
"Tapi kenapa? Salah gue apa Zee,?"
"Lo masih nanya salah Lo apa hah?" bentak Zeela dengan air mata yang berurai.
"Zee_"
"Dasar cowok brengsek, tukang selingkuh! gue benci sama elo Ar, gue benci!"
"Zee, gue tahu gue salah karena dari kemarin gue sibuk diluar dan nggak pulang tepat waktu tapi gue bukan main-main sama cewek lain Zee, gue kan udah bilang gue sayang sama elo, gue mau serius sama pernikahan kita, dan sekarang gue lagi berusaha buat bahagiain Lo Zee."
"Bahagiain gue, Lo bilang?"
"Iya."
Zeela tersenyum sinis, lalu mengambil ponselnya yang tergeletak dilantai dan memberikannya kepada Arjuna.
"Maksud Lo dengan cara seperti ini, iya?"
Kedua mata Arjuna terbelalak lebar saat melihat maksud dari perkataan Zeela tersebut.
"Zee, ini nggak seperti yang lo bayangkan Zee."
"Lalu seperti apa gue harus membayangkannya Ar, oh apa lebih dari itu, iya?"
"Zee, bukan_"
"Sampai kapan sih Ar, sampai kapan Lo bakalan nahan gue disini dan nyakitin perasaan gue, Lo itu nggak ada bedanya ya ternyata."
"Nggak gitu Zee."
__ADS_1
"Lo sama Sultan sama aja."
"Jangan samain gue sama dia Zee, gue sama dia itu jelas beda." teriak Arjuna tak terima, namun saat menyadari raut terkejut Zeela, Arjuna pun menundukkan wajah, lalu kembali mendekati gadisnya yang kini semakin terisak.
"Ini cuma salah paham, gue nggak meluk Alina Zee, dia nggak sengaja jatuh, kebetulan gue juga lagi ada disana dan nolongin dia."
"Gue nggak percaya."
"Gue punya saksinya Zee, Ardan ngelihat."
"Temen Lo kan? Ckkk.. nggak bisa dipercaya jelas-jelas kalian itu berteman baik jadi mana mungkinlah kalau dia nggak belain elo."
"Zee please percaya sama gue, gue sayang sama elo, dan cuman elo satu-satunya cewek yang ingin gue perjuangin, kalau Lo pergi hidup gue nggak akan ada artinya lagi Zee."
"Omong kosong!" jawab Zeela dengan ketus sembari membalikkan badannya melangkah menuju pintu.
"Lepasin gue, gue mau pulang." berusaha keras mendorong tubuh besar Arjuna.
"Pulang kemana? suami Lo ada disini zee, berarti rumah Lo juga disini."
"Setelah kita pisah kita nggak akan ada hubungan apa-apa lagi."
"Siapa yang mau pisah sih Zee."
"Kita_ gue sama elo Ar, ini gampang kok kita nggak perlu repot-repot kepengadilan kan, karena kita juga baru nikah siri, iya kan?"
Arjuna berdecak, melepaskan Zeela dari dekapannya lalu memegangi kedua pundak gadis itu dan menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Zee dengerin gue_"
__ADS_1
"Elo yang harus dengerin gue, kita pisah secepatnya, supaya kita berdua bisa kembali ke kehidupan kita masing-masing, gue bisa balik lagi kerumah orang tua gue dengan tenang tanpa ikatan, dan elo sendiri bisa balik lagi menjalani kebiasaan lo dengan bebas, adil kan Ar?"
"Nggak, ini sama sekali nggak adil buat gue."
"Kenapa?"
"Ya karena gue nggak mau Lo pergi Zee, apa lagi."
"Tapi_"
"Gue bersumpah! gue sama Alina nggak ngapa-ngapain."
"Terus kenapa dari kemarin-kemarin pulangnya malem terus, bahkan disaat gue udah masuk kedalam mimpi, dan gue nggak tahu Lo pulang apa nggak semalam."
Arjuna menunduk lesu dengan helaan napas berat.
"Soal itu gue minta maaf, gue tahu gue salah! nggak seharusnya gue begini, tapi kalau boleh jujur gue emang lebih baik jarang ketemu Lo dulu Zee, soalnya kalau nggak gitu perasaan gue nggak bakalan kekontrol.,"
"Maksudnya?"
"Gue_ gue cowok normal Zee, ya Lo sendiri tahukan pastinya kalau_" sejenak Arjuna terdiam, mencari kalimat yang pas untuk ia ucapkan selanjutnya didepan Zeela, yang nyatanya tak berhasil, karena ia bukanlah pemuda yang pintar merangkai kata-kata.
"Kalau apa sih Ar?" sentak Zeela pada akhirnya, karena sudah gemas sendiri dengan kelakuan Arjuna yang malah garuk-garuk kepala dan salah tingkah.
"Kalau gue_ Arghhh!" Arjuna mengacak rambutnya, "susah Zee jelasinnya."
*
*
__ADS_1