Pengkhianatan Di Malam Pertama

Pengkhianatan Di Malam Pertama
Bab 71 : Tetangga Baru


__ADS_3

"Hai, kalian lagi nonton juga? Kebetulan sekali," sapa Dewa yang terlihat sedikit terkejut mendapati Aby dan Embun di sana. 


Keempatnya saling menyapa satu sama lain. Vania juga bersikap sangat ramah terhadap Embun layaknya seorang teman.


Sementara Aby menatap Dewa penuh selidik. Ada pertanyaan di benaknya, bagaimana Dewa bisa datang bersama Vania. Tetapi, meskipun merasa penasaran ia tak lantas menanyakan dan memilih memendam di benaknya. 


"Aku bertemu Vania di taman tadi. Sekalian aja aku ajak jalan," ucap Dewa. 


"Oh ...." Aby kembali tersenyum. 


Acara nonton bareng secara kebetulan itu pun berlanjut. Sesekali ruangan besar itu diwarnai jeritan para penonton. Vania melirik ke samping, sudut bibirnya melengkung membentuk senyum tipis ketika melihat Embun yang begitu ketakutan memeluk lengan suaminya. Sekarang Aby dan Embun menjalani pernikahan seperti pasangan pada umumnya. 


.


.


.


Mobil yang dikemudikan Dewa berhenti tepat di depan gerbang rumah Vania. Dewa melirik gadis di samping yang tampak begitu pulas. Sepertinya Vania cukup  kelelahan malam ini. Karena selepas nonton bareng, mereka berempat menghabiskan waktu dengan berjalan-jalan sebentar, lalu mampir ke sebuah restoran. 


"Van ... Vania ... sudah sampai." Dewa mengguncang lengan pelan. Namun, setelah beberapa kali membangunkan, tetap tidak ada respon dari gadis itu. "Vania!" Kali ini Dewa menaikkan suara, yang membuat Vania perlahan terbangun. 


Gadis itu menyapu kelopak mata dengan jari sambil menguap melepas rasa kantuk. Sebuah ekspresi wajah yang sangat menggemaskan bagi Dewa. 


"Sudah sampai, ya? Maaf aku ketiduran," ucap Vania dengan suara terdengar serak. 


"Iya, cepat turun. Mami kamu pasti menunggu sejak tadi." 


Benar saja, sesaat setelahnya, pintu bagian depan terbuka dan memunculkan mami. Wanita paruh baya itu langsung keluar dan membuka gerbang. Dewa segera turun untuk menyapa. 


"Nak Dewa terima kasih sudah mengantar Vania. Tante tadi takut terjadi apa-apa sama Vania." 


"Sama-sama, Tante. Kebetulan saya lihat Vania di taman sendirian." 


"Masuk dulu, Nak Dewa," ajak sang mami dengan ramah. 

__ADS_1


"Nggak usah, Tante. Saya langsung pulang aja," tolak Dewa, mengingat waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. 


"Sekali lagi terima kasih, Nak."


"Sama-sama, Tante. Saya permisi." 


Sesaat setelah mobil milik Dewa meninggalkan mereka, mami menatap Vania seraya mengulurkan tangan. "Sini, Sayang." 


"Mami nggak marah?" tanya Vania agak ragu. Biasanya jika dirinya melakukan sebuah kesalahan, mami akan sangat marah bahkan kadang mengeluarkan makian. 


Tetapi, dugaan Vania salah besar kali ini. Karena mami justru menyambutnya dengan pelukan. 


"Maafin mami, ya. Mami banyak salah sama kamu selama ini." 


.


.


.


Embun tengah menyirami tanaman di halaman depan. Kemarin ia baru saja membeli beberapa bibit tanaman hias.


"Selamat pagi." Sapaan seorang wanita mengalihkan perhatian Embun.


"Iya, pagi." Embun tersenyum ramah, menatap seorang wanita yang baru saja keluar rumah dengan menggunakan celana pendek dan tanktop. 


Perumahan mereka adalah jenis cluster, sehingga antara rumah satu dengan lainnya tidak dibatasi oleh pagar, melainkan hanya tembok beton berukuran pendek. Embun menghentikan kegiatan menyiram tanaman untuk berkenalan dengan tetangga. 


"Hai, aku Siska. Baru tahu loh ada tetangga baru," ucapnya seraya mengulurkan tangan. 


Embun segera menyambut uluran tangan tetangganya itu. "Aku Embun. Aku baru beberapa hari pindah ke sini." 


"Semoga betah, ya. Lingkungan di sini enak, kok." Ia masih tersenyum menatap wanita muda di samping. 


"Terima kasih, Siska." 

__ADS_1


Keduanya masih mengobrol santai saat Aby keluar dari rumah dengan membawa sebuah tas ransel dan memasukkan ke mobil. Jika biasanya Aby tampak rapi dengan kemeja dan celana bahan, pagi ini ia terlihat cukup santai dengan kemeja lengan pendek dan celana jeans yang dipadukan dengan sepatu sneakers. 


Siska menatap tanpa berkedip. Paras tetangga baru itu seperti menghipnotis dirinya. Apa lagi bentuk tubuh Aby yang atletis dan jangkung terbalut kulit putih. Benar-benar sempurna dalam pandangannya. 


"Itu siapa, Embun?" tanyanya tanpa mengalihkan pandangan dari Aby. 


"Itu suami aku." 


"Suami?" Rahang Siska terbuka lebar hampir tidak percaya. Jika dilihat-lihat, Embun masih sangat muda. Siska dapat menebak usia wanita itu beberapa tahun di bawahnya. Bahkan Embun dan Aby lebih cocok jika menjadi adik dan kakak, bukan sepasang suami-istri. "Kamu semuda ini sudah menikah?" 


"Iya. Kami baru menikah beberapa bulan lalu." 


"Oh ... aku pikir dia kakak kamu." Ia masih menatap tak percaya. 


Embun hanya menanggapi dengan senyuman tipis. Lalu menatap suaminya.


"Tumben ke kantor pakaiannya santai, Mas," ucap Embun.


"Aku nggak ke kantor hari ini. Mau ke pabrik sama Dewa," jawabnya. "Kamu hari ini nggak ke mana-mana, kan?" 


"Nggak, di rumah aja." 


"Ya udah, nanti siang aku makan di rumah, deh." 


Embun mendekati suaminya dan mencium punggung tangan dan dibalas Aby dengan mencium kening singkat.


"Aku pergi dulu, ya."


"Iya, hati-hati di jalan."


Sementara Siska masih mematung di tempat dan menjadi penonton sepasang suami dan istri itu.


"Ya ampun, suami istri beneran. Aku pikir Embun bercanda," gumamnya lemas. 


...*****...

__ADS_1


__ADS_2