Pengkhianatan Di Malam Pertama

Pengkhianatan Di Malam Pertama
Bab 42 : Terpental Jauh


__ADS_3

Embun memindahkan tangan Aby yang masih membelai wajahnya. Sulit baginya untuk menerima permintaan Aby begitu saja setelah semua rasa sakit yang ia dapatkan selama pernikahan.


"Kamu juga hati-hati di jalan."


Tanpa mengulur waktu lagi, Embun segera turun dari mobil. Sementara Aby hanya dapat memandangi punggung istrinya yang perlahan menjauh. Setelahnya, Aby melajukan mobil meninggalkan kampus.


Tanpa disadari oleh Aby maupun Embun, sepasang mata sejak tadi menjadi saksi kemesraan mereka pagi itu.


Vania mengusap kedua sisi pipinya dari lelehan air mata. Kemesraan Aby dan Embun menjadi sambutan pertamanya yang menyakitkan saat tiba di kampus.


Ingatan Vania seketika terbang ke masa lalu. Dulu, Aby sering menolak saat Vania ingin sekedar mencium pipinya saja. Bahkan, saat pertama kali berpacaran, Aby sudah menegaskan tidak mau bersentuhan di bibir.


Lalu, mengapa dengan Embun yang baru kenal beberapa bulan berbeda? Aby bahkan menciumnya lebih dulu.


"Van, kamu ngapain di sini?" Sapaan yang tiba-tiba terdengar dari arah belakang membuat Vania terjingkat. Ia menoleh untuk melihat siapa yang telah mengagetkannya pagi itu.


"Kamu?"


Raut wajahnya mendadak berubah saat menyadari sosok yang menghampiri dirinya. Vania mengusap ujung matanya dari sisa air mata, agar tak terlihat.


"Kamu kenapa, Van? Kamu nangis?" tanyanya, saat melihat deretan bulu mata Vania yang terlihat masih basah.


"Nggak, kok. Mata aku kemasukan debu," jawabnya berbohong. "Ada apa? Tumben kamu sapa aku?" tanyanya ketus.


Sebab sejak dulu, ia dan Mega tak begitu dekat. Mega cenderung lebih dekat dengan Embun. Bahkan mereka kerap menghabiskan waktu bersama. Berbeda dengan Vania yang memiliki teman-teman sendiri. Namun, akhir-akhir ini, Vania cukup menjaga jarak dengan teman-temannya.


"Nggak apa-apa. Aku cuma kebetulan lihat kamu di sini." Wanita itu memulas senyum, seraya menatap mobil milik Aby di kejauhan. "Bagaimana hubungan kamu dengan Kak Aby?"


Dahi Vania berkerut mendengar ucapan Mega. "Kamu tahu dari mana soal aku sama Aby?"


Mega terkekeh. "Aku tahu lah. Embun kan sering cerita. Dia juga bilang kamu masih berpacaran sama Aby padahal Embun itu istri sah nya Aby."


Mendadak raut wajah Vania berubah kesal. Teringat kembali ketika Aby mencium kening Embun di mobil. Dan itu benar-benar membuat dadanya bergemuruh.


"Aku ngerti posisi kamu. Pasti serba sulit karena Aby menikah dengan orang lain, padahal kamu masih ada hubungan sama dia," ujar Mega.


"Memang Embun cerita apa aja sama kamu?"


"Semuanya. Embun kan terbuka sama aku. Katanya mereka udah mulai baikan. Kamu yang sabar ya, Van. Seharusnya kamu yang ada di posisi Embun sekarang."


Rasanya, udara sekitar seperti tak cukup bagi Vania untuk bernapas.


...*****...

__ADS_1


Siang harinya ....


Embun mengeluarkan ponsel dari dalam tas. Baru saja terdengar suara deringan yang menandakan adanya pesan baru masuk.


Beberapa pesan yang berasal dari teman ia balas satu persatu. Ada pula pesan baru masuk dari nomor suaminya.


"Aku di depan, di samping gerbang kampus." Isi pesan Aby.


Embun pun segera mengetikkan pesan balasan.


"Tunggu!"


Merapikan beberapa benda miliknya yang ada di meja, Embun memasukkan ke dalam tas. Tanpa menunggu lagi, wanita itu segera meninggalkan kelas.


Melewati Vania yang tengah mengobrol dengan beberapa teman. Bahkan Embun tak peduli dengan tatapan permusuhan yang terus dilayangkan Vania kepadanya.


...****...


