
"Yang?"
"Apa sih?" gerutu Zeela sembari menyingkirkan tangan Arjuna yang kini bergerak nakal meraba sesuatu.
"Kok jadi ngambek sih, kurang apa yang? mau nambah lagi.?" tawarnya.
"Ihs, Nggak."
"Terus ini kenapa jadi ngambek gini sih?" menoel dagu Zeela dengan telunjuknya yang lagi-lagi ditepis kasar oleh gadis itu.
"Ckk tadi lupa ngajakin kemana?"
"Kapan?" tanyanya tampak berpikir.
"Ish, situkang modus pelupa."
"Apaan sih yang, bilang aja langsung! kamu kan tahu sendiri aku nggak terlalu peka sama kode-kodean."
"Kamu beneran lupa?"
"Apa emangnya?"
Bugh...
Zeela memukul dadanya menggunakan bantal dengan perasaan kesal.
"Tadi katanya mau ngajakin jalan-jalan."
"Oh itu, barusan kan udah."
"Kapan?"
"Barusan kan kita abis jalan-jalan mencapai kenikmatan."
Seketika bantal ditangan Zeela kembali melayang mengenai wajah tampan suaminya.
Bugh...bugh..bugh..
"Aww.. ampun yang, ampun! iya-iya ayok jalan, kamu mau jalan-jalan kemana, kita pergi sekarang."
"Basi!"
__ADS_1
"Kok gitu sih yang, gini aja deh sekarang kita keluar kamu yang nentuin tempatnya, terus kamu juga boleh minta apapun sama aku."
"Apapun?" tanya Zeela antusias.
"Ya, apapun."
"Janji?"
"Ya."
"Bener lho ya."
"Iya, sayang! bilang aja kamu mau apa hm?" ucapnya lembut sembari menyelipkan helaian rambut Zeela kebelakang telinganya.
"Kalau gitu aku mau punya suami lagi."
"Kamu bilang apa?" ketus Arjuna dengan tubuh yang seketika mendorong tubuh Zeela dan menindihnya kembali.
"Malam ini nggak ada jalan-jalan keluar, karena kamu harus dihukum." bisik Arjuna dengan seringai tipis dibibirnya.
*
"Tidak apa-apa Ayok!" ucap Sultan berusaha menenangkan Alya yang tampak ragu untuk mengikutinya masuk kedalam rumah milik orang tua Sultan.
Dengan ragu dan penuh keterpaksaan wanita yang memasang raut wajah tak bersahabat sejak tadi itu masuk mengikuti langkah Sultan yang berada didepannya.
Sementara disofa yang berada diruang tamu sana, baik Dara maupun Arthur sontak berdiri memasang senyum terbaik mereka, bukan sekedar hanya sandiwara tetapi benar-benar tulus dari hati mereka.
"Alya, kemarilah nak!" panggil Dara sembari merentangkan kedua tangan yang sukses membuat wanita itu mengerjap dengan raut bingung.
Karena melihat Alya yang tak bereaksi Dara pun berinisiatif menghampiri dan memeluknya.
"Akhirnya kamu bersedia datang kemari nak." ujar Dara, lalu membawanya duduk diatas sofa.
"Syifa?" panggilnya saat melihat gadis kecil yang tengah menunduk diatas pangkuan Sultan.
"Sini sayang, peluk Oma!" ucap Dara dengan kedua mata yang sudah dipenuhi kaca.
Syifa mendongak menatap wajah Sultan seolah meminta pendapat tentang apa yang harus ia lakukan lewat sorot matanya, Syifa tentu merasa trauma karena wanita paruh baya itu pernah menolak saat Arjuna membawanya kerumah untuk pertama kali.
"Samperin Oma gih, Oma baik lho!" bujuk Sultan.
__ADS_1
"Sini sayang." lagi-lagi ucapan Dara membuat Dyifa menatap kearahnya dengan rasa takut yang tersisa, namun tanpa sadar ia menghampiri Dara dan masuk kedalam pelukannya.
"Maafkan Oma waktu itu ya sayang, Oma sudah jahat sama Syifa cucu Oma."
"Syifa mau kan maafin Oma."
Si kecil polos dengan hati yang mudah tersentuh itu tentu saja merasa iba dan menganggukkan kepalanya.
"Iya Oma, emang Syifa boleh panggil Oma?"
"Tentu saja boleh sayang."
"Dan mulai besok Syifa tinggal disini ya, sama Oma! mau kan? Oma janji apapun yang syifa minta Oma bakalan kasih, gimana?"
"Maaf oma kalau soal itu Syifa harus tanya ibu dulu."
Dara sontak tersenyum, mengusap gemas kepala cucunya dengan gemas.
''Yaudah tanyain gih."
"Iya Oma." cepat gadis kecil itu menoleh menatap ibunya yang tengah duduk tak jauh darinya.
"Ibu, Syifa boleh kan tinggal disini bareng Oma?" ujar Syifa membuat Alya kebingungan.
"Sayang, nenek dirumah sendirian! kalau Syifa disini nanti nenek kesepian sayang."
"Oh iya." Syifa menundukkan wajahnya tampak sekali jika saat ini ia merasa sedikit kecewa.
*
"Nanti aku antar kamu pulang." ujar Sultan saat melihat raut gelisah Alya yang duduk sendirian diruang tamu, sementara Syifa tengah memainkan beberapa mainan barunya yang dibelikan Dara beberapa menit yang lalu.
Alya tersentak kaget, ia mendongak menatap Sultan hingga tatapan keduanya saling bertemu, namun hal itu tak berlangsung lama karena selanjutnya Alya kembali menunduk.
"Maaf, sepertinya saya dan Syifa harus pulang sekarang, karena walau bagaimanapun rasanya tidak pantas saja seorang lelaki dan wanita yang bukan suami istri berada diatap yang sama, terlebih pak Arthur dan Bu Dara sedang tidak ada dirumah bukan.?" sahut Alya tanpa menatap kearahnya.
"Al, sebentar saja please! mama sama papa nggak lama kok, mereka hanya menengok temannya yang sedang sakit, jadi tidak mungkin lama."
"Saya hanya ingin mengingatkan bahwa dua orang yang berada didalam ruangan yang kosong dapat mengundang Set_"
"Maaf Alya maaf!" sela Sultan, yang tiba-tiba mengingat kejadian dimana awal mula hadirnya putri mereka.
__ADS_1
*
*