
Perlahan sang mentari mulai terbit di ujung Timur, melingkupi Bumi dengan sinar hangatnya.
Pagi ini Aby terbangun lebih awal. Seperti hari-hari sebelumnya jika memiliki waktu, ia akan berolahraga ringan dengan berlari di sekitar kompleks perumahan.
Sambil menyeka keringat yang mengucur di kening, Aby berjalan menuju sebuah kursi kayu di pinggir taman. Namun, langkah kakinya mendadak terhenti. Ia membuang pandangan demi menyamarkan ekspresi kesal.
Siska, sang tetangga baru itu ada di sana dengan menggunakan legging dan kaus ketat. Rambutnya diikat tinggi, sehingga memamerkan bentuk lehernya yang indah.
"Selamat pagi, Mas ... lagi olahraga pagi juga, ya?" tanyanya ramah.
Aby sedikit terkejut mendengar panggilan 'Mas' yang disematkan wanita itu.
"Iya," jawab Aby datar.
Wanita cantik itu menoleh ke kanan dan kiri seperti sedang mencari sesuatu. Namun, tak ia temukan apa yang dicarinya. "Embun nggak ikut lari pagi?"
"Lagi masak!" Lagi-lagi Aby menjawab singkat dan dingin. "Saya duluan."
Tanpa mengindahkan keberadaan wanita itu, Aby melangkah pergi dengan berlari kecil. Namun, sungguh menyebalkan bagi Aby, karena Siska malah ikut berlari kecil dan mensejajarkan langkah mereka.
"Di depan sana ada jajanan pagi yang enak, loh. Warga sini suka sarapan di sana. Nggak mau coba?" tawarnya.
"Nggak, makasih!"
Aby mempercepat langkah meninggalkan Siska. Membuat wanita itu hanya dapat memandangi tubuh kokoh yang terbalut celana training panjang dan kaus.
"Malah ditinggal," gumamnya seraya mengatur napas yang memburu.
Setibanya di rumah, Aby langsung menuju dapur. Tampak Embun tengah asyik memasak. Aby memulas senyum memandangi sang istri, lalu perlahan mendekat dan mencium pipi kanan secara tiba-tiba. Membuat istrinya itu sedikit terkejut.
__ADS_1
"Kok pulangnya cepat, Mas?" tanya Embun penasaran. Sebab suaminya itu baru keluar dari rumah sepuluh menit lalu. Padahal biasanya, Aby menghabiskan waktu lebih lama saat berolahraga pagi.
"Nggak apa-apa. Lagi malas aja." Aby menuang air putih ke dalam gelas, lalu meneguk hingga tak bersisa. "Mbun, aku nggak suka deh sama tetangga sebelah."
Dahi Embun berkerut mendengar ucapan suaminya. "Tetangga yang mana?" tanyanya mengingat kompleks perumahan itu cukup padat. Kemarin, Embun juga sempat berkenalan dengan beberapa tetangga.
"Yang kemarin main ke sini?" sahut Aby dengan ekspresi sedikit kesal.
"Oh, Siska? Memang kenapa dengan siska?" Embun mematikan kompor, lalu meletakkan menu sarapan nasi goreng yang baru saja dibuatnya.
"Tadi ketemu di taman. Aku lagi olahraga diikutin terus sama dia. Padahal aku larinya cepat, loh. Sampai dia ngos-ngosan," jawabnya semakin kesal. "Kamu jangan terlalu dekat sama dia, ya. Aku nggak suka."
Embun mengangguk. Sebenarnya, ia juga merasa aneh dengan sikap Siska sejak pertama berkenalan. Wanita itu terbilang sangat mudah dekat dengan orang lain, walaupun baru bertemu. Semalam pun Siska bertamu di jam makan malam dan baru pulang saat Embun memberi tahu bahwa suaminya akan pulang terlambat.
"Aku akan jaga jarak sama dia."
"Kalau bisa dia jangan sering-sering main ke rumah kita. Aku nggak nyaman kalau ada orang asing. Walaupun kata orang tetangga itu kerabat terdekat, tapi kalau tetangganya modelan dia enggak, deh."
"Mau sarapan sekarang, Mas?" tawar Embun.
"Mau mandi dulu." Ia menatap istrinya lekat. "Mau mandi bareng, nggak?" tawarnya sambil menggerakkan alis naik turun.
Sudut mata Embun berkerut menatap suaminya. Kemudian tersenyum dan langsung duduk di pangkuan sang suami. Bergelayut dengan manja.
"Boleh."
Aby langsung terbatuk-batuk.
Tadinya hanya berniat menggoda Embun yang kadang akan langsung menolak dengan pipi memerah jika diajak mandi bersama.
__ADS_1
"Kamu baru sehari berteman sama dia tapi sudah ketularan genit begini."
"Bodo amat, sama suami sendiri!"
.
.
.
"Kamu mau pergi, Embun?" tanya Siska begitu melihat Embun mengeluarkan sebuah koper kosong dari dalam kamar di lantai bawah. Siang itu ia bertamu lagi dengan alasan bosan di rumah.
Sebagai tetangga yang baik, Embun menyambut wanita itu, selama tidak berlebihan. Terlebih tadi pagi Aby sudah memberi peringatan untuk menjaga jarak dengan Siska.
"Bukan aku, tapi suamiku. Dia akan keluar kota besok, ada tugas kantor."
"Memang mau ke kota mana?" tanya Siska penasaran.
"Surabaya."
Siska menganggukkan kepala. "Kenapa kamu nggak ikut? Bahaya loh, suami keluar kota sendirian. Bisa-bisa dia dirayu pelakor di luar sana."
Embun melirik Siska sekilas, lalu meletakkan koper di anak tangga pertama. "Aku percaya suamiku nggak akan mudah dirayu oleh pelakor di luar sana."
"Kenapa kamu seyakin itu? Padahal kalian menikah karena dijodohkan. Yang pacaran lama aja suaminya bisa tergoda pelakor."
Embun terkekeh. Pikiran wanita itu terlampau dangkal baginya.
"Karena untuk mendapatkan hati aku, Mas Aby harus bertaruh nyawa dulu. Jadi kalau hanya perempuan yang mengandalkan kecantikan dan pakaian terbuka, aku yakin suamiku nggak akan tergoda sama sekali."
__ADS_1
Siska menelan saliva.
...***...