PENGANTIN REMAJA

PENGANTIN REMAJA
Kembali


__ADS_3

"Oma cariin dari tadi nggak ada, rupanya kalian disini?" ujar Oma Nia memeluk kedua cucunya secara bergantian.


"Sultan selamat untuk pernikahanmu ya, Oma harap Alya menjadi satu-satunya wanita yang akan menemani seumur hidupmu, jangan lagi ada yang kedua ataupun yang ketiga ya nak." ujar Oma Nia yang kini membelai lembut kepala Sultan.


Ya, semua orang tahu bagaimana nakalnya Sultan terhadap wanita selama ini, dan berharap kedepannya dia berubah menjadi pria yang lebih baik lagi.


"Iya Oma, terimakasih Oma sudah datang di pernikahan aku."


Oma tersenyum, dan lagi-lagi mengusap kepalanya lembut, namun gerakan tangannya seketika terhenti saat mengingat sesuatu.


''Kau_" menunjuk Arjuna, membuat pemuda itu mengerjap kebingungan.


Plakkk...


"Aduh Oma, kok dipukul sih?" protesnya saat sang Oma memukul pundaknya menggunakan dompet blink-blink miliknya yang cukup keras.


"Bocah nakal, bisa-bisanya kamu menikah saat masih sekolah begini, memangnya tidak bisa ya menahannya sampai lulus sekolah setidaknya."


Arjuna tampak meringis, "Maaf Oma, tapi emang udah nggak tahan sih."


Plakkk...


"Anak nakal, kamu lupa! baru saja kamu lahir kemarin sore dan sering ngompol di sofa Oma."


Mendengar penuturan sang Oma, seketika kedua mata Arjuna melotot sempurna.


"Oma siapa yang ngompol?" protesnya setengah berbisik, sementara disampingnya Sultan sudah tertawa terpingkal-pingkal.


"Heuh, bagus ya! sekarang sudah mulai lupa, padahal gara-gara kamu Oma sampai tiga kali servis sofa."


"Oma_"


"Tukang ngompol!" Sultan mencibir.


"Diem Lo!"


"Halah..halah, ini ada apa ini, rame-rame nggak ngajakin opa." timpal opa Arga yang kini menghampiri ketiganya.


"Ini lho opa cucu kamu, perasaan baru aja kemarin jadi bayi, sekarang dia sudah punya istri saja, apa nggak terlalu kecepatan menurut kamu?"

__ADS_1


Opa Arga membuka kaca matanya, lalu menatap Arjuna dengan kekehan kecil.


"Ya, betul! tak disangka bocah cengeng ini sekarang sudah memiliki Istri, rasanya sulit dipercaya."


"Opa_"


"Jangan protes! opa bicara karena fakta, oh iya dan untuk kamu Tan." menatap Sultan dengan senyum khasnya. "Kubur masalalu jadikan pelajaran untuk kehidupan barumu yang lebih baik, mengerti?"


Sultan mengangguk, "Mengerti Opa."


Opa Arga menghela napasnya, lalu memilih duduk ditengah-tengah dan merangkul cucu-cucunya.


"Opa do'akan keluarga kecil kalian selalu dilimpahkan kebahagiaan, dan diberikan anak-anak yang lucu-lucu, kelak kalian jangan lupa untuk mendidik mereka dengan sebaik-baiknya, mengerti?"


"Mengerti opa." jawab keduanya bersamaan.


Acara akad nikah sekaligus resepsi pernikahan Alya dan juga Sultan berlangsung hingga malam hari, tak sedikit tamu undangan yang hadir terutama dari rekan bisnis Arthur begitupun dengan teman-teman Dara, teman-teman Sultan maupun teman-teman Arjuna sekalipun.


*


"Sayang, aku punya kejutan buat kamu." ujar Arjuna yang sengaja mengajak Zeela dipagi ini kesebuah tempat, lebih tepatnya rumah orang tua Zeela.


"Papa?" ucapnya dan bergegas berhambur memeluk Akmal yang merentangkan kedua tangannya.


"Anak papa, papa sangat merindukanmu nak."


"Zee juga kangen papa, papa kenapa pulang nggak bilang-bilang?"


"Sengaja, surprise!"


"Ihs papa, terus bagaimana keadaan mama?"


"Seperti harapan papa, harapan kamu dan semua orang, mama sudah sehat seperti semula." jawab Akmal yang tampak bersemangat.


"Hai sayang." sapa Arin yang baru saja keluar dari dalam rumah, wanita itu tersenyum sembari merentangkan tangan untuk memeluknya.


"Mama, aku kangen!"


"Sama, mama juga."

__ADS_1


"Sudah dulu pelukannya, sekarang kita masuk dulu, ayok! Arjuna juga." ajak Akmal, ya Akmal tahu pemuda yang berdiri tak jauh darinya adalah Arjuna menantu dia yang sebenarnya.


Karena selain saat akad nikah mereka berlangsung Akmal melakukan Vidio call, Arthur juga sudah menceritakan apa yang sebenarnya terjadi.


Zeela tak berhenti bercerita dengan Arin, bahkan gadis itu beberapa kali tertawa entah menceritakan tentang apa.


Sementara diruang tamu, ketegangan mulai tercipta saat Akmal menatap Arjuna dengan serius.


"Apa yang membuat nak Arjuna ingin sekali menikahi putri saya? padahal seharusnya nak Arjuna tahu kan, kalau Zeela dan Sultan akan segera menikah saat itu." ujar Akmal mengutarakan apa yang selama ini ia pendam ketika berada di Singapura.


"Maaf om," Arjuna menunduk, entah mengapa berada dihadapan Akmal tiba-tiba nyalinya menciut begitu saja.


"Saya hanya ingin mendengar jawaban kamu, kenapa? apa alasannya?"


"Maaf kalau perkataan saya lancang om, tapi saya sangat mencintai Putri om, bahkan disaat pertama kali saya melihatnya, jadi saat itu tiba-tiba timbul rasa ingin memilikinya, dan saya tidak rela jika Zee dimiliki siapapun termasuk kakak saya sendiri."


"Nak Arjuna, apa kamu tidak berpikir jika perbuatan kamu ini akan menyakiti semua orang termasuk Zeela sendiri."


"Saya tahu om."


Mendengar jawaban santai Arjuna, Akmal terkekeh, rupanya pemuda dihadapannya pemberani juga, pikirnya.


"Lalu bagaimana Zeela sekarang, apakah dia sudah mencintaimu."


Arjuna menggeleng, "Mungkin sekarang belum om, tapi saya yakin suatu saat Zee akan mencintai saya."


"Kenapa bisa seyakin itu."


"Karena saya sangat mencintainya."


Seketika Akmal tertawa, membuat Arjuna menunduk.


Apakah lucu? pikirnya.


Akmal berdeham pelan, "Terimakasih sudah menjaga Zeela dengan baik, lupakan sebutan kamu buat saya, dan mulai sekarang panggil saya papa."


*


*

__ADS_1


__ADS_2