
"Sayang, aku mau ke kantor sebentar. Kamu mau di sini apa mau aku antar pulang dulu?" tanya Aby di siang harinya.
Pria itu tampak sudah rapi dengan celana jeans dan kemeja lengan pendek. Sekarang ia sedang berdiri di depan cermin sambil membenarkan penampilannya.
"Bukannya ini akhir pekan, ya, Mas?"
"Iya, tapi aku harus periksa sesuatu. Cuma sebentar, kok. Yuk, aku antar kamu pulang dulu."
"Aku di sini aja. Aku mau bantuin bunda buat kue." Embun ingat pagi tadi, bunda memberitahu akan membuat kue. Dan Embun sekalian ingin belajar membuatnya.
"Ya udah, Sayang." Aby mendekat. Memeluk dan menciumi istrinya. "Aku pergi dulu, ya."
"Iya. Ayo, aku antar ke depan."
Sambil saling bergandengan tangan, keduanya menuju halaman depan. Embun melambaikan tangan saat mobil yang dikemudikan suaminya melaju meninggalkan rumah.
Sebelum kembali ke kamar, Embun menuju dapur untuk memastikan apakah bunda sudah mulai membuat kue atau belum. Namun, yang ia dapati di dapur hanya Oma, yang sepertinya sedang membuat teh.
Mita juga sedang duduk di meja sambil memainkan ponselnya.
"Mau aku bantu, Oma?" tawar Embun. Setidaknya, ia harus tetap bersikap baik terhadap Oma. Mungkin saja dengan begitu Oma akan melunak.
Oma hanya melirik sekilas. Lalu bergeser dari posisinya seperti sedang mempersilahkan Embun untuk membuatkannya teh. Sementara Oma sendiri memilih duduk di meja sambil menunggu.
__ADS_1
"Oma suka gulanya bagaimana?" tanya Embun.
"Satu setengah sendok!" jawabnya ketus.
Embun memasukkan satu setengah sendok gula ke dalam gelas. Lalu, membawakan ke hadapan sang Oma.
Wanita dengan banyak keriput di seluruh tubuh itu mencicipi teh buatan Embun dengan sendok.
"Ini kemanisan!" ucapnya masih ketus.
"Maaf, Oma. Mungkin aku masukin gulanya kebanyakan. Aku buatkan lagi aja, ya?" Embun segera meraih gelas lainnya.
"Tidak usah! Kamu itu memang tidak cocok berada di keluarga ini," gerutu Oma.
Embun menarik napas dalam-dalam demi mengurai rasa panas yang seakan sanggup membakar tubuhnya. Ucapan Oma terasa menusuk dalam ke hati. Tanpa sadar sebelah tangan Embun terkepal. Gelas di tangannya ia hempas ke lantai hingga pecahannya berhamburan.
"Kamu berani melawan Oma?" tantang Oma geram. "Aby harus tahu kelakuan istrinya sekurang ajar ini. Aby aja nggak pernah banting barang di hadapan Oma!"
"Karena Oma sudah keterlaluan! Semalam aku masih bisa tahan dengan Oma, tapi sekarang tidak lagi. Aku juga punya batas kesabaran, Oma!"
Keributan yang terjadi di dapur membuat ayah dan bunda terkejut. Mereka saling berlomba menuju dapur. Bunda dan ayah menatap lantai di mana pecahan kaca berhamburan.
"Ada apa ini?" tanya ayah.
__ADS_1
Bunda langsung mendekati Embun dan memeluk menantunya itu. Ia yakin Oma baru saja mengatakan sesuatu yang membuat Embun sedih.
"Kamu kenapa, Nak?" Bunda membelai rambut menantunya.
Oma pun berdecak melihat bunda yang selalu membela Embun. "Menantu kurang ajar seperti dia yang selalu kamu bela! Lihat sekarang, dia berani banting barang di hadapan ibu!"
Detik itu juga cairan bening merebak di pipi Embun. Ia tidak tahan lagi dengan Oma.
"Bu ... Embun tidak mungkin seperti ini kalau Ibu tidak memancing dulu. Saya tahu seperti apa Embun," ucap sang bunda, membela menantunya.
"Kamu itu sama saja! Kamu tidak bisa membedakan mana yang seharusnya di bela mana yang tidak!"
"Sudah, cukup!" potong ayah. "Mau jadi apa keluarga kita kalau isinya hanya orang bertengkar terus?"
Embun mengusap cairan bening yang mengaliri kedua sisi pipinya.
"Maafin aku, Yah. Semua salah aku. Aku mau pulang aja."
Tanpa kata, Embun berlalu begitu saja meninggalkan dapur dengan terisak-isak. Bunda dan Mita saling melirik. Keduanya pun segera mengambil langkah seribu meninggalkan dapur.
Sementara Embun mempercepat langkahnya yang terasa berat. Saat tiba di anak tangga pertama, ia merasakan sensasi mual di perut dan juga denyutan di kepala yang membuat sekeliling terasa berputar.
Embun terdiam sebentar sambil berpegang pada pembatas tangga. Hingga akhirnya rasa tidak nyaman itu semakin menyiksa. Embun terhuyung ke belakang, beruntung ada bunda dan Mita yang sigap menangkap tubuhnya agar tak membentur lantai.
__ADS_1
"Ayah cepat ke sini! Embun pingsan!" teriak bunda sekuat tenaga.
***