
Aby kembali ke kamar setelah menjalankan ritual mandi di kamar sebelah. Ketika memasuki kamar, hal pertama yang hadir dalam pandangannya adalah wajah cantik sang istri. Wanita itu tengah duduk di depan meja rias sambil memoles wajahnya dengan riasan tipis.
Hal sederhana itu saja sudah mampu membuat Aby melambung jauh. Tak pernah terbayangkan sebelumnya, bahwa wanita yang sempat ia tolak itu akan merebut seluruh hatinya tanpa sisa.
Wajahnya yang teduh seperti tanpa beban, senyumnya yang indah, bulu mata lentik dan bibir s3nsual itu menyatu sempurna dalam tubuh mungilnya. Aby yakin malam ini tidak akan bisa tidur sampai pagi. Ia harus bersiap untuk menguras habis tenaganya.
Ketika Embun menoleh dan tersenyum, detak jantung laki-laki itu semakin tidak karuan. Apa lagi saat melihat belahan d@da yang tersembunyi di balik ling3rie tipis nan menerawang. Pakaian dinas ala negeri novel itu berhasil membuat Aby menelan saliva.
Apa lagi warna merah maroon yang membuat kulit istrinya tampak lebih putih dan mulus. Ah, Aby tidak bisa lagi menahan gejolak dalam dirinya.
Segera saja ia mendekati sang istri. Embun langsung menunduk malu saat indera penglihatannya menangkap Titanoboa milik suaminya menyembul di balik handuk putih. Pikiran nakalnya langsung menerawang ukuran dan bentuk.
Hentikan! Embun sampai malu dengan pikirannya sendiri.
"Kamu ... masih lama?" Pertanyaan bernada permintaan itu membuat Embun menoleh dengan malu-malu. Rona merah di pipinya semakin terlihat jelas.
"Sedikit lagi, Mas," jawab Embun gugup, lalu menyisir rambutnya yang hitam, panjang, dan berkilau. Membuat Aby tidak tahan untuk segera membelai rambutnya yang terasa begitu wangi.
"Udah, yuk!" ajaknya seolah tak tahan lagi. "Kamu sudah terlihat sempurna malam ini."
Tanpa aba-aba, Aby sudah membopong tubuh istrinya ke tempat tidur. Embun langsung meraih bantal demi menutupi bagian p@ha dan d@da. Namun, Aby merebut dan meletakkan di bawah.
Mereka duduk saling berhadapan. Aby menggenggam tangan istrinya.
"Sayang, apa kamu tidak keberatan kalau malam ini aku menjadikanmu istriku yang sesungguhnya?" bisik Aby ke telinga Embun. Kemudian dilanjutkan dengan mencium kening, kelopak mata kanan dan kiri secara bergantian, lalu turun ke pipi dan berakhir di bibir.
Awalnya hanya cium@n singkat, lembut tapi manis. Namun, lama kelamaan semakin dalam dan sedikit panas dan tak terkendali.
Wanita itu sudah kehilangan kata-kata. Perlakuan lembut Aby benar-benar membawanya terbang ke kahyangan. Bahkan ia diam saja ketika jemari suaminya mulai menjelajahi tubuh mulusnya, bahkan ke bagian paling tersembunyi.
Embun hanya dapat memejamkan mata, menahan sensasi geli dari setiap sentuhan itu. Ini adalah pertama kali ia membiarkan seorang lelaki menyentuh tubuhnya.
__ADS_1
Sementara Aby semakin bergelor@. Lihatlah, hanya dalam hitungan menit, lelaki itu benar-benar berhasil menanggalkan pakaian istrinya. Kini keduanya hanya terbalut selimut tebal, dan Aby sudah merubah posisi memerangkap tubuh istrinya.
Suasana semakin terasa hangat dan romantis, ditemani udara sejuk yang berasal dari pendingin ruangan, belum lagi di luar sedang hujan lebat disertai petir. Dan ini adalah pertama kali Embun tidak takut dengan hujan lebat dan petir.
"Tahan ya, kamu boleh gigit bahu aku kalau sakit banget."
Setelah mengucapkan itu, Aby mengarahkan miliknya ke tempat yang seharusnya. Embun harus beberapa kali menjerit kesakitan saat benda tak bertulang itu berusaha menerobos. Bahu dan punggung Aby pun harus menjadi sasaran atas rasa sakit yang ia terima.
