PENGANTIN REMAJA

PENGANTIN REMAJA
Episode 7 Tertangkap Basah


__ADS_3

Hanya dalam hitungan hari, pak Bobby langsung membuat Cicilia bertekuk lutut tak berdaya. Kemudian menawarkan Cicilia jalan damai. Karena merasa tidak ada pilihan, akhirnya Cicilia bersedia menyerahkan sekeping kartu memori berisi video itu. Cicilia gagal memaksa pak Bobby untuk menikahinya. Tapi, menurutnya, bersikap melunak lebih tepat ketimbang mungkin terus berkonflik yang bisa mengancam keselamatan dirinya dan keluarganya.


“ Mau pilih mana, keselematanmu sekeluarga atau menyerahkan video itu ? Jika kamu bersikeras ingin  video itu untuk menekan om, ingat,  bukan hanya kamu, ibumu juga   akan menjadi sasarannya. Om tidak main-main soal duri kecil yang bisa menjadi penyakit besar dikemudian hari.” Ancam pak Bobby.


Cicilia langsung membuka kartu memori berisi video yang terselip di dalam handphone-nya. Lalu diberikan kepada pak Bobby tanpa sepakatah kata.


“ Yakin video itu tidak tercecer kemana-mana..?” Tanya pak Bobby memastikan dengan tatapan mata tajam.


“ Ya, yakin.”


“ Awas, jika sampai tersebar kemana-mana. Om pasti mempidanankan kamu. Jangan suka bermain-main dengan api. Kamu masih terlalu lemah untuk melawan aku. Sekali lagi, jangan macam-macam kamu..!” Ucap tegas  pak Bobby.


Kemudian mereka saling diam tanpa sepatah kata. Mereka seperti sama-sama tidak menyangka jika awalnya hubungan mereka begitu  mesra berakhir dengan pertikaian.


UWEEEE…K !


Tiba-tiba Cicilia merasa mual-mual lagi. Dia berharap mengeluarkan segelas muntah dari dalam mulutnya dan mengotori mobil keren pak Bobby itu. Sayangnya, yang keluar hanya ludah.


UWEEEK…!


Entah apa yang terpikirkan pak Bobby ketika melihat penderitaan seorang perempuan muda yang menjadi korban


kenakalannya itu. Tapi, dari wajahnya menampakkan rasa iba juga. Betapa tidak, bagi orang yang masih memiliki hati nurani, siapa yang tega melihat seorang gadis yang baru duduk di kelas tiga SMU telah berbadan dua. Bukan hanya  menanggung  derita mengandung selama sembilan bulan kedepan tapi, juga kehilangan masa depan, kandas cita-citanya. Karena tidak lama  lagi pasti Cicilia akan dikeluarkan dari pihak sekolah tanpa ampun. Sesungguhnya, derita itu  kini  pun  ia telah rasakan, di mana kini Cicilia telah  dikucilkan oleh orang-orang hampir satu sekolahan karena kemilannya tidak lagi bisa disembunyikan. Mereka melihat Cicilia  seperti melihat seekor anjing kurap yang harus dijauhi.


‘ Inilah resiko yang aku harus tanggung. Tapi, apa perduliku dengan mereka semua dibanding janin yang


ada di dalam rahimku ini. Tentu,  calon buah hatiku ini lebih penting untuk dibela dan selamatkan ketimbang muka ibunya yang sejak semula memang sudah tidak punya muka. Maafkan ibu yang penuh dosa ini ya, naak.. ‘ Ucap batin Cicilia dengan pilu sambil mengelus-elus perutnya.


“ Menikah saja dengan pria lain untuk menjadi bapak dari bayi yang kamu kandung. Hanya dengan cara itu pula harga diri kamu bisa diselamatkan..” Kata pak Bobby sambil menepuk bahu Cicilia yang duduk di sebelahnya. “Soal  biaya pernikahan semua om yang tanggung “ Lanjutnya.


“ Bukannya itu  untuk menyelamatkan muka om sendiri, supaya jangan sampai menjadi bahan berita di media..?” Sindir Cicilia.


“ Sudahlah.., jangan memulai. Kita ketemu untuk berdamai.”


“ Mana ada laki-laki cerdas yang mau menjadi ban serep..?”

__ADS_1


“ Pasti ada. Kamu cantik dan cerdas..”


“ Pasti orang ideot atau orang mabuk..”


“ Terserahlah,   siapa yang akan kamu pilih. Om siap memberi dukungan penuh “


“ Tentu saja mendukung penuh karena, hanya dengan cara itu om  bisa cuci tangan. Liciknya !”


