
Setelah sepakat bahwa Embun yang akan menjaga Oma, semua bernapas lega. Terutama Mita, yang memang tadi menolak untuk menjaga Omanya. Ia tidak perlu direpotkan dengan pekerjaan yang sama sekali tak disukainya.
Setelah memastikan semuanya baik-baik saja, Bunda dan Mita pulang ke rumah. Sementara Aby harus berangkat ke kantor untuk memeriksa sesuatu setelah mendapat telepon dari Dewa.
Kini hanya Embun dan Oma yang ada di kamar itu. Embun menjaga Oma tanpa mengeluh sedikit pun. Bahkan Embun mengganti diapers dan membersihkannya tanpa merasa keberatan atau jijik sama sekali.
Terbaring di ranjang pasien, Oma melirik cucu menantu yang selama ini dibencinya itu dengan mata berkaca-kaca. Ia mulai merasa selama ini sudah salah menilai Embun. Sesal mulai menjalar ke hati. Betapa dulu ia pernah berpikir untuk meminta Aby menceraikan Embun hanya untuk bisa menikahi Mita.
"Embun ...," lirih Oma.
Embun yang sedang menyiapkan air hangat untuk membasuh tubuh Oma dengan handuk kecil refleks menoleh.
"Iya, Oma?"
"Maafkan sikap Oma selama ini terhadap kamu. Kamu pasti sering sakit hati sama Oma."
"Nggak apa-apa. Jangan pikirkan itu. Yang penting sekarang Oma cepat sembuh."
Embun meraih selembar tissue dan mengusap cairan bening yang mengalir di sudut mata Oma. Wanita renta itu terlihat masih sangat lemah.
"Sekarang aku lap badan Oma dulu ya. Habis itu Oma istirahat."
"Terima kasih, Nak. Aby beruntung punya istri sebaik kamu."
Embun hanya tersenyum. Kemudian mulai membasuh tubuh Oma dengan handuk basah.
__ADS_1
*
*
*
"Kamu masih di rumah sakit, Nak?" Suara Mama Rima di balik telepon terdengar khawatir. Sebab Embun tak kunjung kembali sejak berangkat ke rumah sakit tadi.
"Iya, Mah. Mungkin malam ini aku nginap di rumah sakit temani Oma," jawab Embun yang kini sedang duduk di kursi depan kamar demi melepas penat.
"Tapi kamu banyak istirahat, ya. Ingat jaga kehamilan kamu juga. Masih rawan, loh."
"Iya, Mah. Jangan khawatir. Fasilitas di kamar Oma bagus kayak di hotel, kok. Jadi nggak berasa lagi jaga orang sakit."
Oma memang menempati ruangan VVIP di rumah sakit. Sehingga kamar dan juga pelayanan yang didapatkan sangat memuaskan. Selain itu, ada kafe yang terdapat di dalam rumah sakit dengan berbagai menu yang menggugah selera. Embun hanya tinggal memesan makanan ataupun minuman melalui telepon dan semua akan diantar ke kamar.
"Mas Aby ke kantor, Mah. Katanya mau urus sesuatu sebentar."
"Ya sudah, Nak. Kamu hati-hati, ya. Ingat pesan mama tadi," ucapnya sekali lagi.
"Iya, Mah. Mama di rumah nggak apa-apa, kan?" Embun sedikit tidak enak hati dengan mamanya. Sebab harus meninggalkan mama sendirian di rumah. Walaupun selama Embun menikah, Mama tinggal seorang diri.
"Nggak apa-apa, Mbun. Mama sudah biasa. Nanti kalau anak kamu sudah lahir, mama akan ada temannya di rumah kalau kamu keluar."
Embun terkekeh. "Ya sudah, Mah. Aku tutup dulu, ya. Mau lihat Oma sebentar."
__ADS_1
Panggilan terputus. Embun kemudian masuk ke kamar dan memeriksa apakah Oma butuh sesuatu atau tidak. Melihat Oma yang masih terlelap, Embun membenarkan selimut. Sebab udara di dalam kamar cukup sejuk karena ada pendingin ruangan.
Tanpa disadari oleh Embun, Aby sudah berdiri di ambang pintu. Laki-laki itu diam di tempatnya berdiri dan hanya menatap istrinya dari belakang. Melihat betapa lembut Embun merawat Oma membuat Aby semakin jatuh hati terhadap istrinya itu.
"Loh Mas? Sejak kapan datang? Kok aku nggak lihat?"
"Barusan."
Embun langsung menghampiri suaminya dan mencium punggung tangan. Lalu disambut Aby dengan kecupan sayang di kening. Keduanya lantas masuk. Aby membawa beberapa kantongan makanan yang tadi sempat dibelinya di jalan.
"Kamu sudah makan?"
"Sudah, tadi pesan di kafe."
"Makan lagi, yuk. Biar dedeknya sehat." Aby melirik Oma sekilas. "Bagaimana? Hari ini Oma nggak marahin atau bicara kasar sama kamu, kan?" tanyanya setengah berbisik.
"Kamu ini suuzon terus sama Oma, Mas!" protes Embun.
"Bukan suuzon, Sayang. Itu namanya khawatir." Lelaki itu mencuri ciuman di bibir. Singkat, namun berhasil membuat pipi Embun kemerahan.
Entah mengapa sejak hamil, ia selalu berdebar jika suaminya itu menunjukkan perhatian. Selain itu, Embun lebih manja dan inginnya selalu dekat dengan sang suami.
"Nggak kok. Kasihan Oma, Mas. Tadi juga habis minta maaf sama aku." Sejenak Embun melirik Oma demi memastikan Omanya tidak mendengar ucapan Aby barusan.
"Syukur, deh. Akhirnya Oma tahu mana yang tulus dan mana yang cuma mau enaknya aja."
__ADS_1
"Kayak si Balmond. Tulus, tapi mau enaknya juga."
...****...