
Baik Embun maupun Aby belum dapat mempercayai informasi yang mereka dapat sejak semalam. Tentang Vania yang diduga menjadi pelaku penabrakan Aby, dengan Embun sebagai target sebenarnya.
Tidak pernah terbayangkan oleh Aby sebelumnya, bahwa mantan kekasihnya itu dapat hilang kendali dan melakukan kejahatan seperti ini. Sebab setahunya, Vania adalah gadis yang baik, terlepas dari sikap posesif dan manja yang berlebihan.
Pagi ini Embun sedang menyuapi suaminya dengan bubur. Rencananya setelah menyuapi Aby makan, ia akan ke kampus karena ada kuliah pagi. Tetapi, Aby terlihat sangat gelisah.
"Kamu kenapa, Mas?" tanya Embun, setelah menyadari kegelisahan suaminya.
"Kamu yakin mau ke kampus?" Aby menatap lekat wajah istrinya. Seakan tak rela jika Embun meninggalkannya walau satu menit saja.
"Iya. Aku ada mata kuliah, Mas. Nggak lama, kok. Kalau selesai, aku pasti langsung ke sini lagi." Embun mencoba meyakinkan suaminya, sambil terus menyuapi makan.
Sementara Aby semakin tidak tenang. Ada perasaan tidak enak yang menyergap ketika pagi tadi Embun berkata akan pergi ke kampus. Kecelakaan beberapa hari lalu masih terbayang di benaknya. Terlebih setelah fakta mengejutkan yang diberitahukan kepada mereka.
"Nggak bisa ditunda, ya? Perasaanku nggak enak."
Embun menundukkan kepala. Memikirkan bagaimana cara meyakinkan suaminya bahwa ia akan baik-baik saja dan bisa menjaga diri.
"Aku nggak apa-apa, Mas. Aku akan jaga diri."
Tetapi, bukannya menjadi tenang, Aby malah semakin gusar. Tidak mungkin ia membiarkan Embun pergi seorang diri tanpa dijaga.
"Ya sudah, kamu boleh pergi. Tapi aku akan minta Mang Ujang yang antar kamu dan tungguin kamu sampai pulang," ujarnya kemudian.
Embun menatap suaminya seakan tak percaya. Sikap posesif Aby ini terasa sedikit berlebihan baginya.
"Tapi, Mas ...." Belum selesai Embun berbicara, sudah dipotong lebih dulu oleh Aby.
"Nggak ada tapi-tapian!"
Aby langsung meraih ponsel miliknya dan segera menghubungi sopir. Kurang dari dua puluh menit, Mang Ujang sudah tiba di rumah sakit. Setidaknya, Aby sedikit merasa tenang jika Embun di antar sopir pribadi, dari pada harus naik taksi online.
"Mang Ujang sudah ada di bawah."
Embun yang sedang merapikan meja nakas tersenyum menatap suaminya. Ia mendekat dan duduk di tepi ranjang pasien.
"Aku pergi dulu ya, Mas," ucap Embun, sambil mengulurkan tangan dan mencium punggung tangan suaminya.
Membuat Aby menggenggam tangannya. Lalu, membenamkan ciuman di kening.
__ADS_1
"Kamu hati-hati, ya. Ingat kalau menyeberang jalan lihat kanan-kiri, jangan langsung main serobot."
Embun hanya tersenyum mendengar ocehan panjang panjang suaminya.
***
Mobil memasuki gerbang kampus setelah sebelumnya Embun pulang ke rumah untuk mandi dan berganti pakaian. Ia menyematkan tali tas di bahu dan hendak membuka pintu mobil.
"Mang Ujang pulang aja, ya. Nanti saya akan pulang naik taksi online, soalnya nggak tahu pulang jam berapa," ucap Embun sesaat setelah mobil terhenti.
"Tapi, Neng, Den Aby titip pesan kalau saya tidak boleh pulang sebelum Neng Embun selesai. Saya disuruh Den Aby tunggu Neng Embun," tandas Mang Ujang, mengingat pesan majikannya tadi.
"Tapi nanti saya lama, Mang." Embun masih berusaha meyakinkan pria berusia 40 tahunan itu. Namun, sepertinya sulit, karena Mang Ujang kembali mengangguk.
"Nggak apa-apa. Saya akan tetap tunggu Neng Embun. Kalau nggak, saya nanti dimarahin Den Aby, Non."
