
Sebelum lanjut, jangan lupa mampir Gaes ☺️☺️☺️
JUDUL : NAIK RANJANG
AUTHOR : NUNUK PUJIATI
*
*
*
Selepas makan malam, bersenda gurau di ruang televisi adalah sesuatu yang kerap dilakukan pasangan muda itu. Merebahkan kepala di pangkuan suaminya, Embun tengah terfokus dengan ponsel. Sementara Aby sedang mengganti-ganti chanel TV demi menemukan tayangan menarik untuk ditonton.
"Mau minum teh?" tawar Embun setelah beberapa menit kemudian.
"Nggak," jawab Aby singkat seraya mengelus puncak kepala istrinya dengan sebelah tangan. "Minum susu enak kali, ya?" Ia menyeringai penuh makna, membuat Embun melebarkan kelopak mata.
"Kamu makin hari kok makin me$um sih?"
"Me$um kenapa? Orang cuma minta susu." Tawa kecil terdengar dari bibirnya. "Aku lagi mau minum susu vanila, tambah madu sedikit biar enak."
"Oh ...." Perlahan Embun bangkit dari posisi ternyamannya. "Tunggu, aku buatkan dulu."
Baru saja Embun akan menuju dapur, sudah terdengar suara bel berbunyi. Ia menatap suaminya seperti saling melempar tanya, tentang siapa yang bertamu di malam seperti ini.
__ADS_1
"Kamu habis pesan sesuatu?" tanya Aby, menduga yang datang adalah kurir atau driver ojek online.
"Nggak."
"Terus siapa yang datang malam-malam begini?" Aby melirik arah jarum jam yang melingkar di pergelangan tangan. Waktu sudah menunjuk ke angka 20:30, bukankah sudah bukan waktu ideal untuk bertamu? "Biar aku yang buka."
"Tunggu, Mas!" panggil Embun cepat. "Biar aku yang lihat. Jangan-jangan itu Siska."
"Oh ... ya sudah. Kalau dia yang datang, jangan biarin masuk. Langsung suruh pulang aja."
"Iya."
Embun melangkah menuju pintu depan. Sebelum membuka pintu, ia menengok terlebih dahulu melalui jendela. Tampak seorang wanita dewasa berdiri di depan pintu sambil sesekali menekan bel.
"Itu siapa? Perasaan belum pernah lihat."
"Dasar perempuan murahan! Perusak rumah tangga orang!" Wanita cantik itu mencaci penuh murka.
Plak!
Tanpa kata satu tangannya melesat cepat, menghadiahkan sebuah tamparan di pipi kanan Embun. Gerakannya yang sangat cepat membuat Embun tak memiliki waktu untuk menghindar atau sekedar memikirkan sesuatu. Yang ia lakukan hanya memegangi pipi, dengan wajah yang tampak sangat syok.
"Beraninya kamu merayu suamiku!" teriakan membahana itu terdengar lagi, disusul dengan kedua tangannya yang langsung menyerang. Mencakar wajah dan menjambak rambut Embun tanpa peduli apapun.
Embun masih dalam keadaan sangat syok ketika merasakan tubuhnya ditarik kuat oleh Aby. Suaminya itu memeluk dengan erat, melindungi dari serangan membabi buta wanita tak dikenal itu.
"Apa-apaan ini? Kamu siapa main serang sembarangan?" bentak Aby, sesaat setelah mendorong wanita tadi dengan cukup kasar hingga terhuyung ke belakang. Ia pasti sudah terjerembab ke teras jika punggungnya tidak bersandar di pilar.
__ADS_1
Sedangkan Embun masih gemetar dalam pelukan suaminya. Ia bahkan belum mampu mengembalikan akal sehatnya karena terkejut.
"Kamu yang siapa?" balas wanita itu semakin kalap ingin menyerang Embun. Namun, sebelum menjangkau, Aby sudah kembali mendorongnya. Tetapi, sepertinya wanita itu masih belum puas juga. "Dasar perempuan tidak tahu malu. Jadi begini kelakuan kamu, ya. Setelah puas dengan suamiku, kamu main dengan laki-laki ini."
Aby melebarkan mata mendengar makian itu. Rahangnya sudah mengeras sekarang. "Maksud kamu apa menuduh istri saya sembarangan? Saya bisa laporkan kamu atas tindakan penganiayaan!"
"Istri?" Wanita itu tersenyum miring. "Jadi perempuan penggoda ini sudah punya suami? Terus kenapa masih merayu suami orang?"
Mendengar makian penuh amarah dari wanita itu, Embun mendongak menatap suaminya dengan menggelengkan kepala, seolah ingin menjelaskan kepada suaminya bahwa tuduhan itu tidak benar adanya. Aby hanya merespon dengan pelukan yang semakin erat.
"Iya, Sayang. Aku percaya sama kamu."
Kejadian yang berlangsung sangat cepat itu menyita perhatian beberapa tetangga yang berbondong-bondong langsung mendekat. Dalam hitungan beberapa menit saja, rumah itu sudah ramai oleh para tetangga.
"Ada apa ini? Tolong kalau ada masalah bicarakan baik-baik, jangan buat keributan di sini," tegur salah satu tetangga.
Aby menatap para tetangga yang sudah memenuhi halaman rumahnya.
"Maaf, Pak, kami tidak kenal perempuan ini. Dia tiba-tiba datang dan menyerang istri saya," balas Aby, yang masih menyembunyikan Embun dalam dekapannya.
"Tidak usah melakukan pembelaan kamu! Istri kamu sudah merayu suami saya! Dan rumah yang kalian tempati ini pun suami saya yang membelikan! Saya ada kok bukti pembeliannya!"
Aby mendengkus marah. Jika saja makhluk di hadapannya itu seorang pria, ia pasti sudah menghadiahkan bogem mentah ke wajahnya.
Suasana masih terlihat kacau ketika sebuah mobil memasuki halaman rumah sebelah, disusul dengan kemunculan Siska bersama seorang pria dewasa—yang membuat wanita tadi membulatkan kedua matanya.
*****
__ADS_1