
Embun menggeliat dalam balutan selimut tebal. Sepasang matanya masih terpejam. Masih dikuasai kantuk, tangannya meraba ke kanan dan kiri demi mencari sosok suami yang biasanya memeluknya di pagi hari. Tetapi, tak ia temukan Aby pagi itu. Tempat di sebelahnya kosong. Melirik ke kamar mandi, Aby pun tak berada di sana.
Ah, mungkin sedang berolahraga pagi di sekitar kompleks perumahan mereka. Karena Aby memang sangat suka melakukannya.
"Hmm ... aroma mentega panas."
Mata Embun terpejam ketika indera penciumannya menangkap aroma mentega panas yang membuat perutnya mendadak lapar. Pintu kamar yang terbuka setengah membuat aroma yang ia yakini berasal dari dapur itu menyeruak sampai kamar. Embun yakin suaminya sedang membuat sarapan di dapur.
Embun melangkah keluar kamar dan segera menuju dapur. Benar dugaannya, Aby sedang asyik di dapur membuat roti panggang.
"Mas ...." panggilnya sambil melingkarkan tangan di pinggang sang suami sambil bersandar dengan manja di punggung.
"Kamu sudah bangun, Sayang?" tanya Aby tanpa menoleh. Ia masih terfokus dengan pekerjaannya.
"Huum."
"Masih mual?" tanya Aby lagi.
"Nggak. Cuma lemas sedikit."
"Ya udah, kamu duduk dulu, aku susah gerak ini. Sebentar lagi selesai, kok."
Embun pun melepas tangan yang melingkar di pinggang suaminya, lalu memilih duduk di kursi sambil memperhatikan Aby.
Satu hal yang dirasakan Embun saat ini. Ia sangat bersyukur memiliki Aby dalam hidupnya. Aby adalah sosok suami penyabar, perhatian dan sangat peka terhadap perasaannya. Selain itu perlakuannya sangat lembut dan rela melakukan apapun meskipun dalam keadaan lelah. Sekarang Embun mengerti mengapa dulu Vania begitu sulit untuk melepas Aby.
"Mau sarapan dulu apa mau mandi dulu?" Pertanyaan itu membuyarkan lamunan Embun. Ia menatap suaminya yang tengah melepas celemek.
"Mau mandi dulu, biar makannya enak."
"Mandi bareng mau nggak? Kebetulan aku juga belum mandi." Aby menggerakkan alisnya naik turun.
Embun melayangkan tatapan penuh curiga kepada suaminya itu. Biasanya ada maksud tersembunyi. Aby dengan cepat menangkap arti tatapan suaminya.
__ADS_1
"Tenang, Armageddon-nya lagi jinak, kok."
Embun mendesahkan napas panjang. Suaminya itu selalu punya istilah unik untuk monster kecil yang tersembunyi di balik celana.
*
*
*
"Yakin mau ke kantor hari ini?" tanya Aby di sela-sela sarapan.
Embun tetap mau ke kantor, padahal tubuhnya masih sedikit lemas. Aby pun sudah berulang kali memintanya untuk istirahat di rumah. Tetapi Embun tetap ingin berangkat, apalagi masa magang tinggal beberapa hari lagi.
"Yakin. Aku merasa lebih baik dari kemarin."
"Tapi kalau nanti pusing dan mual lagi gimana?" tandasnya. "Atau sebelum ke kantor kita ke dokter dulu, deh. Biar obatnya di ganti. Mungkin kamu nggak cocok dengan obat itu."
Namun, usulan panjang itu membuat Embun terkekeh. "Nanti aja. Kan katanya memang obat itu bisa bikin mual. Apalagi susunya."
"Ya udah, tapi kalau mualnya parah kayak semalam, harus ke dokter." Akhirnya Aby menyerah. Sebab berdebat dengan Embun tidak akan menang.
Setelah menyelesaikan sarapan, keduanya berangkat menuju kantor.
"Ingat ya, jaga jarak dari anak-anak pemasaran. Apa lagi yang namanya Andre itu!" gerutu Aby saat tiba di parkiran kantor.
"Iya."
"Kalau dia ajak kamu ngobrol diam aja kamu."
"Kan aku lagi magang, Mas. Masa diam kalau diajak ngobrol?"
"Pokoknya jauh-jauh dari si Andre itu!"
__ADS_1
Bibir Embun sudah maju. Sejak magang di kantornya, Aby juga terkesan sangat posesif. Apa lagi di kantor ada pemuda yang diam-diam selalu memperhatikan Embun dan itu membuat Aby terbakar cemburu.
Sayangnya, gedung kantor pusat May-Day terbagi tiga dan Embun ditugaskan di gedung sebelah. Sehingga keduanya hanya bertemu dengan saat jam makan siang walaupun tidak makan di meja yang sama.
May-Day masih memberlakukan larangan satu kantor bagi pasangan kekasih atau pun suami istri. Sehingga Aby dan Embun terpaksa merahasiakan hubungan mereka. Tentunya, hanya Dewa seorang yang mengetahui. Tetapi, ia pun mendukung Aby yang kala itu.
*
*
*
"Kamu belum pulang, Mbun?" Sapaan itu membuat Embun menoleh. Seorang pria yang telah diwanti-wanti Aby untuk dijauhi itu kembali mendekatinya.
Embun melirik arah jarum jam. Waktu sudah menunjuk ke angka tujuh. Malam ini Aby juga sedang lembur dan Embun sedang menunggunya.
"Belum, sebentar lagi, Pak," jawab Embun berusaha bersikap acuh tak acuh mengingat peringatan suaminya tadi.
"Kamu jangan panggil bapak terus, dong. Saya kan masih muda," protesnya. "Bagaimana kalau saya mengantar kamu pulang?" Pria itu memulas senyum penuh semangat.
Sejak awal kehadiran Embun di kantor, ia memang sudah jatuh hati. Embun adalah wanita yang sangat cerdas dan cantik, sehingga Andre terus berusaha mendekatinya.
"Tidak usah, Pak."
Penolakan Embun membuat pria itu berdecak. "Kamu kenapa sih, tidak pernah menerima ajakan saya?"
"Itu kan hak saya mau atau menolak. Kenapa Bapak yang repot?"
Pria itu terdiam. Semakin Embun menolak, semakin ia merasa tertantang. Ia pun dibuat penasaran dengan kepribadian Embun yang sangat tertutup.
"Tapi ini sudah malam, loh. Kamu tidak takut pulang sendiri?"
Pria itu terus merayu dengan menawarkan mengantar pulang. Bahkan terkadang mengajak makan berdua.
__ADS_1
Tanpa disadari oleh pria itu, Aby sudah berdiri di belakangnya dengan wajah mendatar.
****