Pengkhianatan Di Malam Pertama

Pengkhianatan Di Malam Pertama
Bab 74 : HARUS KELUAR KOTA?


__ADS_3

Terukir kerutan tipis pada kedua alis tebal Aby ketika menatap wanita berpakaian ketat yang baru saja keluar melewati pintu. Ia tertawa kecil setelahnya. Wajah wanita itu tiba-tiba saja menjadi pucat. 


"Ada apa dengan teman baru kamu itu?" 


"Nggak tahu, Mas. Padahal tadi dia bilang mau ikut makan sama kita," jawab Embun yang masih tampak bingung dengan tingkah sang tetangga. 


"Ya udah, nggak apa-apa."


Pasangan halal itu kemudian duduk bersama di meja makan. Embun melayani sang suami dengan mengambilkan makanan. Aby tampak antusias melihat beberapa menu yang tersedia di meja yang begitu menggugah selera hanya dengan melihat warna dan aroma.


"Resep baru, ya?" 


"Iya, Mas. Aku baru belajar dari buku tadi," jawabnya penuh semangat, lalu menggeser piring berisi nasi dan lauk ke hadapan suaminya. 


"Kamu usaha banget ya, mau bikin aku senang," ucapnya. "Kalau begitu nanti malam aku juga harus usaha buat bikin kamu senang."


Tanpa menunggu, Aby segera menyuapkan sesendok makan ke mulut. Ia tampak terdiam beberapa saat sambil mencoba merapi rasa masakan istrinya. 


"Bagaimana?" Embun menatap penuh tanya. Menanti penilaian sang suami. 


"Agak asin, Yang!" 


"Hah? Asin?" Embun tampak heran, mencoba mengingat takaran garam yang ia masukkan ke dalam masakan. "Perasaan tadi garamnya sesuai petunjuk."  


"Tapi enak, kok. Kalau garamnya kurang sedikit pasti enak banget ini." Tidak ingin Embun berkecil hati, Aby melanjutkan santapannya. 


"Ya udah, nggak usah di makan. Kita makan di luar aja, ya," tawar Embun, yang kini terlihat merasa bersalah. Padahal Aby sengaja pulang untuk makan siang dengannya.

__ADS_1


"Nggak usah. Aku mau makan ini aja." Aby membelai wajah istrinya penuh kasih. "Makasih, Sayang. Kamu sudah mau repot-repot masak buat aku." 


"Tapi makanannya nggak enak." 


"Nggak enak gimana? Enak kok ini, cuma agak asin." Ia tersenyum tulus. "Baru belajar aja bisa enak begini, bagaimana kalau sudah terbiasa?" 


Embun mengulas senyum mendengar pujian Aby untuknya. Ah, Aby memang pandai membuat hati Embun menghangat, sehangat malam-malam yang mereka lalui bersama. 


.


.


.


"Pulangnya jam berapa, Mas?" tanya Embun selepas makan siang bersama. Sekarang mereka sudah berada di depan rumah. Aby harus segera kembali ke pabrik.


Aby menghela napas panjang setelahnya. Beberapa hari ini ia memang disibukkan dengan pekerjaan yang padat. Belum lagi menjelang peluncuran produk baru yang membuatnya harus bekerja lebih keras. 


"Tapi nggak sampai pagi, kan?" tanyanya memelas. Akan menakutkan tidur sendirian di rumah hingga pagi.


"Aku usahakan pulangnya nggak larut malam. Jangan lupa kunci semua pintu sama jendela." 


"Iya." 


Embun mencium tangan suaminya, membuat Aby membenamkan ciuman di kening. Tanpa disadari oleh keduanya, sepasang mata tengah menatap mereka dari balik jendela. 


"Manis banget sih mereka, mentang-mentang pengantin baru," gumam Siska. 

__ADS_1


 .


.


.


Menempuh perjalanan selama dua puluh menit, Aby akhirnya tiba di sebuah gedung tinggi. Begitu masuk, terlihat Dewa sedang berbincang dengan beberapa pria lain. Tampak sangat serius. 


"Ada apa?" tanya Aby, mendapati wajah Dewa yang terlihat khawatir. 


"Ada masalah dengan supplier bahan baku di luar kota. Kayaknya salah satu dari kita harus berangkat dalam waktu dekat," terang Dewa. 


"Keluar kota?" Kening Aby berkerut tipis. 


"Iya. Aku baru mau hubungi Pak Desta untuk minta beberapa orang untuk dikirim ke sana. Tapi yang jelas salah satu dari tim kita harus berangkat." 


"Nggak ada orang lain lagi yang bisa selain kita?"


Dewa menggeleng pelan. "Aku nggak percaya yang lain."


Aby mengangguk mengerti. Namun, mendadak tubuhnya terasa lemas. Jika harus keluar kota, apakah ia harus meninggalkan Embun sendirian? Padahal mereka sedang dalam masa hangat-hangatnya. 


"Kalau aku yang tugas keluar kota, si Royal Jelly bisa puasa nih," gumamnya dalam hati. 


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2