Pengkhianatan Di Malam Pertama

Pengkhianatan Di Malam Pertama
Bab 67 : Memperbaiki Semuanya


__ADS_3

"Sama-sama, Tante. Saya ikhlas bantu Vania. Semoga Vania cepat membaik," jawab Embun.


Mami mengusap bahu wanita di sisinya itu. "Kamu memang wanita yang sangat baik. Tidak salah kalau Aby dan keluarganya memilih kamu . Semoga kamu dan Aby selalu bahagia," ucapnya penuh harap.


Embun merespon dengan anggukan diiringi senyum tipis. "Terima kasih, Tante. Aku juga berharap Vania selalu bahagia kedepannya."


Setelah obrolan singkat itu, keduanya melirik ke arah balkon. Aby sedang membuka pintu kamar. Mami, papi, Embun dan Mbak Siti yang masih berada di taman segera beranjak masuk ke rumah dan menuju lantai atas. Vania baru saja keluar dari pintu disusul dengan Aby. Mami langsung memeluk putri semata wayangnya itu dengan berderai air mata.


"Maafkan mami, Vania. Semua ini salah mami yang membiarkan kamu merasa sendirian. Sekarang, mami akan selalu di sini menemani kamu."


"Yakin? Mami sama Papi kan lebih sayang sama pekerjaan dari pada sama aku."


Ucapan Vania seolah menggores luka di hati sang mami. Selama ini Vania termanjakan dengan kehidupan mewah, dan mereka sebagai orang tua merasa telah memberi yang terbaik. Bahkan pertemuan dengan Vania dalam satu tahun dapat dihitung jari. Vania juga pernah meminta ikut dengan kedua orang tuanya, namun mereka menolak karena sering berpindah dari satu kota ke kota lain.


"Kata siapa mami lebih sayang pekerjaan. Mami sama papi bekerja untuk kamu. Supaya kamu tidak kekurangan apapun." Ia membelai rambut putrinya.


"Aku nggak butuh barang-barang mewah, Mi. Ambil aja semuanya lagi."


Hati mami langsung mencelos mendengar ucapan putrinya. "Kalau begitu, mulai sekarang, mami tidak akan ke mana-mana lagi. Mami akan menemani kamu setiap hari di sini."

__ADS_1


"Benar, Van. Papi juga tidak akan kemana-mana lagi. Maafkan papi, ya," tambah papi. "Tapi, setelah ini kamu mau kan menjalani psikoterapi. Supaya kamu bisa sembuh dan kuliah lagi."


Tak ada respon berlebihan dari Vania selain anggukan kepala. Ia bersandar dalam pelukan sang mami.


Sementara Embun terdiam di tempatnya berdiri. Memandangi Vania dengan perasaan iba.


.


.


.


Embun menatap suaminya yang tengah terfokus dengan jalan di depan. Saat ini, mereka sedang dalam perjalanan pulang.


"Iya. Aku juga kasihan sama dia."


"Aku tahu Vania perempuan yang baik. Keadaan yang sudah merubah dia seperti sekarang. Semoga setelah ini semuanya membaik."


"Aku juga berharap begitu."

__ADS_1


Embun menyandarkan punggungnya. Sebenarnya ada sesuatu yang sejak tadi ingin ia tanyakan kepada suaminya. Tetapi, entah harus mulai dari mana. Ia merasa sungkan.


"Mas ... apa boleh aku tanya sesuatu yang sifatnya agak pribadi?" Akhirnya ia memberanikan diri bertanya.


Aby melirik sekilas, lalu kembali terfokus dengan jalan di depan. "Mau tanya apa memangnya?"


Selama beberapa saat, Embun terdiam. Seperti sedang memilih kata yang tepat. "Apa kamu pernah mencintai Vania sebelumnya? Kalau iya, apa kamu masih punya sisa cinta walaupun hanya sedikit?"


Aby mengulas senyum tipis. Sebelah tangannya terulur menggenggam tangan sang istri. Ia tahu Embun masih memiliki keraguan. Tetapi, Aby bukanlah tipe pria yang mudah berkata cinta.


"Sayang, pernah cinta atau tidak, itu nggak penting lagi. Semuanya sudah berlalu. Sekarang aku sudah sama kamu dan hanya dengan kamu. Untuk apa bahas masa lalu?"


Dan, jawaban Aby mengukir senyum di bibir Embun. Wanita itu bahkan langsung menyandarkan kepala di bahu suaminya. Membuat Aby membelai wajah istrinya.


Aman si Hercules malam ini.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2