
Aku hanya tersenyuk kecut saat mama dan papa menghampiriku dan memberikan ucapan selamar padaku atas kehamilanku.
Ironis
Aku tak tau apakah aku harua senang atau sedih atas ucapan selamat dari mereka. Hatiku sakit saat bahkan setelah tak lama bersama,sedikit pun mereka tak ada niat untuk menanyakan tentang keadaanku. Radany aku sekarang sedang cemburu dengan baby yang ads di kandunganku. Karena dia mendapatkan perhatian yang aku nantikan setelah bertahun tahun.
Aku hanya menatap nanar semua orang yang tertawa, ,bahkan mereka tertawa tampa beban.suamiku pun tak mampu untuk membuatku tersenyum.
Entah kenapa aku menjadi cengeng sekarang. Biasanya aku cuek saja dengan keadaan ini. Aku hanya bisa menyembunyikan kecewaku dengan memakan cake favoritku,setelah itu aku pun memutuskan pergi ke kamar tampa sepengetahuan mereka.
Saat aku sedang melamun di kamar sendirian,tiba tiba aku dikejutkan oleh tepukan Vano di bahuku.
" Hai bab! Kenapa di sini sendirian,bengong lagi.yang lain pada nyariin kamu tuh " tanya Vano cemas.
Aku yang mendengar Vano berbicara kalo yang lain mencari keberadaannya menjadi sinis.
" Appaan sih Van! Udah deh,nggak usah terlalu banyak drama. Aku nggak suka " jawabku sinis.
" Tapi beneran bab,mereka pada nyariin. Mama dan papa juga nanyain kamu loeh "jawab Vano.
* Dah deh Van! Aku itu cuma butuh sendirian. Orang lain mungkin berpikir aku anak kurang ajar sama orang tua tapi aku seperti ini karena aku nggak mau jadi orang munafik dan memakai topeng kepuraan di sekitarnya " ujarku menggebu karena emosi..sampai
Kapan pun karena Vano tak akan mengerti apa yang aku pikirkan.
Aku melihat Vano tertegun karena secara tak sengaja aku meninggikan suaraku padanya. Hal yang tak pernah aku lakukan sebelumnya.
Aku sebenarnya merasa bersalah karena membentaknya tapi aku tak bisa mengontrol hatiky yang sedang emosi tinggi.
Setelah lama terdiam,aku langsung meminta maaf,
" Sorry Van! Aku tak bisa mengendalikan emosiku saat ini. Entahlah kenapa aku sangat emosi dan tak bisa mengontrolnya " ujar Bryanda sendu.
" Nggak pa pa kok bab! Mungkin bawaan
baby " ujar Vano menghiburku.
__ADS_1
" Thanks Van,dah ngertiin aku. Entah kenapa melihat mama dan papa,aku bawaannya emosi. Apalagi mama dan papa bahkan belum nanyain kabar aku. Dia nanyain keadaan baby Van tapi nggak nanyain keadaan akuvtau nggak Van,aku entah kenapa mendadak jadi mellow kayak gini " ujarku pada Vano.
Mendengar ucapanku,Vano langsung memelukku. Dia berusaha menenangkanku. Rasanya aku bukan diriku sendiri dan entah kenapa ir mataku turun begitu saja. Aku langsung menghapus kasar air mata tersebut. Biasanya aku bisa menyembunyikan kelemahanku di depan mama dan papa tapi sekarang,aku bahkan tak tau apa yang membuatku menangis. Hanya melihatnya aku sudah menjadi cengeng.
Apa ini hormon kehaamilan,entahlah.
Aku pun memutuskan tidur setelah lama menangis, begitu juga dengan Vano. Entah jam berapa sekarang,mendadak aku lapar,kulihat jam di poncelku menunjukan jam 1 malam. Aku lihat Vano sedang sangat lelap,karena tak ingin menggangunya aku pun turun ke bawah sendiri.
Aneh,enggak biasanya aku lapar di tengah malam ini. Aku merasa bukan diriku sendiri sekarang,aku bahkan merasa asing dengan diriku sendiri. Apa yang terjadi padaku,apa ini karena keberadaan baby. Kalau iya,aku harus bersabar menjalaninya.
