
Akibat Daniel begadang semalaman, rasa kantuk di kedua matanya pun seakan tak tertahankan lagi. Daniel kemudian memanfaatkan jam istirahat pelajaran untuk tidur di dalam kelas. Beberapa meja kelas dia satukan, kemudian dia masuk di kolong meja tersebut lalu rebahan. Ketika matanya mulai terpejam, tiba-tiba Cicilia masuk kedalam kelas seorang diri kemudian menjatuhkan kepalanya di atas meja beralaskan lengan. Cicilia serasa seperti orang mabuk.
UWEEEE..K ! Tiba-tiba Cicilia kepingin muntah.
Kemudian Cicilia kembali merebahkan kepalanya di atas meja. Daniel mengintip Cicilia yang nampak tidak enak badan dari kolong meja.
“ Woi, taunya lo di sini. Gue udah cari kemana-mana..Kirain lo di kantin.” Seru Eva tiba-tiba muncul.
UWEEE…K !
“ Lo, kenapa, Ci..?” Tanya Eva.
“ Lagi nggal enak badan. Kayak masuk angin. Tolong dong kerokin, punya logaman ga..?” Jawab Cicilia.
UWEEE…K !
Eva diam menatap kawannya itu sambil berpikir.
“ Ko, malah bengong liat teman saki ? Ayo, cepetan kerokin badan gue..” Bentak Cicilia sambil bersiap-siap membuka kancing baju.
“ Yakin lo cuma masuk angin..?” Tanya Eva.
“ Ya, yakinlah, Emangnya masuk setan..” Jawab Cicilia sewot.
“ Ci..?”
“ Apa..?”
“ Kayaknya lo harus cekup kedokter, deh.” Jawab Eva.
“ Ngapain kedokter segala.? Masuk angin aja kedokter. Gue nggak semanja itu, kalee.."
“ Heeh, bukan gitu…”
“ Ya, terus kenapa..?”
“ Gue curiga..”
“ Curiga kenapa..?” Tanya Cicilia mulai kesal.
“ Jangan.., jangan..”
“ Jangan-jangan apa..?”
“ Lo kebobolan..”
“ Hii, ngaco..!”
UWEEEK….!
“ Ci..”
“ Apaan, sih..? Lama-lama gue tampol juga, lo..Ayo, cepetan kerokin gue..” Paksa Cicilia.
“ Waktu kasus gue dulu juga awalnya gue mengira masuk angin. Taunya…”
__ADS_1
“ Apa..? Hamil maksod, lo..? Ngaco banget, sih lo..Udah aah, sana.!” Usir Cicilia kembali merebahkan kepala.
“ Duh, kok jadi gue yang dekdekan, sih..” Kata Eva gusar.
“ Lo tuh terlalu parno, tau..”
“ Gue sih mengharapkan lo nggak kenapa-napa. Tapi, biar lebih meyakinkan apa nggak sebaiknya kita cek aja dulu. Kebetulan gue bawa test pack. Gimana..?”
‘ Test pack apaan, sih..?’ Tanya Daniel dalam hati yang terus bertahan di kolong meja
UWEEE…K !
“ Cici…!”
“ Gila lo ya mencurigai gue hamil. Gue itu orangnya paling ketat soal menjaga diri.” Kata Cicilia.
“ Jangan terlampau yakin dulu. Coba deh lo ingat-ingat lagi pertemuan terakhir kali lo dengan om Bobby, *ngapain*aja coba..” Desak Eva.
“ Ya, ampun, Evaaa….!”
“ Please, demi diri lo juga..”
Cicilia terdiam, sambil mengingat-ingat pertemuan terakhir kali dengan pak Bobby. Tiba-tiba wajah Cicilia berubah tegang ketika teringat satu kejadian yang hampir membuat dia bersitegang dengan pak Bobby.
Malam itu, udara di villa puncak seolah menggigit kulit, yang tidak dapat dihalau dengan segelas anggur, melainkan sebuah pelukan yang sama-sama bisa saling menghangatkan. Tentu, bukan sebatas pelukan belaka. Terlebih pak Bobby yang telah merasa ‘membeli’ Cicilia dengan harga cukup mahal untuk kencan semalaman. Meski demikian, Cicilia tidak mau diperlakukan seenaknya. Apa lagi tidak ada ansuransi kecilakaan untuk profesinya tersebut. Cicilia lah yang harus bisa melindungi dirinya sendiri jangan sampai mengalami kerugian.
Tapi, pak Bobby menuntut pelayanan maksimal dari Cicilia dengan satu tuntutan, yaitu tidak mau berlindung di balik alat kontrasepsi khusus laki-laki. Dengan alasan untuk mencapai kepuasan maksimal. Cicilia kaget dan marah ketika pak Bobby menuntutnya demikian. Bahkan Cicilia mengancam mengakhiri pertemuannya malam itu. Pak Bobby yang ahli bisnis terus membujuknya, hingga dia bersedia andai Cicilia membutuhkan Surat Perjanjian Kerjasama dengan tanda tangan di atas matrai enam ribu, sebagai jaminan jika dikemudian hari ternyata Cicilia dirugikan.
“ Mana alat tulisnya ? Om bersedia tanda tangan jika kamu membutuhkan pegangan hukum.” Kata pak Bobby yang semakin tidak tahan.
“ Okelah. Lupakan Surat Perjanjian. Ayo, kita lakukan atas dasar kepercayaan.” Balas Cicilia sambil pasang badan.
BLUK..BLUK..BLUG ..! KREKOOOT…! KWIK..KWIK..! HMM…! UWOO..W ! Malam itu terdengar ada suara-suara
aneh yang ditanggap telinga seorang satpam villa. Pak Durmaji. Dia kemudian langsung komat-kamit membaca doa karena dia kira tengah digoda hantu villa yang digosipkan sudah menjadi tempat angker.
