
Beberapa ibu-ibu tetangga masih berdiri di halaman rumah lengkap dengan tatapan prihatin bercampur kesal. Sudah merupakan rahasia umum bahwa keberadaan Siska meresahkan di kompleks perumahan mereka.
"Saya itu memang nggak pernah suka sama Siska sejak awal dia tinggal di sini. Bajunya itu selalu memancing perhatian laki-laki," keluh salah satu ibu-ibu.
"Iya Bu, sama!" tambah salah satunya sembari bergidik ngeri. "Suami saya pernah dirayu sama dia. Pakai alasan minta tolong pasang lampu di rumahnya segala."
"Sekarang ketahuan belangnya. Dia memang perusak rumah tangga orang. Kompleks kita bisa tercemar karena dosa mereka."
Salah satu wanita melirik Embun yang masih berlindung di pelukan suaminya. "Embun, kamu jangan dekat-dekat lagi sama Siska. Jangan kasih dia main ke rumah kamu."
Embun hanya menanggapi ucapan sang tetangga dengan senyum tipis.
Sementara Aby langsung membawa istrinya masuk ke rumah. Terlihat sangat jelas bahwa lelaki itu belum dapat menguasai diri dari amarah yang memenuhi hatinya atas kejadian yang berlangsung beberapa menit lalu. Dalam hati ia terus mengumpat dan memaki.
Entah untuk siapa. Untuk wanita yang menyerang istrinya kah, atau Siska dan seorang pria yang datang seolah tanpa dosa—yang menjadi alasan salah sasaran yang mengorbankan istrinya.
Di balik semua itu, ada satu hal yang membuatnya begitu terkejut. Ia kenal baik pria brengsek yang datang bersama Siska tadi. Pak Radit, adalah salah satu pemilik perusahaan yang bekerja sama dengan perusahaan tempatnya bekerja.
Brengsek juga itu laki! makinya dalam hati.
Aby menuntun istrinya untuk duduk di sofa ruang televisi, tempat tadi menghabiskan waktu bersama sebelum gangguan datang.
Dengan panik, ia memeriksa wajah dan tubuh sang istri. Amarah itu semakin meluap kala menemukan beberapa bekas penganiayaan di wajah dan lengan.
"Ini pasti perih, ya?" Sambil meniup pelipis yang kini terlihat bergaris merah.
Embun mengangguk pelan. Bekas cakaran wanita tadi memang meninggalkan rasa perih yang teramat pada permukaan kulitnya.
__ADS_1
"Sebentar, aku ambil obat dulu." Dengan gerakan cepat, Aby menuju dapur dan mencari kotak obat. Setelah beberapa saat, ia kembali dengan membawa kotak obat dan meletakkan di meja. "Baring dulu, biar aku obati lukanya."
Embun merebahkan tubuhnya di sofa, membuat Aby duduk di sisinya.
"Auh! Ssh!" Ia mendesis ketika bekas goresan kuku di wajahnya tersentuh oleh kapas yang telah diolesi antiseptik.
“Perih ya?” tanya Aby, lalu meniup bekas luka itu dengan lembut, hingga Embun dapat merasakan hangatnya embusan napas sang suami yang menerpa wajahnya.
Embun menatap suaminya lekat. Sikap Aby yang sangat melindungi itu membuat jantungnya berdebar.
Hampir setengah jam terlewati. Aby terus meniup bekas luka di wajah dan lengan yang telah diolesi obat. Aby meletakkan kapas bekas di keranjang sampah dan merapikan kotak obat. Saat akan berdiri, bel rumah kembali berbunyi.
"Siapa lagi, sih?" gerutu Aby, melirik Embun yang masih berbaring. "Kamu di sini aja. Biar aku yang lihat ke depan."
Aby segera menuju pintu. Sosok yang berdiri di depan membuat rahangnya mengeras. Berbeda dengan pria itu, yang terlihat cukup terkejut dengan temuannya. Tentu saja ia mengenal Aby dengan baik.
"Silahkan masuk dulu!" ucap Aby dingin. Meskipun amarah masih melekat, tetapi ia masih berusaha untuk ramah, meskipun sebenarnya ingin sekali menghujamkan kepalan tinju.
"Ternyata yang diserang istri saya tadi adalah istri kamu, ya?" tanya pria itu gugup.
Aby hanya mengangguk. Nyaris tanpa senyum.
"Saya mau minta maaf atas perbuatan istri saya tadi. Tolong jangan diperpanjang. Saya akan ganti kerugian kamu berapapun itu." Tanpa basa-basi, ia langsung menawarkan sejumlah uang.
Seringai tipis terlihat di sudut bibir Aby.
"Pak Radit pikir minta maaf dengan menggunakan uang bisa menyelesaikan semua masalah?" Aby menggelengkan kepala, membuat pria mapan itu menatap penuh keraguan.
__ADS_1
"Saya tahu. tapi—"
"Maaf, saya tidak butuh uang Bapak. Penganiayaan terhadap istri saya, akan tetap saya laporkan kepada pihak berwajib."
"Tapi istri saya tidak sengaja menyerang istri kamu." Ia masih berasalan.
"Tidak sengaja? Saya rasa sebelum menyerang orang, istri Bapak bisa bertanya dulu kebenarannya."
Pria itu tak menampik lagi. Ucapan Aby memang benar adanya. Dan kenyataan itu membuatnya sedikit melunak.
"Tolonglah ... tidak usah diperpanjang. Kita atur damai saja."
"Maaf, Pak. Atur damai hanya untuk orang yang menghargai orang lain. Sementara Bapak masuk ke rumah saya dan langsung menawarkan jalan damai dengan sejumlah uang."
Pria itu sudah mulai gusar di tempat duduknya. Memikirkan cara agar tidak berurusan dengan kepolisian.
"Saya kenal baik dengan pimpinan May-Day. Lihat saja siapa yang akan dipertahankan Pak Desta. Satu karyawan, atau kerjasama dengan perusahaan yang menghasilkan milyaran?"
Aby hanya terkekeh. Menatap remeh pria yang bisanya hanya memberi ancaman dengan kekuasaannya.
Sementara di balik pilar, Embun berusaha mendengar pembicaraan suaminya.
"Kalau Pak Radit memang punya kekuasaan untuk membuat saya dipecat, silahkan lakukan!" ucapnya mantap.
****
bersambung
__ADS_1