
Embun mendesahkan napas panjang. Sepertinya usaha apapun yang ia lakukan untuk meluluhkan Aby sia-sia. Karena laki-laki itu memiliki hati sekeras baja. Sangat sulit untuk dilunakkan. Apa lagi jika orang tercintanya terusik.
"Kata bunda, oma lagi sakit, Mas. Oma mau ketemu kamu," lirih Embun.
Siang tadi Embun memang mendapat kabar dari bunda bahwa oma sedang tidak enak badan dan ingin bertemu Aby. Tetapi, Embun belum berani menjenguk oma tanpa izin dari suaminya.
"Malam ini aku akan ke rumah jenguk oma. Tapi kamu nggak usah ikut!"
Embun menganga tak percaya mendengar keputusan sepihak suaminya. "Kok gitu sih, Mas? Aku kan juga mau lihat keadaan oma."
"Kalau oma kasar lagi sama kamu bagaimana?"
"Oma kan lagi sakit, Mas. Apa masih bisa kasar sama orang?"
Baru saja mulut Aby akan terbuka untuk menyangga ucapan Embun, ponsel miliknya sudah berdering. Tertera nama bunda pada layar ponsel. Aby segera menggeser simbol hijau untuk terhubung dengan sang bunda.
"Iya, Bunda," sapa Aby sesaat setelah panggilan terhubung.
"Aby, kamu di mana, Nak?" Suara bunda terdengar panik, membuat dahi Aby berkerut.
"Di rumah, lagi sama Embun. Bunda kenapa kok panik?"
"Oma dilarikan ke rumah sakit, By. Sekarang kita semua lagi di rumah sakit."
__ADS_1
Spontan Aby merubah posisi duduknya. Embun yang masih bersandar di dadanya ia geser dengan lembut. "Di rumah sakit mana, Bunda?"
"Rumah sakit langganan keluarga kita. Pokoknya kamu cepat ke sini. Tadi oma minta ketemu kamu dan Embun."
"Iya, Bunda."
*
*
*
Aby dan Embun berjalan dengan sedikit tergesa-gesa melewati lorong-lorong panjang rumah sakit. Setibanya di ruang perawatan oma, Aby merangkul istrinya memasuki ruangan itu. Oma tampak terbaring dengan wajah pucat dan tubuh sedikit kurus.
Begitu melihat Aby, wanita renta itu langsung menyambut dengan pelukan. Ia sangat merindui cucu kesayangannya itu.
Tim dokter kemudian masuk dan memeriksa keadaan oma. Menurut sang dokter, oma harus mendapat perawatan intensif, sebab tubuh oma cukup lemah dan tekanan darahnya sangat rendah.
"Mita, kamu bisa jaga oma di rumah sakit selama dirawat kan, Sayang?"
Mita yang sedang duduk di sofa sambil memainkan ponsel itu refleks berdiri. Raut wajahnya terlihat bingung.
"Jangan aku deh, Bunda. Bunda kan tahu aku nggak suka bau rumah sakit," tolak Mita. Tubuhnya bergidik geli saat membayangkan akan menginap di rumah sakit selama berhari-hari.
__ADS_1
"Kalau bukan kamu siapa lagi yang bisa jaga oma, Mita. Bunda nggak bisa selalu di sini jaga oma. Kamu kan tahu ayah lagi kurang enak badan. Kamu juga lagi libur kuliahnya, kan?" bujuk bunda sekali lagi.
Tetapi gadis itu malah memonyongkan bibir, dengan ekspresi terlihat gelisah. "Aku kan nggak pernah tahan di rumah sakit, Bunda."
"Tapi, Mita ...."
"Bunda, aku mana bisa rawat orang sakit?" potong Mita cepat. "Pokoknya aku nggak mau! Kenapa nggak sewa suster pribadi aja buat jagain oma, sih?"
Mendengar perdebatan antara menantunya dan Mita, Oma tampak kecewa. Cucu yang dianggapnya sebagai kesayangan itu justru menolak untuk merawat dirinya. Padahal selama ini ia memberikan apapun yang diinginkan Mita. Bahkan pernah sempat ingin menjodohkan Mita dengan Aby.
"Bunda, aku aja yang jaga oma di sini," usul Embun.
Ia yang tidak enak hati mendengar perdebatan bunda dan Mita langsung menawarkan diri. Kebetulan tidak ada kegiatan mendesak beberapa hari ini. Sebab tinggal menunggu hari wisuda tiba.
"Kamu kan lagi hamil, Nak. Kamu butuh banyak istirahat," ucap bunda.
"Nggak apa-apa, Bunda. Aku bisa, kok. Lagian aku nggak ada kegiatan penting."
"Kamu yakin bisa, Nak?"
Embun menjawab dengan anggukan kepala. "Iya, Bunda. Aku udah mendingan, kok. Nggak mual-mual lagi."
Oma yang terbaring di tempat tidur menatap cucu menantunya dengan mata berkaca-kaca. Justru menantu yang tidak disukainya itu dengan suka rela menawarkan diri untuk merawat dirinya.
__ADS_1
...**** ...