Hingga percobaan ketiga, masih gagal juga.
"Aaa!"
Embun menjerit ketakutan kala lampu kamar tiba-tiba padam. Menciptakan suasana gelap gulita. Ia yang memiliki phobia terhadap kegelapan mulai gemetar dan membenamkan wajahnya di ceruk leher sang suami.
"Kenapa listrik harus padam sih? Nggak tahu apa megalodon masih berjuang," gerutu nya dalam hati.
Namun, yang menjadi perhatian Aby sekarang adalah sang istri yang sudah gemetar di bawah tubuhnya. Sejak malam itu, ia tahu seberapa takut istrinya itu terhadap kegelapan. Sepertinya Aby harus berjuang untuk menghilangkan trauma istrinya itu.
Alih-alih menjadi tenang, Embun malah mengeratkan cengkeramannya di lengan sang suami. "Aku takut, Mas. Tolong nyalain lampunya."
"Gimana caranya, Sayang? Kan listrik lagi padam. Mungkin karena hujan dan petir."
"Pakai hape kamu aja," lirihnya memelas.
"Hapenya ketinggalan di mobil tadi."
Embun masih gemetar. Ia menarik lengan sang suami hingga benar-benar menindih tubuh kecilnya. Aby pun mencoba menenangkan dengan membelai rambutnya.
"Sayang, nggak apa-apa, jangan takut! Gelap itu nggak semenyeramkan yang kamu pikirkan. Justru gelap itu enak."
"Enak apanya? Takut, Mas. Nggak bisa lihat apa-apa."
__ADS_1
Aby terkekeh. "Ya nggak usah lihat apa-apa. Si Ntong juga jelek, kok."
"Bukan itu maksud aku." Embun memukul dada suaminya. Ia sama sekali belum berani membuka mata.
Aby hampir menyemburkan tawa dengan tingkah istrinya yang menggemaskan itu. Menggodanya malam ini sangat menyenangkan.
"Mau bukti kalau gelap itu enak?" tawarnya.
Dalam kegelapan, Embun menganggukkan kepala. Masih menyembunyikan wajah di dada suaminya.
Aby pun mencoba membuktikan perkataannya. Ia menangkup pipi sang istri, lalu menciumi nya berulang-ulang. Mulai dari pipi, kening dan bibir. Lalu menggoda wanita itu dengan menyentuh nya di mana-mana. Hingga ******* s3xy nan menggoda lolos juga dari bibirnya. Menandai Embun mulai melupakan rasa takut akan kegelapan.
Ketika meyakini istrinya sudah terbuai, Aby kembali mengarahkan miliknya ke tempat yang seharusnya. Menekan dengan kuat dan sedikit memaksa.
Dan, berhasil ....
Satu jeritan lolos bersamaan dengan dua tubuh yang menyatu sempurna. Keduanya terdiam beberapa saat, Aby menunggu hingga istrinya siap untuk menerima. Barulah Aby bergerak memberikan kenikmatan bagi mereka berdua. Menikmati des@h napas yang terdengar begitu s3xy dari bibir istrinya.
Embun masih terpejam dengan pipi memerah saat lampu kamar menyala. Membuat Aby tersenyum memandanginya. Karena sepertinya, sejak tadi wanita itu memilih tidak membuka mata karena takut gelap.
Aby mengatupkan bibir menahan tawa. Melihat betapa menggoda tubuh sang istri membuatnya tak tahan. Ia bergerak lebih cepat membuat Embun semakin menjerit. Hingga sampai pada titik di mana segalanya terasa melayang. Aby mencium kening, lalu menancapkan miliknya lebih dalam, bersamaan dengan sesuatu yang mengalir di bawah sana.
Untuk beberapa saat, keduanya diam dan saling memeluk. Tanpa disadari oleh Embun bahwa sang suami sedang tersenyum menatapnya.
"Buka matanya, Sayang. Lampu nya sudah menyala sejak tadi," bisik Aby, lalu mencium bibir singkat.
"Hah?" Embun refleks membuka mata.
Pipinya semakin memerah saat menatap sang suami yang masih memerangkap tubuhnya.
...******...
__ADS_1