
"Ibu kamu itu keterlaluan, Mas. Lihat, semalam wajahnya Embun itu sedih sekali," protes bunda yang pagi ini masih ada di kamar bersama ayah.
Sambil menyisir rambut, bunda tak henti-hentinya mengomel di depan cermin seperti ingin menunjukkan kepada suaminya bahwa ia benar-benar sedang kesal dengan ulah Oma di meja makan semalam.
"Namanya juga ibu. Biarkan saja, nanti juga baik sendiri," balas ayah berusaha menenangkan bunda.
Bukannya reda, kekesalan bunda malah semakin menjadi. "Tidak bisa! Aku harus bicara dengan ibu. Aku tidak mau menantuku diperlakukan seperti ini."
Wanita paruh baya itu lantas meninggalkan kamar dengan kekesalan yang masih sama. Biasanya sepagi ini Oma sedang berada di ruang televisi untuk menonton sambil menunggu waktu sarapan. Benar saja, saat tiba di ruang keluarga, Oma sedang asyik menonton TV.
"Bu, saya mau bicara sebentar."
Kedatangan bunda membuyarkan konsentrasi Oma. Wanita dengan rambut sebagian memutih itu menatap menantunya. "Mau bicara apa?"
Bunda pun memilih duduk di salah satu sofa yang lain. Bunda pikir harus menghentikan kebiasaan buruk Oma yang kadang terlalu frontal dan cenderung bersikap kasar terhadap menantu mereka.
"Bu ... kalau saya bisa minta, tolong jangan kasar-kasar sama Embun. Kasihan dia nanti tertekan."
Raut tak suka seketika tergambar jelas di wajah Oma. Ia menarik napas dalam sambil mengalihkan perhatiannya pada TV.
"Kamu membela dia?"
__ADS_1
"Embun itu istri dan menantu yang baik, Bu. Kita beruntung punya menantu sebaik Embun. Jarang ada mantu yang mau merawat mertuanya yang sakit."
Oma melirik bunda sekilas. "Cuma karena itu kamu sudah membela dia sekeras ini? Sejak awal Ibu memang tidak setuju Aby menikah dengan dia. Tapi kamu dan suami kamu itu memaksa. Seharusnya sekarang Aby menikah dengan wanita normal yang bisa memberi cucu untuk keluarga kita. Sedangkan Embun ...." Oma tak melanjutkan ucapannya. Yang ia lakukan hanya mendesahkan napas panjang.
Ketegangan mewarnai selama beberapa saat. Bunda menggelengkan kepala dengan mata terpejam. Jika tidak ingat wanita di hadapannya adalah ibu dari suaminya, mungkin saja ia sudah berbicara kasar.
"Kalau dalam enam bulan Embun belum bisa hamil, ibu akan minta Aby menceraikan Embun. Atau kalau tidak, biar Aby menikah dengan perempuan lain."
"Cukup, Bu! Jangan seenaknya memberi keputusan. Aby berhak sepenuhnya dan saya yakin dia tidak akan meninggalkan Embun apapun keadaannya."
Tanpa disadari oma dan bunda, Embun sejak tadi berdiri di tangga mendengar pembicaraan keduanya. Namun, ia memilih diam karena masih memiliki rasa hormat kepada kedua mertuanya.
Sadar akan keberadaan Embun, bunda langsung berdiri dan menghampiri menantunya. Ia yakin Embun mendengar semua pembicaraannya dengan Oma.
"Iya, Bunda. Aku mau bantu bibi buat sarapan."
"Ya udah, kita sama-sama. Bunda juga baru mau ke dapur."
Keduanya beranjak menuju dapur. Meninggalkan Oma dan Mita yang duduk di ruang televisi.
"Oma, jangan begitu sama Embun. Kasihan dia ditekan terus sama Oma. Lagian Embun salah apa sih sama Oma?" ucap Mita.
__ADS_1
"Kamu juga ikut-ikutan membela dia?"
Mita menghembuskan napas panjang. Omanya itu memang keras kepala. "Udah ah, Oma itu memang jahat!"
Gadis itu berdiri meninggalkan Oma dan memilih masuk ke kamar.
Sementara itu di dapur
"Bunda, .... tolong jangan bertengkar dengan oma hanya karena aku. Aku nggak apa-apa, kok."
Bunda mengulas senyum. Menantunya ini memang memiliki hati yang baik. Tetapi ibu mana yang senang anaknya diperlakukan tidak adil? Dan bagi bunda, Embun sama seperti anak kandungnya sendiri.
"Nggak, Sayang." Bunda membelai rambut menantunya penuh kasih. "Bunda nggak enak sama kamu karena Oma. Kamu jangan sedih, ya. Aby pasti tidak akan pernah meninggalkan kamu. Bunda yakin Aby sayang sekali sama kamu."
"Iya, Bunda."
"Jangan putus asa. Terus berusaha saja." Bunda masih memasang senyum penuh kasih. "Memang belum ada tanda-tanda, Nak?"
Embun menggelengkan kepala lemas. Beberapa waktu belakangan ini ia memang kerap mual dan muntah. Tetapi, menurutnya ini adalah efek dari obat dan juga susu program kehamilan yang ia konsumsi. Selain itu, dokter pun pernah memberi tahu bahwa obat mungkin memiliki efek samping mual.
"Belum. Empat Minggu lalu aku periksa ke dokter dan hasilnya masih negatif."
__ADS_1
****