Pengkhianatan Di Malam Pertama

Pengkhianatan Di Malam Pertama
Bab 45 : MEMBUTUHKAN KAMU


__ADS_3

Tiga hari berlalu ....


Aby tak kunjung tersadar. Sejak dirawat di rumah sakit, Embun tidak pernah meninggalkannya lebih dari dua jam. Terkadang, ia hanya pulang untuk mandi dan berganti pakaian. Lalu, kembali ke rumah sakit setelahnya.


Embun masih duduk dalam posisi telungkup ketika sayup-sayup mendengar suara lenguhan lemah. Perlahan, setengah kesadarannya merasakan sentuhan di pucuk kepala dan membelai rambutnya dengan lembut.


Mengira ini hanya sebuah halusinasi, Embun tidak lantas membuka mata. Ia memilih diam dan membiarkan dirinya larut dalam mimpi.


"Embun ..."


Panggilan lemah itu membuat Embun spontan membuka mata. Masih dengan sisa-sisa kantuk, ia menatap suaminya.


“Embun—” Suara Aby terdengar nyaris tak bertenaga. Mata sayunya terpejam dengan kerutan dalam di kening, diiringi lenguhan yang lemah dari bibirnya. “Sakit,” lirihnya.


 Tangannya bahkan tak kuasa bergerak untuk menyentuh kepala yang terasa berdenyut. Hanya jemarinya yang terlihat bergerak lemah. 


Sedangkan Embun mematung dengan air mata yang mengalir tiada henti. Terkejut, sedih, bahagia dan haru. Embun tidak tahu.


“Kamu sudah bangun, Mas?” Tangan Embun gemetar, begitu juga dengan suaranya.


Ingin menyentuh tubuh suaminya, namun takut Aby akan kesakitan. Jika tidak memikirkan itu, Embun mungkin sudah menabrakkan tubuhnya ke dada suaminya dan memeluk seerat-eratnya. Bersyukur karena suaminya terbangun setelah 3 hari kritis.


"Apa kamu butuh sesuatu, Mas?" tanya Embun panik. "Tu-tunggu, aku akan panggil dokter.” 


Aby hanya merespon dengan mengerjapkan matanya. Membuat Embun mengusap air mata yang mengalir di pipinya, lalu secepat kilat menekan tombol pemanggil yang ada di sisi kanan pembaringan.


....


Embun berdiri di sudut ruangan dengan jemari saling meremas. Ia belum memiliki keberanian untuk mendekat. Yang ia lakukan menatap suaminya yang sedang ditangani oleh tim dokter.


Bunda, Ayah dan Galang juga berada di ruangan yang itu. Mereka langsung menuju rumah sakit ketika mendapat telepon dari Embun, yang mengabarkan bahwa Aby telah siuman. 


Sesekali Aby terdengar mengeluhkan sakit. Dan setiap kali suaminya mendesis, Embun merasa tak tega dan seolah turut merasakan kesakitan suaminya. Terlebih, Aby terlihat kesulitan bergerak.


"Bunda, Mas Aby nggak apa-apa, kan?" lirih Embun dengan sorot mata memelas.


Bunda mengusap mengusap punggung menantunya itu. Meskipun merasakan kekhawatiran yang sama, namun bunda tetap berusaha menguatkannya.


"Aby pasti baik-baik saja, Nak. Kamu tenang, ya. Dokter pasti memberi yang terbaik."


Ucapan bunda memberi sedikit rasa lega di hati Embun. Sementara Aby melirik istrinya yang berdiri tak begitu jauh darinya. Ia meneliti tubuh itu. Wajah pucat dan mata sembab itu membuat Aby meyakini sang istri habis menangis dalam waktu yang lama. Belum lagi pipinya yang tampak lebih tirus.

__ADS_1


Kelopak mata Aby terpejam. Ia mendesis kala seorang dokter menekan salah satu bagian tubuhnya.


"Embun ...." Aby menjuntaikan tangan seolah meminta istrinya mendekat, sehingga Embun perlahan melangkah maju dan menyambut uluran tangan lelaki itu. Ada senyum tipis yang tampak di sudut bibir Aby. Meskipun kedua alisnya saling bertaut menyiratkan rasa sakit. 


"Kamu butuh sesuatu, Mas?" tanya Embun. Menggenggam jemari suaminya.


"Aku mau kamu tetap di sini," lirih Aby menatap Embun lekat-lekat.


