
“Apa kabar, Embun, Aby.”
Sapaan ramah itu menyadarkan Aby dari keterkejutan. Ia mengulurkan tangan untuk menjabat sang bos yang baru tampil di depan umum itu. Apa yang Aby temukan hari ini benar-benar kejutan tak terduga. Bagaimana mungkin selama ini dirinya tak tahu bahwa Dokter Allan adalah pemilik tempatnya bekerja.
“Jadi Om pemilik May-Day?” Tanpa sadar pertanyaan itu terlontar dari bibir Embun.
Dokter Allan hanya mengulas senyum ramah. Sikapnya sama sekali tak berubah, baik dalam suasana formal seperti sekarang atau pun pada saat sedang di rumah.
“Maaf, Om. Eh, Pak. Saya baru tahu hari ini siapa pemilik May-Day,” ucap Aby sungkan. Membuat Dokter Allan terkekeh.
“Tidak usah sungkan begini. Panggil Om seperti biasa saja. Iya kan, Embun?”
“Iya, Om.” Embun menundukkan kepala. Entah mengapa ia tiba-tiba saja menjadi canggung. Padahal sebelumnya mereka sudah sangat dekat. Bahkan Dokter Allan dan Bunda Giany sudah dianggap Embun layaknya orang tua sendiri, begitu pun sebaliknya.
Dokter Allan menepuk bahu Aby. “Pak Desta sering bilang ke saya, bahwa kinerja kamu sangat bagus dan layak untuk mendapatkan promosi naik jabatan. Dan saya setuju dengan pendapat Pak Desta.”
“Terima kasih, Om,” jawab Aby.
“Kalau begitu kalian nikmati pestanya, ya. Saya masih ada yang harus dibicarakan dengan Pak Desta,” ucapnya sangat ramah. “Oh ya, Embun. Jelang kelahiran banyak olahraga ringan, ya,” tambahnya.
“Iya, Om. Terima kasih.”
Acara malam itu pun berlanjut dengan meriah. Dokter Allan muncul dan mengejutkan banyak orang. Ia juga mengenalkan Dewa yang merupakan anak bungsunya.
Semua orang pun dibuat lebih terkejut lagi, sebab di perusahaan hanya beberapa orang yang mengetahui status Dewa yang merupakan anak pemilik perusahaan.
Dewa bekerja di perusahaan tersebut tanpa menggunakan nama besar sang ayah. Bahkan ia harus bersaing secara sehat dengan beberapa orang untuk mendapatkan jabatan sekarang.
*
__ADS_1
*
*
"Hai, Embun." Sapaan ceria itu berhasil mengalihkan perhatian Embun. Ia menoleh ke sumber suara. Vania tampak berjalan ke arahnya dengan menggandeng lengan Dewa.
"Vania." Embun tersenyum senang, lalu menyambut Vania dengan pelukan. Akhirnya ia bertemu dengan seseorang yang dikenalnya. Sebab sejak tadi merasa tak nyaman dengan beberapa staf lain yang kadang mengarahkan pandangan kepadanya.
Aby dan Dewa memilih mengobrol berdua. Begitu pun dengan Vania dan Embun. Keduanya memilih menuju sudut meja lain, di mana terdapat aneka buah dan minuman.
"Kamu baru datang, ya?" tanya Embun, sambil menuang saos ke atas potongan buah.
"Udah dari tadi. Tapi aku temenin Kak Maysha sama Bunda Giany di belakang."
Embun melirik ke arah sudut yang ditunjuk Vania. Di sana tampak Bunda Giany dan sedang duduk bersama putri sulungnya.
"Kamu sebentar lagi lahiran, ya?"
"Selamat, ya. Semoga persalinannya lancar."
Embun turut mengamini ucapan Vania.
"Kamu sama Kak Dewa gimana? Aku melihat ada perkembangan."
Vania tersenyum malu-malu.
"Kak Dewa masih kaku. Kadang nyebelin," ucap Vania, membuat Embun tertawa kecil.
Emvun turut berbahagia melihat Vania yang semakin hari semakin menunjukkan kemajuan. Vania yang dulu gemar menyendiri dan pemarah, kini menjelma menjadi gadis periang.
__ADS_1
*
*
*
Setibanya di rumah ....
“Sayang, boleh aku tanya sesuatu?” tanya Aby, menatap Embun yang sedang duduk di meja rias sambil membersihkan sisa makeup yang menempel di wajahnya.
“Mau tanya apa, Mas?”
“Kamu kan lama bertetangga dengan Om Dokter, memangnya kamu nggak tahu kalau Om Dokter pemilik May-Day?”
“Aku nggak tahu. Makanya tadi tanya sama kamu.”
Aby masih menatap istrinya sedikit heran. “Bagaimana bisa kamu nggak tahu, padahal kamu tetanggaan sama mereka sejak kecil. Sama anak-anak Om Dokter kamu juga dekat.”
“Dekat bukan berarti harus tahu semuanya kan, Mas. Lagi pula kamu juga dekat sama Kak Dewa tapi nggak tahu kalau Kak Dewa anak pemilik perusahaan tempat kamu kerja.”
“Iya juga, sih.”
Aby menyandarkan punggungnya di tempat tidur. Kemudian menatap sang istri yang tengah sibuk menyisir rambut. Sejak mengetahui kenyataan bahwa Dokter Allan adalah pemilik perusahaan tempatnya bekerja, rasa tak percaya diri perlahan merasuk ke hati.
Entah mengapa tiba-tiba Aby membandingkan dirinya dengan Dewa. Memikirkan seandainya saat itu Embun tidak menikah dengannya, mungkin sekarang ia sudah menikah dengan Dewa dan menjalani kehidupan yang lebih bahagia di banding dengannya. Terlebih, Aby sempat mengkhianati Embun di hari pertama mereka.
Sedikit banyak Aby tahu bahwa Dewa pernah menyimpan rasa untuk Embun. Bahkan Dewa pernah terang-terangan mengibarkan bendera perang jika Aby terus menyakiti istrinya.
Meskipun Embun pernah berkata bahwa dirinya sama sekali tak pernah memiliki perasaan lebih terhadap Dewa, tetap saja rasa aneh itu muncul.
__ADS_1
“Aku jadi merasa sangat bersalah sama Embun karena sudah menjadi jurang pemisah antara dia sama Dewa.”
****