“ Jangan main vonis seperti itu. Bukan om tidak bertanggungjawab tapi, om sekarang ini merasa belum siap beristri dua. Itu saja.” Balas pak Bobby membela diri.


Setengah jam mobil  terparkir di pinggir jalan depan gedung sekolah itu siap-siap dinyalakan mesinnya kembali oleh Pak Bobby yang duduk di belakang kemudi.


“ Sampai disini dulu, ya..Om mau kembali lagi kekantor. Ada urusan penting. Ini pegangan untuk kamu. “ Kata pak Bobby sambil memberikan segepok uang pecahan seratus ribuan di dalam amplop warna coklat.


Cicilia kemudian memasukkan uang tersebut kedalam tasnya dan keluar dari dalam mobil dengan badan lesu.


 KEESOKAN HARI…….


Seperti biasa, ketika ada waktu luang Daniel selalu menyempatkan diri datang kerumah ibu Sutinah untuk menemui Adrian. Kali ini. Daniel ingin membawakan peralatan menggambar cukup lengkap.


tengah kesulitan membuka kait bra-nya. Daniel terperangah melihat kulit mulus Cicilia. Tapi, Daniel terus melanjutkan langkahnya.


“ Bisa tolong sebentar nggak..?” Tanya Cicilia sedikit berteriak, seperti mengetahui kedatangan Daniel. “ Daniel..!” Cicilia memanggil.


Daniel segera membalikkan badan kemudian mendorong pintu kamar Cicilia berlahan.


“ Minta tolong apa, Ci..?” Tanya Daniel dengan suara gugup.


“ Masuk aja..Nggak apa-apa, ko..” Kata Cicilia.


Daniel masuk kedalam kamar dengan langkah ragu tapi penasaran.


“ Tolong lepas kait bra gue. Bisakan..?”


“ Biib, biibisa..” Jawab Daniel gagap.

__ADS_1


Kait bra itu kemudian berhasil Daniel lepas. Setelah bra itu jatuh, Cicilia langsung membalikkan badan, berhadapan dengan Daniel sambil tersenyum menggoda. Karena malu dan takut, Daniel langsung membuang muka dan melangkah untuk meninggalkan Cicilia. Baru beberapa langkah, Cicilia langsung menahannya.


“ Mau kemana..? Temani gue dulu, Daniel..” Ucap Cicilia dengan suara manja sambil menarik lengan Daniel.


“ Tidak baik berduaan, Cii..”


“ Jangan munafik, Daniel. Lo dari rumah sebenarnya bukan untuk menemui adik gue, Adrian, tapi, untuk bisa bertemu gue. Iyakan..?” Ucap Cicilia sambil melepas kancing baju Daniel satu persatu.


“ Ci..Jangan gini, dong..Aku takut..!” Seru Daniel sambil menahan kancing bajunya yang tersisa tinggal beberapa butir.


“ Kenapa mesti takut..? Katanya lo suka sama gue..Buktikan, dong..”


“ Tapi, jangan buka baju aku...”


“ Lo malu sama warna kulit lo yang hitam ? Hitam itu sexy, tau…Hihihihi..!” Rayu Cicilia.


Daniel menjadi serba salah. Napasnya mulai tidak beraturan.


BRAK ! Tiba-tiba ibu Sutinah mendorong daun pintu agak keras membuat Cicilia dan Daniel tersentak kaget.


“ Ya, Tuhan, apa yang kalian lakukan…?!” Seru ibu Sutinah sambil membelalakan mata.


Daniel langsung menepis tangan Cicilia dan menjauh dari Cicilia.


“ Aku tidak melakukan apa-apa, bu..Demi Tuhan..!” Kata Daniel dengan wajah ketakutan.


“ Iiih, ko ngomong gitu, sayang..? Berani berbuat berani bertanggungjawab, dong..” Serobot Cicilia sambil mengusap-usap perutnya.


“ Jadi..?” Ucap ibu Sutinah terputus.


“ Iya, bu..Ini sebenarnya bapak janin di dalam rahim Cici..” Jawab Cicilia.


“ Astaga, ibu sama sekali tidak menyangka jika kalian…”


“ Ditunggu lamarannya ya, sayang..Sebelum perutku makin bertambah besar.” Ucap Cicilia sambil merangkul Daniel di depan ibunya.” Ibu senangkan punya menantu baik hati seperti Daniel..?” Lanjutnya.

__ADS_1


__ADS_2