
"Selamat ya, Sayang. Bunda ikut bahagia untuk kamu dan Aby." Bunda memeluk menantunya penuh rasa bahagia. Sekarang giliran bunda yang masuk ke ruangan setelah Mama Rima, karena tadi perawat menyarankan agar mereka masuk secara bergantian.
Tadi, Embun juga telah melakukan tes urin dan hasilnya menunjukkan dua garis merah. Menandai adanya janin yang bersemayam di dalam rahimnya.
"Makasih, Bunda. Maafin aku tadi sudah nggak sopan sama oma," balas Embun. Hatinya dipenuhi rasa bersalah atas pengendalian diri yang buruk. Ia pikir sebagai menantu tidak seharusnya bersikap demikian. Terlebih kepada oma.
"Bukan salah kamu, Sayang. Oma memang agak keterlaluan. Mita sudah cerita semua. Lagi pula, bunda tahu kamu tidak akan melakukan itu kalau oma tidak memancing duluan." Bunda membelai rambut Embun penuh kasih.
"Tapi aku nggak enak, Bunda. Oma pasti tambah nggak suka sama aku." Embun menundukkan kepala. Sepasang matanya kembali dipenuhi cairan bening.
Membuat wanita paruh baya itu mengusap ujung mata menantunya yang basah. Setidaknya meskipun oma membencinya, ada bunda yang sangat baik dan memperlakukannya sama seperti anak kandungnya sendiri.
"Setelah tahu kamu hamil, oma pasti akan berubah," tambah bunda. Mencoba menghibur sang menantu.
Tak lama berselang, pintu terbuka dan memunculkan Aby. Sejak tahu istrinya tengah berbadan dua, wajah laki-laki itu berseri-seri, dengan senyum yang tak pernah pudar di wajahnya.
Aby mendekat ke tempat pembaringan dan menatap istrinya. "Kata perawat tadi kamu nggak apa-apa. Jadi sudah boleh pulang."
Informasi yang diberikan Aby membuat sepasang alis bunda saling bertaut. "Loh, bukannya Embun mau periksa dulu? Kan belum di USG, By?"
"Besok aja sekalian, langsung ke dokternya Embun, Bunda. Ini akhir pekan, Dokter Allan nggak ke rumah sakit."
Bunda mengangguk mengerti. Tangannya yang halus kembali membelai puncak kepala sang menantu. "Tapi perasaan kamu bagaimana, Nak? Masih pusing, lemas atau mual?"
Deretan pertanyaan bunda membuat Embun menggeleng sambil tersenyum. Ibu dari suaminya itu memang sangat perhatian. "Mendingan, Bunda."
"Ya sudah, kita pulang. Nanti di rumah bunda buatin makanan kesukaan kamu."
Ketiganya lantas keluar dari ruangan itu. Di depan juga masih ada ayah, Mama Rima dan Mita. Ketiganya langsung berdiri ketika melihat mereka keluar.
__ADS_1
"Kamu sudah merasa baikan, Nak?" tanya ayah.
"Sudah, Ayah."
"Syukurlah." Ayah mengusap punggung Embun. "Lain kali kalau oma memarahi kamu, jangan diambil hati, ya. Oma memang begitu. Tapi setelah ini oma pasti akan berubah."
"Iya, Ayah. Aku minta maaf sudah membuat keributan di rumah." Aby langsung merangkul pinggang istrinya mendengar nada sedih itu.
"Bukan salah kamu, Nak." Ayah mengulas senyum. "Ayo, sekarang kita pulang."
Aby menatap ayah dan bunda. Raut wajahnya tampak serius. Perbuatan oma terhadap Embun membuat kesabarannya sedikit terkikis. Menjauhkan istrinya dari oma adalah jalan yang dipilih Aby. Terlebih tadi seorang bidan senior menyarankan agar Embun jangan sering stress.
"Ayah, Bunda ... aku mau langsung bawa Embun pulang ke rumah kami."
Bunda dan ayah tampak cukup terkejut mendengar ucapan Aby. "Aby ... bukannya bunda tidak setuju. Tapi bukannya lebih baik kalau kalian tinggal sementara sama kita? Kasihan Embun ditinggal sendiri saat kamu kerja."
Mama Rima hanya membalas dengan senyum. Tiba-tiba merasa tidak enak dengan besannya. Karena sejak tadi Aby benar-benar menunjukkan sikap tidak suka atas sikap oma.
"Maaf, Bunda. Bukan aku nggak mau tinggal di rumah, tapi aku nggak mau Embun banyak pikiran."
Pandangan Embun langsung terarah kepada suaminya. "Tapi, Mas ...."
"Nggak ada tapi-tapian. Kita pulang ke rumah!" potong Aby cepat.
Meskipun tampak sedih, namun bunda mengerti. Mungkin Aby sakit hati setelah mendengar cerita Mita tentang sikap oma terhadap Embun, yang memang sudah di luar batas.
"Ya sudah, tidak apa-apa. Bunda akan mendukung. Nanti bunda yang akan sering-sering main ke rumah kalian."
*
__ADS_1
*
*
*
Ayah, bunda dan Mita tiba di rumah. Ketiganya langsung disambut oleh oma yang sedang duduk di teras seorang diri dengan sebuah majalah di pangkuannya. Secangkir teh hangat dan camilan turut jadi pelengkap.
Ayah dan Mita memilih masuk lebih dulu, sementara bunda duduk di kursi tepat di samping oma.
"Bagaimana keadaan istrinya Aby itu? Dia sakit apa lagi?" tanya oma.
Rasanya bunda benar-benar kesal dengan sikap mertuanya itu. "Ibu ini kenapa sih? Sebenarnya Embun punya salah apa sama ibu?"
Raut tak suka tergambar jelas di wajah oma. Hal pertama yang membuatnya tidak menyukai Embun adalah karena kecewa dengan keputusan anak dan menantunya yang memilih menikahkan Aby dengan Embun. Padahal sebelumnya, ia telah memilih Mita untuk dijodohkan dengan cucu kesayangannya itu.
"Ibu tidak suka sama si Embun itu," jawabnya tanpa menyebut sebuah alasan.
"Dan karena ketidaksukaan Ibu itu Aby memilih bawa pulang istrinya!"
Oma menghela napas kasar. "Mantumu itu bisanya memang bikin suaminya repot saja!"
"Iya, Bu. Dan sepertinya Embun akan membuat Aby semakin kerepotan dalam sembilan bulan ini, karena Embun sedang hamil!"
Apa yang dikatakan bunda membuat kedua bola mata keriput oma membulat penuh. Terkejut membuat wanita tua itu kehilangan kata-kata.
"Embun hamil?" tanyanya terbata.
****
__ADS_1