Pengkhianatan Di Malam Pertama

Pengkhianatan Di Malam Pertama
Bab 44 : Dear Mas Aby


__ADS_3

Belum ada kata yang dapat terucap dari bibir Embun setelah membaca kata demi kata yang tertulis dalam surat yang ditinggalkan Aby. Tangisnya perlahan mulai mereda menyisakan suara sesegukan.


Embun kembali bangkit dan berdiri di depan jendela kaca, tatapannya mengarah pada suaminya yang terbaring lemah dengan berbagai peralatan medis yang terpasang di tubuhnya.


Sedangkan bunda dan ayah sedang berada di ruangan dokter untuk membicarakan penanganan terhadap Aby. Sedangkan Galang sedang ke kantor polisi untuk mengurus laporan penabrakan Aby. Bukannya turun untuk menolong, pelaku penabrakan malah melarikan diri begitu saja. Hal yang membuat Galang begitu murka.


Suara langkah kaki saling berkejaran terdengar dari kejauhan. Embun melirik sekilas, tampak Mama Rima berjalan dengan tergesa-gesa ke arahnya. Wanita itu segera menuju rumah sakit setelah mendapat kabar tentang apa yang terjadi kepada sang menantu.


"Embun, bagaimana keadaan Aby?" tanya wanita itu dengan mimik wajah penuh kekhawatiran.


Embun tak segera menjawab. Namun, air mata yang kembali berderai sudah cukup sebagai jawaban, yang mana mendorong Mama Rima untuk segera memeluk putrinya itu.


"Mas Aby kritis. Dia celaka karena menolong aku, Mah. Seharusnya aku yang tertabrak, tapi Mas Aby mendorong aku." Embun terisak-isak dalam pelukan mama.


"Bukan salah kamu, Nak. Semua yang terjadi sudah ditakdirkan. Tidak ada yang bisa mencegah. Aby pasti akan baik-baik saja. Jangan khawatir." Mama Rima berusaha menenangkan Embun dengan meyakinkan bahwa Aby akan baik-baik saja.


Alih-alih menjadi lebih tenang, ucapan Mama Rima malah membuat tangis Embun kian pecah. Rasa takut kehilangan begitu kuat tertanam di hatinya.


.


.


.


Malam pun tiba ....


Suasana kembali hening. Embun masih duduk di sebuah kursi dengan bersandar di bahu Mama Rima. Ayah dan bunda juga masih duduk di kursi yang sama.


Kedatangan Galang mengalihkan perhatian ayah dan bunda. Kedua langsung bangkit dari duduknya dan menghampiri putra sulungnya itu.


Sementara Embun terdiam seraya menarik napas dalam-dalam. Menunggu informasi apa yang akan disampaikan Galang.


"Bagaimana laporannya?" tanya ayah.


"Sudah masuk, Yah. Polisi akan menyelidiki CCTV di sekitar lokasi kejadian. Semoga pelakunya cepat tertangkap."


Ayah dan bunda menganggukkan kepala. Sementara Galang melirik Embun yang terduduk lesu.


"Om ... Tante ... bagaimana keadaan Aby?"


Suara yang tiba-tiba hadir itu membuat semua orang menoleh. Vania menatap penuh tanya dengan mata sembab. Bunda yakin wanita seusia Embun itu habis menangis.

__ADS_1


"Mau apa kamu ke mari? Apa kamu datang untuk merusak rumah tangga anak saya lagi?"


Vania menundukkan kepala mendengar pertanyaan sarkas dari bunda. Bibirnya terkatup rapat menahan tangis.


"Bunda ... tolong jangan!" Embun segera bangkit dari duduknya dan berdiri di antara Vania dan bunda.


Bunda masih menatap Vania dengan tatapan yang sama. "Lebih baik kamu pergi dari sini. Jangan ganggu rumah tangga Aby dan Embun lagi!"


Vania mengusap kedua sisi pipinya yang basah oleh air mata.


"Bunda, biar aku saja yang bicara sama Vania."


.


.


.


Duduk di sebuah kursi taman, Vania masih terisak-isak. Melihat Aby terluka parah bukanlah sesuatu yang ia harapkan. Apa lagi jika sampai kritis.


"Makasih karena kamu mengizinkan aku melihat Aby," lirih Vania.


"Aku tahu kamu juga sedih dengan apa yang terjadi dengan Mas Aby."


