
Cicilia dan Eva masih duduk di pojok sebuah caffe sambil membahas masalah yang tengah dihadapi Cicilia sambil menunggu pak Bobby datang, orang yang seharusnya bertanggungjawab terhadap benih yang ditanam di dalam rahim Cicilia.
Sambil menikmati secangkir kopi dan berbatang-batang rokok, Cicilia juga bercerita tentang Daniel yang katanya mulai berani ikut mencampuri urusan keluarganya.
“ Anak itu mulai songong, Va. Sekali-kali harus dikasi pelajaran.” Kata Cicilia.
“ Halah, abaikan saja. Daniel siapa sih..? Dia cuma anak bawang di sekolah. Ngurusin dia cuma buang-buang energi. Nggak mutu ! ” Kata Eva.
“ Tapi, dia kelihatannya makin dekat sama ibu dan adik gue, Va.”
“ Biarin aja. Mungkin dia lagi naksir sama ibu lo. Kan ibu lo janda. Hahaha…!” Kata Eva bercanda sambil ngakak.
“ Gue sebel banget liat tampangnya. Keping gue telen mentah-mentah tuh anak sambil membayangkan kue black
*forest*.” Ucap Cicilia.
“ Hai, hati-hati, lo itu lagi hamil. Awas, ketulah anak lo bisa cemong kayak dia..”
“ Iiih..! Tapi, bapak anak ini emang item banget, tao..Bahkan om Bobby itu lebih item dari Daniel.” Kata Cicilia sambil mengelus-elus perutnya.
“ Mangkanya hati-hati kalau ngomong. Dulu kan cita-cita lo kepingin punya pacar atau suami yang kulitnya putih. Nah, sekarang malah dapat yang kebalikannya. Emang enak jilat ludah sendiri..?” Ledek Eva.
“ Iya, nih, gue sendiri bingung. Sumpah, om Bobby itu bukan tive laki-laki favorite gue. Gue suka yang putih kayak bule. Eh, malah dapat yang bulepetan !” Kata Cicilia.
“ Emang lo yakin om Bobby mau menikahi lo ?”
“ Entahlah, gue sendiri ragu.” Jawab Cicilia.
“ Kalau seandainya dia melamar lo, lo siap ?” Tanya Eva lagi.
“ Ya, harus siap lah. Mau gimana lagi, udah hamil gini..?”
“ Tapikan dia buka laki-laki tive impian lo..?”
“ Bodo amat ! Dalam kondisi seperti ini, gue nggak perduli lagi dia hitam atau abu-abu. Sekarang ini gue nggak ada pilihan lain, selain meminta dia untuk segera menikahi gue, Va..”
__ADS_1
Tidak lama kemudian pak Bobby sudah berada ditempat parkiran caffe. Kemudian masuk dan mencari meja tempat di mana Cicilia berada.
“ Eeh, itu orangnya datang..” Bisik Cicilia.
“ Apa kabar, sayang..?” Sapa pak Bobby sambil berusaha merangkul Cicilia. Tapi, Cicilia langsung mendorong badannya.
Kemudian pak Bobby langsung mengambil posisi duduk di samping Cicilia, lalu memesan segelas kopi kepada seorang pelayan caffe.
“ Gimana..? Gimana..?” Ucap pak Bobby sambil menyeruput kopi.
“ Gimana apanya..?” Cicilia balik bertanya.
“ Lho, katanya kamu hamil. Mana surat keterangan dari dokter atau apalah sebagai bukti..?” Tanya pak
Bobby.
Wajah Cicilia langsung berubah masam. Dia sangat dongkol dengan sikap pak Bobby yang seolah tidak percaya
dengan pengakuannya yang kini telah berbadan dua. Giginya gemerutuk menahan geram. Mulutnya seolah telah kehabisan kata-kata. Evalah yang kemudian angkat bicara.
yang lebih tua. Padahal dia tahu hal itu tidak etis. Itu pertanda Eva telah kehilangan rasa hormat kepada laki-laki yang dianggap mulai berkelit dari tanggungjawab itu.
“ Kalau sekedar ngaku-ngaku, siapa juga bisa..Jaman sekarang itu yang penting bukti. Bukan sekedar pengakuan.” Kata pak Bobby.
BRAG…! Eva mengebrak meja.
“ Eeh, dodol ! gue udah mengantungi buktinya, test pack. Tau ga lo test pack ?!” Bentak Eva sambil melotot.
