
"Yakin, nggak mau nginep disini aja?" ujar Arjuna sembari memakaikan helm untuk istrinya yang saat ini hendak pulang setelah beberapa jam mengobrol dan makan bersama dirumah orang tua Zeela.
"Kapan-kapan aja deh, besok aku ada ulangan, kalau aku nginep disini nanti malah kesiangan." sahut Zeela, mengingat jika sudah bersama Arin mereka akan terus mengobrol yang kemungkinan sampai pagi.
Arjuna mengangguk saja, menyuruh Zeela untuk naik keatas motor kemudian melajukannya menuju rumah mereka.
*
Satu setengah tahun berlalu, kebahagiaan menyelimuti keluarga kecil Sultan dan Alya saat buah hati kedua mereka yang berjenis kelamiin laki-laki lahir dengan selamat.
Sultan menangis haru dengan penuh rasa bangga, untuk pertama kalinya ia melihat bayi merah sekaligus menggendongnya dengan tangannya sendiri.
Diwaktu satu tahun lebih ini, banyak sekali hal yang terjadi di hidupnya, pertama karena ia merasa begitu dicintai oleh Alya wanita yang menurutnya paling sabar dan paling memahaminya.
Juga memiliki putri sepintar dan secantik Syifa yang memberi banyak warna dan kehangatan didalam keluarganya, lalu sekarang_ ada bayi kecil laki-lakinya yang begitu tampan, dan sehat.
"Siapa yang mau kasih nama, aku apa kamu?" bisik Sultan dengan tangan gemetar, sungguh ia merasa hari ini seperti mimpi yang tak ingin cepat-cepat ia akhiri.
Dengan tubuh yang masih tampak lemah, Alya mengulas senyum, senyum tulus yang selalu wanita itu perlihatkan.
"Kamu ayahnya! jadi soal nama aku percayakan sama kamu mas."
Sultan ikut tersenyum, "Baiklah, bagaimana kalau Alfino Kaisar Al-tezza."
"Aku setuju." keduanyapun sama-sama tersenyum sembari memeluk putranya.
"Gantian, Oma juga mau gendong." ucap Dara, yang langsung mengambil bayi merah itu dari tangan Sultan.
"Kok malah mirip Arjuna kecil, iya nggak sih pa?" ujar Dara sembari menatap lekat cucu keduanya yang tampak mengerjap-ngerjap melihat dunia barunya.
"Mungkin dulu waktu bikinnya si Arjuna suka ngintip kali." celetuk Arthur sembari menahan tawa.
"Papa, eh_" teriak Arjuna yang tentu tak terima dengan ucapan asal sang papa.
"Mana coba lihat." mendengus sembari menatap bayi kecil itu dari jarak yang cukup dekat.
"Wehhh, ini sih bang Sultan terlalu nge-fans kali sama aku."
Plakkk..
Seketika kepalan tisu bekas mendarat sempurna dibagian keningnya.
"Sembarangan!"
"Iya kan bang, Lo diem-diem ngefans sama gue."
"Ogah banget."
"Iya, ngaku Lo!"
"Najis gue ngefans sama Lo."
"Ar, apaan sih?" gerutu Zeela sembari menoel tangan suaminya agar berhenti adu mulut dengan pria yang pernah menjadi mantan kekasihnya tersebut.
"Iya sayang."
*
Setelah satu jam berada dirumah sakit, dan menggendong sebentar bayi Sultan dan Alya sekaligus mengucapkan selamat kepada mereka berdua, Zeela pun pamit pulang karena tubuhnya sedikit lemas.
Akhir-akhir ini Zeela memang selalu merasa bahwa dirinya mudah lelah dan mengantuk.
"Aku mau nonton TV, awas ya, jangan gangguin!" Zeela memperingati.
"Nggak janji mau gangguin." sahut Arjuna dengan senyum smirk nya.
__ADS_1
"Ar,_''
"Iya-iya, aku cuma duduk doang sambil main game, nggak masalah kan?"
"Hmmm."
Menit berlalu Zeela fokus dengan tayangan sinetron yang ia tonton begitupun dengan Arjuna yang fokus dengan game diponselnya.
"Ihs, ganteng banget sih!" gumam Zeela yang tanpa sadar mereemas plastik cemilan yang berada ditangannya, sementara kedua matanya fokus menatap kedepan.
Disampingnya Arjuna mencibir, sembari memukul pinggiran sofa dan melempar ponselnya dengan kasar.
"CK, kalau orang lain aja dikatain ganteng, suami sendiri malah nggak pernah." gerutu Arjuna, dengan raut wajah yang sudah berubah masam.
Mendengar itu Zeela pun hanya meringis dengan kekehan kecil, ia menoleh menatap suaminya yang kini menyadarkan kepalanya kebagian belakang sofa.
"Kenapa, aku kurang ganteng emang?"
Berpikir sejenak, kemudian mengangguk membuat Arjuna kembali menegakkan tubuhnya duduk menghadap Zeela.
"Jadi, aku kurang ganteng! dan ini yang jadi alasan kamu sampai sekarang belum cinta sama aku yang."
"Mungkin."
"Tapi mereka bilang aku ganteng yang." protesnya, membela diri.