Aku pun sampai di ruang makan lalu mengangkat tutup saji. Tak ada makanan di sana sedangkan aku sangat malas ngapa ngapain.
Saat aku sedang kebingungan tiba tiba ada suara di belakangku,
" Kamu lapar Bry. Apa yang mau kamu makan " tanya seseorang yang tak lain adalah mamaku.
Karena aku sedang bad mood,aku hanya menjawab dengan ketus.
" Enggak jadi,udah kenyang " jawabku padanya.
Setelah melakukan order,aku termenung mengingat ucapan ketusku pada mama.
Entah kenapa aku merasa bersalah pada beliau. Tapi tak membuatku bergerak mencarinya untuk minta maaf
Sorry mam,entah kenapa aku jadi marah tak jelas begini pada mama. Aku merasa jadi abg labil, eh tapi ngomong ngomong aku kan memang abg labil yang kebetulan sudah dewasa secara status. Hadeh,ampun dj plakkk.
Aku pun memutuskan menunggu pesanan makananku datang di ruang tamu. Eh ternyata mama ada di sana. Aku jadi serba salah. Mau nungguin makanan di bawah aku malas ketemu mama tapi mau tungguin di atas ujung ujungnya tetap akan nyamperin ke bawah.
Aku pun memutuskan membangunkan Vano untuk mengambil orderan makananku di bawah.
" Van! Bangun dulu bentar,ambilin makanan aku dong di bawah kalo dah nyampe " ujarku pada Vano.
Aku lihat Vano sudah bangun dan menyandarkan tubuhnya di kepala ranjang.
Dia masih dalam keadaan linglu,
__ADS_1
" Kenapa sih bab, aku ngantuk banget nih. Baru aja tidur " ujar Vano lemes efek bangun tidur.
" Oh! Sorry aku ganggu,aku lapar dan dah order. Mau mintak tolong ambilin tapi kalo ngantuk tidur aja " ketus Bryanda dengan siara bergetar karena menahan tangis.
Mendengar ucapanku Vano langsung melek dan menghadap kearahku lalu memelukku sambil menenangkanku.
" Eh! Iya bab,aku ambilin pesanan kamu. Tenang aja,ya udah kamu tunggu di sini ya" ujar Vano pelan.
" Ya! jawabku tak kalah pelan denag suara serak efek menangis.
Setelah itu Vano pun langsung pergi bawah.
tak lama dia kembali dengan makanan yang aku pesan tadi.
Aku pun langaung mengambil makanan tersebut dan menyantapnya.
Saat sedang makan,Vano bsrtanya
" Kamu tadi kenapa berkata ketus ke mama. Kasihan mama. Dia jadi sedih karena sikap kamu. Enggak seharusnya kamu begitu padanya " ujar Vano pelan.
" Kenapa! Dia ngadi ke kamu. Aku lelah dan lagi nggak mood lihat sia Van. Aku nggak tau kenapa kali ini aku tak bisa menyembunykan perasaan kesalku padanya " jawabku .
Ckkc
Rasanya makanan yang baru beberapa suap aku makan terasa hambar. Padahal tadinya aku sangat bersemangat buat memakannya.
Melihatku berhenti makan Vano pun merasa bersalah, dia berkata
" Maaf bab! Kalo kamu merasa tersinggung sama pertanyaan aku. Aku nggak ada maksud kok buat mojokin kamu. Sekali lagi maaf ya " ujar Vano pelan.
" Dah lah Van, aku kenyang dan mau tidur " ujarku sambil beranjak ke meja sofa yang ada di kamarku.
Setelah meletakkan makananku yang masih banyak di sana aku pun pergi kembali tidur di ranjang tapi saat ini posisiku membelakangi Vano.
Aku nggak perduli kalo Vano akan menganggap aku kekanakan. Terserah, aku nggak perduli. Entah kenapa rasa kecewaku membuatku tak mau kompromi dengan keadaan.
__ADS_1