Pengkhianatan Di Malam Pertama

Pengkhianatan Di Malam Pertama
Bab 56 : Kehujanan


__ADS_3

Dengan malu-malu wanita itu menganggukkan kepala. Hari ini memang sudah lebih dari satu minggu sejak mereka melakukan ijab kabul ulang. Artinya, tamu bulanan Embun sudah pulang.


Dengan gerakan sangat lembut, jemari Aby menelusuri garis wajah istrinya. Membuat Embun mulai terbuai oleh rasa hangat yang mulai menjalar ke hati.


"Berarti sudah boleh, kan?"


Embun mengangguk lagi, membuat Aby mencium pipinya dalam.


"Kalau begitu kamu harus siap-siap malam ini," ucapnya menggoda.


Semakin berdebar saja Embun rasanya. Yang ia lakukan hanya membenamkan wajahnya di ceruk leher sang suami. Menyesap aroma wangi nan menenangkan dari tubuh laki-laki itu.


Namun, suara keroncongan yang berasal dari perut menjadi pemutus kemesraan di senja hari itu. 


"Kamu belum makan?" tanya Aby, tanpa melepas tangan yang melingkar di pinggang istrinya.  


Embun tersenyum memamerkan deretan gigi putihnya yang rapi. Siang tadi, ia memang belum sempat makan di kampus. Kegiatan hari ini cukup menyita waktunya. Belum lagi setelah pulang ke rumah harus memasukkan pakaian ke dalam koper untuk dibawa ke rumah baru.


"Aku nggak sempat tadi." 


"Kalau gitu kita makan dulu. Kebetulan tidak jauh dari sini ada bazar." 


"Tapi aku lagi malas makan sebenarnya."


Aby menghela napas panjang sambil membelai rambut istrinya.


"Embun ... asal tahu saja, untuk melakukan itu butuh tenaga."


Ucapan frontal Aby, membuat Embun tersipu.


.


.


.


"Mau makan apa?" 

__ADS_1


Aby menggandeng tangan istrinya melewati barisan kedai makanan. Ada banyak kuliner yang menggugah selera sepanjang jalan itu. Embun masih tampak bingung memilih. Hingga akhirnya menjatuhkan pilihan pada sebuah kedai dengan menu utama bebek goreng.


"Mau makan itu aja, Mas. Di sana nggak terlalu banyak orang juga," tawar Embun.


Aby menuruti saja keinginan Embun. Ia membawa istrinya menuju meja yang tersedia di kedai makanan tersebut. Sepanjang menunggu pesanan, laki-laki itu terus memandangi wajah istrinya. Bibir tipis dan hidung celestial itu terasa sangat menggemaskan. 


"Kenapa liatin aku terus?" tanyanya, dengan pipi memerah. 


Aby terkekeh. Semakin gemas dengan tingkah Embun yang selalu salah tingkah jika ditatap, padahal hampir setiap hari Aby memandanginya dengan cara yang sama.


"Kamu lucu ... kayak orang baru pacaran." 


Apa yang diucapkan Aby memang benar adanya. Percaya atau tidak, ini adalah kencan pertama Embun dengan seorang pria. 


Dalam hitungan menit, pesanan nasi bebek telah tiba. Embun makan dengan sangat lahap. 


.


.


.


"Soal Vania ... apa kamu percaya kalau dia yang mau menabrak kita?" Tiba-tiba saja pertanyaan itu lolos begitu saja.


"Nggak tahu. Maunya sih nggak percaya, tapi semua bukti sudah mengarah ke dia," jawab Aby, seraya membawa Embun untuk duduk di sebuah kursi kayu. 


"Aku masih belum percaya." 


Aby menatap istrinya. "Jadi menurut kamu siapa pelakunya? Jelas-jelas yang mau menabrak kita mobilnya Vania." 


Embun mendes@h panjang sambil mengangkat bahu. Meskipun tidak memiliki hubungan yang baik dengan Vania, namun separuh hatinya tidak yakin jika Vania tega mencelakai seseorang.


Aby menggenggam tangannya lebih erat. "Bisa tidak, jangan membahas orang lain dulu? Kita baru memulai semuanya dari awal. Kenapa tidak membicarakan tentang kita aja?"


Embun membalas tatapannya, lalu memulas senyum. 


Tiba-tiba hujan mengguyur deras. Dengan gerakan cepat, Aby membuka jaket dan membentangkan ke atas kepala. Lalu merangkul bahu istrinya menerobos hujan sambil sambil tertawa bersama.

__ADS_1


Sialnya lokasi memarkir mobil cukup jauh dari sana, sehingga saat tiba di mobil, keduanya sudah dalam keadaan basah kuyup. 


"Cepat naik!" 


Aby membuka pintu mobil bagian kiri untuk istrinya. Sementara Embun terduduk dengan memeluk diri kala merasakan tubuhnya seperti akan menggigil. 


Mobil pun melaju cepat.


.


.


.


"Rambutnya di keringkan dulu!" Aby memberikan handuk kecil, kemudian masuk ke kamar mandi. 


Sementara Embun mengeringkan rambut dan juga tubuh yang masih mengenakan pakaian basah. Ia tampak gemetar menahan rasa dingin yang melingkupi tubuhnya. 


Tak lama berselang, Aby keluar dari kamar mandi. Tatapannya langsung tertuju kepada istrinya yang berdiri dalam posisi membelakangi sambil mengusap wajah dengan handuk. Pakaian yang basah itu membuat lekukan tubuhnya yang ramping terlihat sangat jelas dan menggoda.


Embun merinding saat merasakan tangan kekar itu melingkar erat di perutnya. Hawa dingin yang sempat ia rasakan berubah menjadi rasa panas.


Apalagi setelah menyadari Aby hanya menggunakan handuk di pinggang, yang memamerkan dadanya yang kokoh. Kini mereka saling berhadapan dalam posisi yang sangat dekat. Hingga Embun dapat merasakan hangatnya hembusan napas suaminya itu.


Aby mendekatkan wajahnya hingga hanya tersisa jarak kurang dari satu jengkal. Embun merasakan jantungnya berdentam lebih cepat saat tatapan mereka bertemu.


Aby pun berbisik pelan,


"Aku sudah siapkan air hangat di kamar mandi. Kita mandi bareng, yuk!"


Embun semakin berdebar mendengar ajakan suaminya yang mendadak terasa sangat me$um itu.


"Nggak mau!"


Kemudian berlari cepat ke kamar mandi dan menutup pintu dengan tergesa-gesa.


Aby hanya terkekeh menatap pintu yang baru saja tertutup. Ia akhirnya memilih membersihkan diri kamar mandi sebelah.

__ADS_1


Gini amat nasib si Ntong!


****


__ADS_2