PLAK…! Cicilia tiba-tiba menampar wajah pak Bobby cukup keras ketika pelayanan telah usai ditunaikan.
“ Omong besar ! Mana janji, om ? Awas ya, jika sampai terjadi apa-apa denganku..” Seru Cicilia sambil menunjuk hidung pak Bobby dengan mata melotot.
“ Maaf, sayang.., om benar-benar lupa..” Ucap pak Bobby dengan tampang *****.
“ Maaf.., maaf..! Kecerobohan yang sebenarnya tidak cukup hanya dengan kata ‘maaf.” Bentak Cicilia sambil
mengenakan pakaiannya kembali.
“ Tenang. Semua atas kehendak yang di atas. Jika Dia tidak menghendaki, pasti kecilakaan tidak akan terjadi, tidak akan ada pembuahan..” Ujar pak Bobby berusaha menenangkan.
“ Bawa-bawa Tuhan segala. Ini perbuatan dosa, tau !.”
Cicilia tersentak ketika teringat pernah kecolongan. Tanpa bicara apa-apa lagi, Cicilia langsung menarik lengan Eva untuk mengajaknya ke toilet sekolah.
“ Cepetan kita ketoilet, bawa test pack-nya!” Seru Cicilia.
‘ Wah, mereka mau melakukan apa, ya..? Jangan-jangan test pack alat untuk menghisap narkoba. Gawat !’ Bisik Daniel di dalam hati dengan perasaan curiga.
__ADS_1
Daniel kemudian keluar dari kolong meja dan membuntuti mereka sambil mengendap-endap seperti maling. Kebetulan toilet sekolah sedang tidak mengantri. Cicilia dan Eva langsung masuk kedalam salah satu ruangan untuk melakukan tes kehamilan, dengan cara mengambil air seni Cicilia secukupnya pada suatu wadah. Kemudian pada ujung tes pack dicelupkan pada air seni itu.
“ Tunggu beberapa saat..” Kata Eva.
“ Aduh, gue jadi dekdekan, Vaa…”
Beberapa menit kemudian alat itu menunjukkan garis biru yang artinya positif hamil.
“ Haaah ?! Astaga…! Biru, Cii…Biru !”
“ Maksudnya..?”
“ Lo hamil, Ci..”
“ Jangan becanda, Va..!” Cicilia masih tidak percaya.
“ Ini, liat garis biru ini. Ini artinya positif hamil..” Kata Eva menjelaskan.
Tangis Cicilia langsung meledak. Eva berusaha menenangkan kawannya itu dengan memeluk sambil mengusap-ngusap kepalanya.
“ Terus gue harus bagaimana, Va..?” Tanya Cicilia sambil sesunggukkan.
“ Tenangkan diri dulu, baru kita cari jalan keluarnya..”
Mereka kemudian keluar dari toilet bergandengan sambil menangis. Pandangan mata Cicilia berubah kabur, seakan mau jatuh pingsan.
“ Ci..Cici…Kamu kenapa..?” Tanya Daniel mengangetkan mereka dari arah belakang sambil pasang muka perihatin.
Cicilia dan Eva sekilas menoleh kawannya itu dengan tampang masam.
“ Ci..Cici…”
“ Apaan sih lo..? Sana ! Nggak tau ada orang yang lagi sedih apa.?” Bentak Eva kepada Daniel sambil melotot.
“ Lukisan Cicilia masih di aku. Apa nanti aku antar langsung aja kerumahnya ? Aku tau ko alamat rumahnya." Kata Daniel sekedar beralasan.
“ Iiih, nggak penting banget, sih !” Semprot Eva kepada Daniel sambil memapah Cicilia.
Daniel berdiri mematung di depan toilet dengan pikiran bingung. Ada rasa sedih dan hewatir yang menyelimuti hatinya. Dari yang awalnya ada rasa sebal kini berubah menjadi kasihan melihat Cicilia. Tapi, apa daya, jangankan untuk membantu, sekedar mendekat saja mereka seperti hendak menerkamnya. Itulah nasib si anak bawang di sekolah.Keberadaannya selalu dianggap tidak pernah ada.
Sebelum guru masuk kelas untuk memberi pelajaran di depan murid-murid yang sudah duduk manis di tempatnya masing-masing, Daniel baru muncul dengan langkah sedikit tergopoh. Kemudian melintasi meja di mana Cicilia
berada.
“ Ci, ada salam dari ibu kamu. Sepertinya dia mengharapkan kamu segera pulang.” Bisik Daniel kepada Cicilia.
“ Ibu gue..? Emang lu kenal sama ibu gue.? Di mana lo ketemu ?” Tanya Cicilia sedikit kaget.
“ Ya, aku kemarin kerumah kamu dan sempat ngobrol dengan ibu kamu.”
“ Ngapain lo kerumah ibu gue..?”
“ Sedikit ada keperluan. Sebaiknya kamu pulang saja dulu. Kasian, ibu kamu, kayaknya udah kangen banget sama kamu, Ci.” Kata Daniel.
“ Eeh, Daniel. Jangan sok menasihati gue, deh. Mood gue lagi jelek, nih. Gue tonjok lo. Pergi sana !” Bentak Cicilia.
__ADS_1
Cicilia heran, dari mana Daniel bisa tahu rumah dan mengenal ibunya. Padahal dia belum pernah memberi tahu siapa pun. Dan yang membuat Cicilia bertambah heran, informasi yang disampaikanDaniel bertepatan dengan kondisinya yang tengah buruk. Cicilia juga kengen sekali dengan ibu dan adiknya yang telah lama ditinggalkan dan tidak pernah berkomunikasi lagi.