutinah  menghadapi situasi yang makin membuatnya keteter.


Bertepatan dengan itu, Daniel yang baru saja turun dari atas motornya, langsung berlari masuk kedalam rumah ibu Sutiah.


“ Tolooong…!” Teriak ibu Sutinah lagi.


Daniel langsung merampas gunting di tangan Cicilia dengan segenap tenaga. Sebilah gunting itu berhasil diamankan. Cicilia kemudian  menangis histeris. Dengan gerak  refleks Daniel membuka tangan seakan siap merangkul perempaun na’as itu. Tapi, dia kemudian tersadar, jika dirinya bukan orang yang berkenan bagi Cicilia. Tangan Daniel mengantung di udara dan membatalkan niatnya tersebut dengan perasaan malu.


Cicilia memandang Daniel dengan wajah masam. Dia semakin heran dan semakin tidak menyukai Daniel yang dianggap mulai ikut mencampuri urusan keluarganya.


“ Ngapain lo kesini..? Mau cari perhatian keluarga gue.?!” Kata  Cicilia ketus dengan nada tinggi.


Daniel diam tertunduk dengan perasaan jengah. Untunglah Adrian datang menyapanya sambil membawa alat


menggambar.


“ Kak, Daniel..!” Seru Adrian.

__ADS_1


Daniel langsung keluar dari kamar menuju teras rumah sambil menggandeng Adrian. Mereka berdua kemudian asik bercengkrama soal gambar-menggambar.


Sedang di kamar Cicilia tidak ada suara sepatah kata pun, selain isak tangis dua orang perempuan, Akhirnya ibu Sutinah membuka tangan dan memeluk anaknya.. Bukti, hati seorang ibu memang bukanpualam. Hatinya bisa luluh seketika terhadap anaknya yang tengah bermasalah. Itulah cinta yang sesungguhnya.


__ADS_2