“ Ya, mana..? Mana alatnya itu..? Tunjukkin dong. Jangan cuma ngomong.”
“ Ketinggalan. Mau liat ? Ayo, ketempat kost gue sekarang..” Tantang Eva.
“ Kalian ini gimana, sih ? Seandainya benar dia hamil, mungkin saja dari laki-laki lain. Memangnya satu dua orang yang jadi teman kencan dia, tapi banyak ! Tidak bisa main todong saja, dong. Enak saja kalian ini.” Kata pak Bobby.
“ Terus, om sekarang maunya apa..?” Tanya Cicilia.
__ADS_1
“ Lho, ko malah balik tanya. Justru om mau tanya, kalian sekarang maunya apa..? Butuh uang lagi buat jajan..? Atau mungkin mau ngajak ke villa lagi main bertiga..? Hayo, om siap..”
PRAK…! Cicilia langsung menyiram wajah pak Bobby dengan secangkir kopi di depannya.
“ Kurang ngajar kamu..!” Bentak pak Bobby kepada Cicilia sambil membersihkan kopi yang membasuk wajahnya.
“ Lo harus bertanggungjawab terhadap janin di dalam perut gue.” Kata Cicilia ikut-ikutan ber-'elu gue' sambil berdiri menantang pak Bobby.
“ Bertanggungjawab bagaimana maksud kamu..? Kepingin aku nikahi, gitu..? Ngimpi..!” Balas pak Bobby.
“ Oke, kalau gitu. Tapi ingat, tidak lama lagi akan ada pemilu. Gue bongkar kebusukkan lo sekalian. Tau ga ini isinya apa..?.” Kata Cicilia sambil menunjukkan handphone-nya.
Pak Bobby terdiam sejenak dengan kening berkerut.
” Ini berisi video adegan selama kita nginap di villa. Puas ?” Lanjut Cicilia.
“ Kurang ngajar !”
Pak Bobby langsung melotot dan berusaha merampas handphone Cicilia itu tapi, Eva menghalanginya dengan cara mendorong pak Bobby keras-keras.
“ Perempuan sialan kamu. Beraninya membuat video secara diam-diam.?!” Ucap pak Bobby dengan wajah marah.
“ Ya. Dan ini akan menjadi bantu sandungan karier om yang paling vatal. Biar masyarakat tau betapa busuknya om sebagai calon wakil rakyat.” Kata Cicilia dengan tampang mengejek.
Selain sebagai seorang pengusaha sukses, Cicilia pun tahu kalau pak Bobby juga seorang politisi yang akan mencalonkan diri menjadi wakil rakyat untuk pemilu mendatang. Video esek-esek yang Cicilia rekam tanpa sepengetahuannya akan menjadi ancaman yang dapat meruntuhkan karier pak Bobby. Dan video itu akan menjadi jurus pamungkas Cicilia untuk memaksa pak Bobby mempertangungjawabkan hasil perbuatannya..
“ Tunggu pembalasanku. Aku tidak akan membiarkan kalian seenaknya menekanku..” Ancam pak Bobby.
Eva langsung menarik lengan Cicilia untuk segera meninggalkan caffe. Pak Bobby terus membuntutinya. Untung ketika mereka berdua sampai di pelataran langsung menemukan sebuah taxi yang tengah mencari penumpang. Mereka berdua langsung kabur dengan taxi. Tapi, bagi pak Bobby, mencari jejak kedua cewek itu tidaklah sulit. Apa lagi pak Bobby memiliki banyak anak buah yang siap memburu kedua pelajar itu sampai kelubang semut sekali pun..
“ Pasti om Bobby tidak tinggal diam. Berbagaimacam cara akan dia lakukan untuk merampas video itu. Sumpah, gue hewatir dia main kasar. Bisa saja kita diculik, handphone lo dirampas terus, kita dilempar ketengah laut.” Kata Eva sepanjang perjalanan.
“ Lo ngomong apa sih..? Yang bukan-bukan, aja. Ini negara hukum, nggak bisa orang seenaknya main hakim sendiri.” Balas Cicilia.
“ Iya, negara hukum tapi, aparat penegak hukumnya senang jual beli hukum. Lo, polos banget sih jadi orang Indonesia. Mangkanya, sekali-sekali baca berita yang seriusan dikit. Biar punya wawasan” Kata Eva.
__ADS_1
“ Udah, udah, aah ! Berisik !”