"Siapa yang bilang, mantan kamu.?"
"Iya lah."
"Oh jadi gitu."
"Eh bukan, maksudnya_" Arjuna memukul bibirnya sendiri, CK bisa-bisanya ia salah bicara.
Arjuna mendesaah, menggaruk kepalanya yang mendadak gatal.
"Bukan yang, bukan gitu." ucapnya mencoba meluruskan kesalahpahaman yang ia buat.
"Kalau udah bosen pergi sana, tapi ingat! jangan harap bisa ketemu sama darah daging kamu sampai kapanpun."
Mendengar penuturan Zeela, Arjuna mendadak loading pemuda itu sampai bengong hingga beberapa saat, dan tak menyadari jika kini Zeela sudah beranjak dari tempat tersebut.
"Yang, yang.. maksudnya apa tadi yang?" teriak Arjuna berlari mencari istrinya.
"Sayang?" panggil Arjuna begitu melihat istrinya yang sedang duduk disisi ranjang.
"Yang, tadi kamu bilang darah daging, kamu_" telunjuk tangannya terangkat menuding wajah Zeela yang perlahan turun mengarah ke perut rata Zeela yang tertutup kaos.
"Apa?" sentak Zeela sedikit galak.
"Kamu hamil yang, kamu hamil? beneran nggak sih?" tanyanya yang tentu syok sekaligus tak percaya juga antara senang dan sedih mendengar kabar ini.
Didepannya Zeela tampak merengut, gadis itu membuka laci nakas, lalu mengeluarkan kotak yang berisi tiga buah benda tipis dengan dua garis merah yang sama.
"Menurut kamu?" memberikan ketiga benda tersebut ketangan Arjuna.
Kedua mata Arjuna melebar, yang perlahan dipenuhi kaca, pemuda itu menangis membuat Zeela mengerenyitkan dahinya, bingung!
"Ar_"
"Bentar lagi aku mau jadi ayah kan?" tanyanya.
Zeela mengangguk, "Kamu nggak senang dengan kabar kehadirannya?" tanya Zeela membuat Arjuna mendengus.
"CK, siapa bilang! justru aku bahagia! tapi aku sedih."
__ADS_1
"Hah, maksudnya?"
"Iya aku bahagia banget karena dia hadir di rahim kamu, tapi aku juga sedih karena ibu dari anakku sampai sekarang belum mencintaiku." ujar Arjuna dengan raut wajah yang sulit dimengerti.
Zeela menunduk seraya memijat keningnya, ckk apa selama ini Arjuna berpikir bahwa ia sama sekali tak mencintainya, batin Zeela.
Huuhft..yang benar saja! Dia bahkan sudah menyerahkan segalanya demi pemuda tersebut bahkan kini diusianya yang masih sangat muda ia rela mengandung seorang anak karena ingin memberinya lebih banyak kebahagiaan.
"kenapa? Benar kan yang aku bilang, kamu sama sekali nggak cinta sama aku, sampai sekarang?"
Zeela menghela, gadis itu menyuruh suaminya untuk duduk disampingnya lalu menatapnya lekat.
"Iya, aku nggak cinta sama kamu, apalagi kamu yang bodoh begini."
"Yang?" Protesnya yang kembali menangis.
"aku juga nggak mau punya suami yang cengeng, padahal sebentar lagi udah mau jadi ayah."
"yang_"
"Arjuna Gardapati Al-tezza, dengar! Kalau aku nggak cinta sama kamu, mana mungkin aku terus bertahan sampai sekarang, mana mungkin aku rela membiarkan anak kamu Hadir disini." Meraih tangan Arjuna dan meletakkannya diatas perut ratanya.
"Jadi?"
"Menurut kamu apa jawabannya."
"kamu juga mencintaiku?"
Zeela mengangguk, kali ini dia yang menangis.
"Benarkah?" Tanya Arjuna yang tertawa keras namun air matanya jatuh berlinang.
"Aku mencintaimu Arjuna Gardapati Al-tezza."
"Ulang yang, aku nggak denger."
"Aku cinta kamu Arjuna."
"Ul_"
Cuppp.
Satu kecupaan dibibir Arjuna membuat pemuda itu seketika terdiam.
"Aku mencintaimu." Zeela kembali berucap yang langsung mendapatkan ciuman yang lebih lama dari Arjuna, lalu keduanya saling berpelukan untuk meluapkan Perasaanya masing-masing.
"Makasih sayang, aku lebih mencintaimu." bisik Arjuna.
*
*
Finally...☺️☺️🥳🥳🥳 kisah Arjuna dan Zeela selesai juga, terimakasih untuk semua readers tercinta yang selalu mengikuti karya receh Author..
Kalian adalah semangat Author yang paling utama 🥰
Jika ada yang bertanya kenapa kisah mereka sampai disini?
Jawabannya, karena permasalahan dalam cerita ini sudah selesai ya, Sultan sudah bahagia dengan keluarga kecilnya begitupun dengan Zeela yang sudah bahagia dengan Arjuna.
Sampai jumpa di karya berikutnya.☺️☺️🤗🤗🤗🤗
*
*
__ADS_1