Pengkhianatan Di Malam Pertama

Pengkhianatan Di Malam Pertama
Bab 95 : Kebetulan Menyebalkan!


__ADS_3

Keesokan harinya Aby membawa Embun ke sebuah rumah sakit. Keduanya duduk di ruang tunggu bersama beberapa pasien lain yang sedang mengantri. Aby menggenggam tangan istrinya, karena sejak tiba di rumah sakit, Embun terlihat sangat gugup dan tegang. 


"Kenapa, sih?" 


"Nggak apa-apa." Embun mengulas senyum di sudut bibirnya, kemudian menarik napas dalam-dalam demi mengurai ketegangan yang sekarang dirasakannya. Ia takut hasil pemeriksaan nanti tidak sesuai dengan harapan. Berbagai kemungkinan terburuk sudah menguasai pikirannya. 


Melihat istrinya yang begitu tegang, Aby membelai puncak kepalanya dengan lembut. "Jangan takut, pasti ada jalan terbaik untuk kamu. Yang penting kita sudah berusaha." 


Embun mengangguk. Setidaknya ia sedikit lebih tenang, karena Aby terus meyakinkan bahwa semuanya akan baik-baik saja. 


Tidak lama kemudian, giliran Embun pun tiba. Seorang asisten dokter wanita baru saja keluar dari pintu dan memanggil. Ditemani Aby, ia masuk ke ruangan sang dokter. Embun cukup terkejut, karena ternyata dokter ahli kandungan yang direkomendasikan oleh teman suaminya itu, ternyata adalah Dokter Allan, yang merupakan ayah Dewa. 


"Loh, Om?" Embun terkesiap.


Pria paruh baya itu menyambut dengan sikap sangat ramah dan langsung mempersilahkan keduanya untuk duduk. Embun menyalami sang dokter dengan mencium punggung tangannya. 


"Kamu sudah kenal Dokternya?" bisik Aby. 


"Iya, Mas. Om dokter ini ayahnya Kak Dewa." 


"Oh ...." Aby mengulas senyum. Ia juga tampak cukup terkejut. Sebab dirinya memang belum pernah bertemu dengan ayah Dewa sebelumnya. 


Tanpa mengulur waktu, keduanya berkonsultasi. Embun menjalani beberapa pemeriksaan, salah satunya pemeriksaan USG. Dokter Allan menatap layar monitor dengan serius, sementara Embun terdiam berbaring di ranjang pasien. Aby dapat merasakan tangannya yang gemetar dan berkeringat. 


"Bagaimana, Om?" tanya Embun sesaat setelah pemeriksaan selesai. 


Dokter yang selalu ramah itu terkekeh setelah melihat wajah sang pasien yang sejak tadi menegang. "Kamu kenapa tegang begitu? Santai aja, terlalu banyak pikiran bisa membuat kamu stress. Dan itu tidak baik untuk kesehatan." 


Embun menundukkan kepala. Pikirannya sekarang dipenuhi rasa khawatir. 

__ADS_1


"Apa saya harus dioperasi?" tanyanya. Sebenarnya, jarum suntik dan meja operasi adalah sesuatu yang paling ditakuti Embun. Memikirkan kemungkinan operasi saja sudah membuatnya ketakutan. 


"Tidak semua penanganan kista harus dengan operasi. Kista kamu ukurannya kecil, kok. Jadi saya akan resepkan obat dulu." 


Baik Aby maupun Embun terlihat menghela napas mendengar penjelasan dokter. Mereka berdua merasa sangat lega. 


"Apa saya masih bisa hamil?"  


"Insyaa Allah bisa. Tidak ada yang tidak mungkin," jawabnya. "Banyak istirahat, jaga pola makan dan rajin olahraga. Selain itu harus tetap menjalani pemeriksaan berkala untuk memantau perkembangan kistanya. Nanti saya akan buatkan jadwal untuk kamu." 


"Terima kasih, Om." 


Sepasang mata Embun berbinar mendengar penjelasan dokter. Segenap beban yang menghinggapi hatinya perlahan berkurang. Padahal dokter sebelumnya menyatakan bahwa kemungkinan untuk hamil sangat kecil. 


.


.


.


Embun menjadi lebih ceria sekarang, tidak lagi banyak diam dan murung seperti beberapa hari sebelumnya. 


"Oh ya, Mas. Aku lupa kasih tahu kamu. Permohonan magang aku diterima," ucap Embun penuh semangat. Ia hampir saja melupakan hal penting itu karena masalah yang membelitnya beberapa waktu belakangan ini. 


"Selamat, Sayang. Aku ikut senang." 


"Perusahaan tempat aku magang juga dekat dari kantor kamu." 


Aby mencoba mengingat beberapa perusahaan yang berlokasi di sekitar kantornya. Sambil menebak perusahaan yang dimaksud Embun.

__ADS_1


"Memang kamu masukkan permohonan magang ke perusahaan mana?" 


"Ke PT. Dwisakti." 


Spontan kedua alis Aby saling bertaut mendengar nama perusahaan yang baru saja disebut istrinya. Ia langsung meraih sebotol air mineral dan meneguk perlahan. Aby memang tidak mengetahui ke perusahaan mana saja Embun memasukkan permohonan magang. Sebab kala itu hubungannya dengan Embun belum membaik, sehingga Dewa yang membantunya  untuk mencari perusahaan.  


"Kenapa kamu kaget begitu? Kamu tahu perusahaan itu?" tanya Embun penasaran. 


Aby menganggukkan kepala seraya menarik napas dalam. Tentu saja ia sangat tahu nama perusahaan itu. 


"Itu perusahaannya Pak Radit." 


"Apa?" Bola mata Embun turut membola. Ia hampir tak percaya mengetahui bahwa perusahaan tempatnya akan magang adalah milik Pak Radit, suami dari wanita yang menyerangnya membabi buta kemarin. "Terus gimana, Mas? Aku nggak mau magang di sana." 


"Aku juga nggak rela kamu magang di tempat buaya buntung kayak si Pak Radit itu." 


"Terus gimana dong?" 


"Batalin aja magang di sana. Nanti masukin permohonan ke kantor aku. Lagian kenapa sih kamu masukin permohonan ke sana, kayak nggak ada perusahaan lain aja," gerutu Aby panjang lebar. 


"Mana aku tahu kalau kita bakal ada masalah sama orang itu." 


"Udah, ah, jangan bahas! Selera makanku bisa hilang." 


Aby melanjutkan makan, sementara Embun melirik ke arah beberapa waiters untuk memesan jus. Tetapi seseorang yang duduk di meja tepat di sebelah membuat Embun terkejut. Ia meraih lengan suaminya, lalu mendekatkan bibirnya ke telinga. 


"Mas ... orangnya ada di sini, lho," bisik Embun. 


"Siapa?" Aby ke meja sebelah setelah mendapat kode dengan lirikan mata. Benar kata Embun, Pak Radit sedang duduk berdua dengan Siska di meja tepat di sebelah mereka. Wajah keduanya terlihat memerah. Aby dapat menebak keduanya mendengar pembicaraannya dengan Embun barusan.

__ADS_1


"Jangan-jangan dia dengar aku ngatain buaya buntung? Ah, bodo amat!"


*** 


__ADS_2