Setidaknya, Embun tidak ingin egois.


Vania menatap Embun dengan berlinang air mata. "Embun ... boleh aku minta sesuatu?"


"Kamu mau minta apa?"


Untuk beberapa saat, Vania terdiam seperti sedang memilih kata yang tepat. Ia lalu menarik napas dalam-dalam.


"Kalau kamu masih bisa, tolong maafkan Aby. Semua yang terjadi dalam rumah tangga kalian bukan salahnya. Aku yang salah. Aku yang mengancam dia akan bunuh diri kalau memilih kamu." 


Embun menatap Vania penuh tanya. "Maksud kamu?" 


"Malam sebelum kalian menikah, Aby sudah mendatangi aku dan berniat mengakhiri hubungan kami. Aku nggak terima dan mengancam akan bunuh diri, dan Aby mengalah supaya aku nggak bunuh diri. Pertemuan kita di restoran malam itu juga aku yang memaksa Aby untuk datang bersama kamu." 


Embun merasakan tubuhnya meremang mendengar pengakuan Vania. Bayangan malam pertama mereka menikah terngiang kembali dalam ingatan. Malam itulah yang menghancurkan pernikahan mereka. 


"Aby selalu berusaha menjaga perasaan kamu dengan menghindari aku. Tapi aku yang terus memaksa dia dengan ancaman yang sama. Semalam, Aby meminta untuk bertemu lagi. Dia bilang mau memulai semuanya dari awal bersama kamu." Meskipun suara Vania terdengar tersendat-sendat, namun, Embun dapat memahami maksudnya. "Aku mohon batalkan niat kamu untuk menggugat cerai Aby. Dia sayang sama kamu, Embun. Dia nggak mau kehilangan kamu. Aku nggak apa-apa kalau dia memang memilih kamu, aku akan terima. Aku cuma mau Aby selamat." 

__ADS_1


Embun menyeka air mata yang tiba-tiba jatuh di pipi. Dua wanita itu saling berpelukan dengan dengan isak tangis yang mengiringi. 


.


.


.


Malam semakin larut. Dengan menggunakan pakaian steril, Embun masuk ke dalam ruangan di mana suaminya terbaring tak sadarkan diri. Ia menarik sebuah kursi dan duduk di sisi pembaringan.


Melihat suaminya terpejam dengan beberapa luka pada tubuhnya, membuat Embun merasa sesak. Hatinya seperti disayat.


Sakit! Namun, untuk menangis pun Embun tak mampu lagi.


"Mas, kamu bisa dengar aku, kan?" lirih Embun.


Tangannya membelai wajah pucat itu, kemudian merebahkan kepalanya di lengan suaminya dengan manja, seperti yang ia lakukan semalam saat mereka terkurung di kamar yang gelap.


"Tadi pagi kamu bilang sama aku akan melakukan apapun supaya aku mau maafin kamu. Aku ada satu syarat supaya bisa memaafkan kamu. Kamu harus bangun, kalau tidak, aku akan ke pengadilan agama dan meneruskan gugatan cerai."


Ia mengguncangkan lengan suaminya pelan.


"Kamu dengar, kan? Hanya itu syarat supaya aku mau memaafkan kamu. Ayo bangun!"


Embun kembali merebahkan kepala di bahu sang suami. Memeluknya dalam kesunyian.


Dear Mas Aby .... 


Cepatlah sadar dan sehat kembali supaya kita bisa memulai semuanya dari awal dan menjalani pernikahan ini dengan sebenarnya. 


Jujur saja, aku sangat tersakiti dengan pengkhianatan di malam pertama pernikahan kita. Tapi, aku tahu kamu hanyalah manusia biasa yang tidak luput dari kesalahan. 


Aku juga banyak melakukan kesalahan yang sama. Seharusnya, sebagai istri aku menuntunmu untuk kembali ke jalan benar. 


Bukankah sepasang suami istri seharusnya saling mengingatkan dan saling memperbaiki? Tapi, aku malah semakin menjerumuskanmu dengan menjauh. 


Aku juga bukan istri yang baik.


Bangunlah, aku akan tetap disini menunggumu untuk mengucapkan ijab kabul lagi atas namaku. Dan kita, akan memulai semuanya dari awal lagi. 


............

__ADS_1


__ADS_2