“Aku nggak akan kemana-mana. Aku akan tetap di sini.”


Aby kembali memulas senyum. Ia dapat merasakan genggaman Embun yang erat di tangannya.


Lenguhan Aby yang kembali terdengar membuat Embun merasakan tubuhnya meremang. Hatinya tercubit melihat kondisi suaminya.


"Dokter, suami saya kesakitan. Tolong jangan ditekan bagian itu."


Sang dokter hanya memulas senyum tipis. "Pasien tidak apa-apa. Masa kritisnya juga sudah lewat. Insyaa Allah semuanya akan baik-baik saja," ucap sang dokter berusaha menenangkan, setelah menyadari betapa tegang wajah istri pasiennya itu.


Sementara Aby memulas senyum tipis, mendengar panggilan 'suami' yang baru saja disematkan Embun. Apakah Embun sudah memaafkannya? Aby sangat berharap demikian.


"Embun, kamu tenang ya, Nak," bujuk bunda.


Embun hanya menyahut dengan anggukan kepala. Lalu, mengusap ujung matanya yang basah.


.


.


.


Setelah diperiksa oleh dokter, Aby kembali tertidur selama beberapa jam. Embun masih setia menunggu di sisinya.


“Embun ... kamu tidur dulu ya, Nak. Kamu pasti capek beberapa hari ini terus menjaga Aby. Kamu juga butuh istirahat." Bunda menyarankan. Sebab Embun terlihat pucat dan lelah.


"Aku nggak apa-apa, Bunda."


"Tapi nanti kamu bisa sakit. Ayo istirahat dulu, biar bunda yang jaga Aby."


Embun kembali menggelengkan kepalanya. Menolak untuk beristirahat, ia ingin menjadi yang pertama dilihat Aby saat membuka mata nanti.


"Aku istirahatnya nanti aja, Bunda. Aku masih mau temani Mas Aby di sini. Aku nggak apa-apa, kok."

__ADS_1


Bunda hanya dapat menggelengkan kepala. Benar kata besannya kemarin. Embun adalah anak yang cukup keras kepala. Akan sulit memintanya melakukan sesuatu jika ia tak ingin.


"Ya sudah, tapi kalau kamu merasa capek, harus langsung tidur. Bunda tidak mau kamu ikut sakit."


Embun mengangguk pelan. "Iya, Bunda."


Setelahnya, bunda keluar dari ruangan itu. Bunda, ayah dan Galang rencananya akan ke kantor polisi hari ini.


Embun menatap wajah pucat suaminya. Tangannya bergerak mengusap puncak kepala. Tanpa sadar ia mendekatkan wajah. Lalu membenamkan bibir di kening suaminya dengan sangat hati-hati.


Cukup lama.


Dalam


Dan ... hangat.


Hingga akhirnya, Embun menjauhkan wajah dan kembali mengusap puncak kepala suaminya.


"Boleh minta lagi, nggak?"


Dengan gerakan yang masih cukup lemah, tangan Aby terulur menyentuh bibir istrinya. Sentuhan yang membuat pipi Embun memerah.


Sejak kapan Aby bangun? Ia benar-benar malu dibuatnya.


"Kamu sudah bangun?" tanya Embun dengan wajah memerah. "Apa kamu merasa lebih baik?"


Aby mengerjakan matanya sebagai jawaban. "Aku merasa jauh lebih baik."


Embun pun menatap wajah suaminya dalam. Tiba-tiba rasa bersalah kembali merasuk.


"Maafin aku, Mas. Kamu jadi seperti ini karena melindungi aku." Raut wajah Embun tiba-tiba berubah sedih.


"Kenapa minta maaf?" Suara Aby terdengar masih lemah. Meskipun jauh lebih baik dibanding tadi pagi.


"Kamu tertabrak karena aku kurang hati-hati." Ingatan Embun tentang kejadian mengerikan beberapa hari lalu kembali terbayang.


 "Bukan salah kamu. Lebih baik aku yang ada di sini dari pada kamu. Lagi pula, aku sudah tidak apa-apa. Semuanya akan membaik."


Embun tak menyahut. Luapan rasa bahagia itu hanya dapat ia tumpahkan dengan memeluk suaminya. Membuat Aby bertanya-tanya dalam hati. Apa yang membuat istrinya yang datar dan dingin itu tiba-tiba berubah.


Selain menjadi sangat lembut, Embun juga menjadi sedikit manja dan cengeng.

__ADS_1


****


__ADS_2