"Tapi kalau ayah mau ke mana-mana bagaimana, Mang?" tanyanya, mengingat sang mertua yang juga memiliki kesibukan sendiri.
"Kam di rumah masih ada satu sopir lagi," jelasnya. "Udah, nggak apa-apa, Neng. Masuk aja. Saya nggak apa-apa menunggu lama."
Embun hanya dapat menggelengkan kepala menghadapi ulah suaminya yang posesif itu. Bahkan Aby telah memberi Mang Ujang sebuah ancaman jika berani meninggalkan Embun di kampus.
"Ya udah, Mang. Saya ke dalam dulu ya. Maaf merepotkan."
Embun hanya terkekeh, sebelum akhirnya turun dari mobil. Berjalan dengan cepat memasuki gedung kampus. Sementara Mang ujang meraih ponselnya. Ia diminta Aby untuk memberitahu jika sudah tiba di kampus.
.
.
.
"Embun!"
Suara panggilan yang berasal dari belakang menghentikan langkah kaki Embun. Ia menoleh sejenak. Tampak Mega sedang berlari-lari kecil ke arahnya dengan muka sedikit panik.
Wanita itu lantas mengatur napas yang memburu karena mengejar Embun. "Bagaimana keadaan Kak Aby sekarang? Aku dengar dari teman-teman, Kak Aby sempat kritis."
"Sudah lebih baik. Masa kritisnya sudah lewat," jawab Embun seadanya.
__ADS_1
Wanita itu tampak menghela napas lega sambil mengusap dada. "Syukur lah. Aku ikut senang mendengarnya."
Embun mengangguk dengan menerbitkan senyum tipis. "Terima kasih, Mega."
Mereka berjalan bersama memasuki gedung kampus. Sepanjang jalan menuju kelas sesekali mengobrol. Fakta tentang keterlibatan Vania dalam kecelakaan Aby memang mengejutkan. Sebab empat hari lalu, tepatnya setelah Aby kecelakaan, Vania sempat datang ke rumah sakit untuk meminta maaf dan meluruskan salah paham antara Aby dan Embun.
"Aku dengar soal keterlibatan Vania dalam kecelakaan Kak Aby. Aku tidak menyangka Vania bisa sejahat itu terhadap kamu."
Embun mengangguk pelan. "Aku juga nggak yakin. Sekarang Vania masih ditetapkan sebagai saksi dan masih terus menjalani pemeriksaan. Tapi aku nggak tahu bagaimana perkembangan sekarang karena mertua dan kakak iparku yang urus."
"Oh ...." Wanita itu mengangguk mengerti. "Semoga cepat selesai masalahnya. Kamu harus lebih hati-hati. Apa lagi, Vania belum ditahan dan masih berkeliaran bebas."
Embun hanya merespon dengan anggukan.
***
Seharian ini Aby sangat gelisah di rumah sakit. Sudah berapa kali ia menghubungi Mang Ujang untuk menanyakan istrinya. Karena ponsel milik Embun ternyata tidak aktif. Hal yang membuat Aby semakin gelisah dan takut terjadi hal buruk terhadap istrinya.
Ia melirik arah jarum jam yang melekat di dinding.
"Kamu kenapa sih, dari tadi gelisah terus?" tanya bunda.
"Embun, Bunda. Aku sebenarnya tadi melarang dia ke kampus. Takutnya terjadi sesuatu. Apa lagi Vania masih ditetapkan sebagai saksi dan belum di tahan."
Bunda mendekati Aby dan mengusap bahu putranya itu. "Kamu tenang aja. Embun pasti baik-baik saja."
Ucapan bunda tak lantas membuat Aby tenang. Sebelum Embun kembali, ia tidak akan bisa bernapas lega.
"Memang Mang Ujang bilang apa?" tanya Bunda sekali lagi.
"Cuma bilang Embun belum ke luar."
"Ya udah, kamu tenang aja. Coba tiduran dulu. Dari tadi kamu belum istirahat loh, By."
"Gimana mau istirahat kalau istri aku belum balik,Bunda."
Ia meraih ponselnya lagi. Mencoba menghubungi Embun, tapi tidak terhubung. Akhirnya, ia mengirim pesan bertubi-tubi ke nomor istrinya itu.
"Bagaimana kalau Embun ketemu Vania di kampus? Vania kan maunya Embun yang celaka, bukan aku."
__ADS_1
Pikiran itu terus memenuhi benak Aby.
***