Aby memulas senyum saat melihat Embun keluar dari gedung kampus. Pria itu memanfaatkan waktu istirahat siangnya dengan membawa Embun ke sebuah restoran yang belakangan ini menjadi favoritnya.


Aby membuka pintu mobil saat Embun mendekat. Ia sambut istrinya dengan senyuman menawan.


"Bagaimana di kampus?" Aby membuka suara, sambil menyalakan mesin mobil dan meninggalkan gedung tinggi itu.


Aby melirik Embun sekilas, lalu kembali terfokus dengan jalanan di depan. Sepanjang hari ini, ia tak cukup tenang memikirkan istrinya. Apakah Vania membuat masalah dengannya, karena pembicaraan mereka semalam?


"Boleh aku tanya sesuatu?"


Embun mengangguk. "Mau tanya apa?"


"Vania nggak buat masalah dengan kamu, kan?"


Mendapat pertanyaan itu, Embun menarik napas dalam. Hari ini memang cukup menyebalkan baginya. Karena Vania beberapa kali menyindir dirinya secara terang-terangan dengan sebutan perusak hubungan orang. Bahkan tadi Vania sempat mendorongnya sampai terjerembab ke lantai.


"Nggak, kok. Biasa aja," jawabnya asal. Embun memilih tak memberitahu apa yang dilakukan Vania kepadanya.


"Syukur lah. Aku sempat khawatir dia akan membuat masalah dengan kamu."


Menempuh perjalanan lima belas menit, mereka tiba di sebuah restoran. Aby menggandeng tangan Embun memasuki restoran. Beberapa menu menjadi pilihannya siang ini.


"Malam ini kamu ada kegiatan, nggak?" tanya Aby, setelah memesan beberapa menu.


"Nggak ada. Memang kenapa?"

__ADS_1


"Aku mau ajak kamu ke suatu tempat."


Embun menatap suaminya dengan kerutan tipis di kening. Sebuah pertanyaan tiba-tiba terlintas dalam benaknya. Apakah Aby sedang mengajaknya untuk berkencan?


"Memang mau kemana?"


"Aku ada tugas kantor yang harus selesai malam ini. Aku nggak ada teman ke sana, makanya mau ajak kamu," jawabnya.


Meskipun alasan yang diberikan Aby terasa aneh bagi Embun, namun ia tak begitu menanggapi.


"Lihat nanti aja. Aku nggak bisa janji."


Aby hanya menanggapi dengan senyuman. Jika Embun menolak, ia dapat meminta bantuan Mama Rima untuk membujuk.


Makan siang pun berlanjut. Aby sesekali memecah kebekuan dengan membicarakan beberapa hal. Membuat Embun terheran dengan sikap suaminya yang jauh berubah.


Aby terkesan lebih peduli, lebih perhatian dan lebih manis.


...****...


"Kamu tunggu di sini sebentar, ya. Aku mau ambil mobil dulu," ucap Aby saat telah tiba di lobi.


"Aku tunggu di depan aja. Jadi kita langsung keluar," balas Embun. Melihat padatnya kendaraan yang mengantri di sekitar lobi.


Dari pada menghabiskan waktu mengantri, lebih baik ia berjalan sedikit ke depan, agar dapat langsung meninggalkan parkiran restoran.


"Ya udah. Kamu tunggu di sana." Aby menunjuk ke sisi sebuah jalan.


Setelahnya, pria itu langsung beranjak menuju parkiran untuk mengambil mobil, sementara Embun berjalan keluar.


Saat hendak menyeberang jalan, sebuah mobil melaju dengan kecepatan penuh. Aby yang melihat segera berlari ke arah istrinya, saat menyadari adanya sinyal bahaya.


"Embun awas!" teriak Aby.


Gerakannya yang sangat cepat membuat Embun tak memiliki waktu bahkan untuk sekedar menoleh. Tiba-tiba saja tubuhnya mendapat dorongan kuat hingga terjerembab ke sisi jalan. Rasa perih pun menjalar di permukaan kulitnya saat bergesekan dengan aspal.


Namun, pemandangan yang tersaji di depan mata membuat nya terpaku.


Tubuh Aby terseret sepanjang beberapa meter kala sebuah sedan hitam menghantam tubuhnya, hingga tergeletak di sisi jalan dengan bersimbah darah.


Sementara Embun membeku. Kedua bola matanya mendadak basah oleh air mata.


"Mas Aby!"

__ADS_1


...****...


__ADS_2